Tampilkan postingan dengan label antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antropologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

Struktur social dan konflik social


Struktur social timbul atas pengaruh tiga hal yaitu global (capital), Negara/Pemerintahan, dan modal domestic. Dengan hadirnya tiga hal tersebut menyebabkan munculnya struktur social. Struktur social terbagi atas tiga yaitu elit, kelas menengah, dan masyarakat bawah. Kelas-kelas tersebut yang menjadi standard struktur social. Pelapisan social juga didasarkan dari gabungan ekonomi, religi, dan cultural. Yang tertinggi adalah mereka yang memiliki ketiganya, baik ekonomi, religi, dan cultural. Ini yang dihadapi di desa-desa.
Dari sebuah hubungan social pasti melahirkan peristiwa social. Salah satunya adalah konflik. Konflik lahir merupakan gabungan dari ekonomi, religi, dan cultural. Konflik merupakan gejala yang melekat dalam suatu masyarakat juga disebabkan karena kelas-kelas tersebut yang juga merupakan kelompok social memiliki kepentingan yang satu sama lain bertentangan. Selain dapat disebabkan karena kesenjangan social (jika dapat dikatakan termasuk dalam hal ekonomi).
Jelas saja konflik tidak dapat dielakkan karena dalam masyarakat selalu terjadi perubahan-perubahan social. Pada akhirnya terjadi konflik kelas, konflik simbolik, dan konflik komunal. Konflik social juga terjadi di Desa Mangun Jaya Kelurahan Purwokerto Lor. Konflik lebih disebabkan karena gabungan dari ekonomi dan religi.  
Berawal dari sebuah program pemerintah tentang penanggulangan kemiskinan. Pelaksanaan dilakukan dalam tiga bidang, yaitu social, lingkungan, dan ekonomi. Untuk bidang yang pertama dan kedua telah dilaksanakan dengan sukses. Namun, bidang yang ketiga belum dilaksanakan. Atau lebih tepatnya tidak akan dilaksanakan. Dalam hal ekonomi, bentuk programnya berupa dana pinjaman bergulir untuk usaha masyarakat setempat.
Proses pelaksanaan bidang social dan lingkungan dilakukan melalui rembug warga, sesuai dengan panduan pelaksanaan program dari pusat. Namun, tidak begitu dengan program ekonomi. Pelaksanaan program ekonomi diputuskan untuk tidak dilaksanakan. Keputusan bukanlah hasil rembug warga tapi berdasar penilaian individu (jajaran RT) terhadap warga yang akan menerima bantuan dana bergulir tersebut. Penilaian elit itu berupa ketidakpercayaan pada kembalinya dana pinjaman bergulir tersebut. Hal ini membuat konflik antara masyarakat bawah dan elit.
Kepentingan masyarakat bawah untuk mendapatkan dana usaha terhambat karena kepentingan lain dari si elit. Struktur social yang menempatkan si elit pada kelas tertinggi (karena ekonomi dan religi) menjadikan keputusan yang sebelumnya keputusan sepihak “dianggapnya” menjadi keputusan bersama. Hal itu terjadi karena kewenangan dan kekuasaanya. Begitupan juga dengan elit yang lain menyetujui pendapat tersebut karena melihat kelasnya. Masyarakat bawah tidak dapat berbuat apa-apa karena adanya paksaan dari kelas dominan dalam masyarakat. Terlebih symbol religi telah melekat pada elit tersebut. Dimana symbol ini menjadi penguatan atas posisi tawar elit dalam masyarakat. Pada masyarakat desa umumnya, gelar haji sangatlah dihormati.
Melihat contoh di atas mengenai pengaruh yang begitu besar oleh elit, mengingatkan pada pendapat Weber bahwa sumber pengaruh kekuasaan adalah orang yang mempunyai kekuasaan tersebut. Sekaligus elit memiliki kewenangan untuk menyetujui atau tidak menyetujui suatu rencana program. Dengan hak perintah yang didapat karena kewenangan yang dimiliki, maka dominasi terjadi.
Dalam buku himpunan teori-teori politik dijelaskan bahwa konflik terjadi dalam masyarakat karena distribusi kewenangan yang tak merata, sehingga bertambah kewenangan pada suatu pihak dengan sendirinya mengurangi kewenangan pihak lain.oleh sebab itu konflik merupakan gekala yang melekat di masyarakat. Yang dapat dilakukab nasyarakat adalah mengatur konflik itu agar konflik yang terjadi tidak berlangsung secara kekerasan. Begitu pula di desa Mangun Jaya ini, konflik social yang terjadi tidak dalam bentuk kekerasan.    

Referensi :
Surbakti, Ramlan. Himpunan Teori-Teori Politik. Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Surabaya.

Proses pemberdayaan respek: terhadap desa


Proses pemberdayaan respek:
Program respek dilaksanakan akhir 2007 dengan kucuran dana sebesar Rp 100 juta ke setiap kampung untuk mendorong percepatan pembangunan kampung. Dana tidak langsung digulirkan. Selama empat bulan, tim mempersiapkan infrastrukturnya berupa persiapan tenaga pendamping kabupaten dan distrik, membuka jaringan Bank Papua ke kampung-kampung untuk menyalurkan dana. Karena Bank Papua yang dipercaya pemerintah untuk menyalurkan dana Respek. Selain itu, dilakukan juga koordinasi antarinstansi teknis tingkat provinsi dan kabupaten/kota serta memberikan pembekalan bagi para kepala kampung dan lainnya.
Dalam hal pemberian dana, masyarakat ikut dilibatkan. Pemberian Rp 100 juta rupiah dari Pe­merintah Provinsi Pa­pua diberikan kepada ma­sing-masing kampung. Untuk mencegah terjadinya korupsi, ada beberapa prin­sip yang ditetap­kan. Pertama, dari manapun uang itu, ha­rus ma­suk ke satu rekening yaitu reke­ning kampung yang dibuka di Bank Pem­bangunan Papua. Untuk menggunakan da­na ter­se­but, harus dilakukan musya­wa­rah seluruh kampung, bukan musya­wa­rah badan musyawarah. Masyarakat kam­pung du­duk bersama dengan fasili­tator yang disiapkan pemerintah yang menjelaskan kepada masyarakat, bukan memaksa ke­hendak.
Program respek salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Salah satunya adalah di Kab. Jayawijaya. Dalam proesnya perempuan dipilih untuk mendapat pelatihan kepemimpinan dari BPP Papua, yang selanjutnya melalui pendampingan dari Fasilitator Program RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) Pemprov Papua. Kemudiam menginisisasi pembentukan kelompok ibu-ibu dan merintis Gerakan Sayang Ibu di kampungnya masing-masing. Kelompok ini difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam bentuk pelatihan dan inisiasi usaha ekonomi keluarga melalui aplikasi teknologi tepat pengolahan tepung ubi dan keladi yang banyak diproduksi di Wamena. Dengan pengolahan ini maka ada nilai tambah yang dapat diperoleh bagi usaha kelompok ibu-ibu, selain dapat memperkuat ketahanan pangan karena tepung ubi dan keladi relatif mempunyai daya simpan yang lebih baik di samping dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bermanfaat bagi asupan gizi anak-anak Papua.   
Kegiatan respek lain termasuk di dalamnya adalah perbaikan nutrisi dan ma­kanan, perbaikan kesehatan, pendidik­an, perumahan, ekonomi rakyat, per­baik­an infrastruktur kampung termasuk di dalam­nya air bersih, energi dan te­le­komunikasi. Dengan ini diharapkan ketika masya­rakat kampung disiapkan secara baik maka ketika investasi ma­suk, mereka menjadi bagian dari investasi tersebut.
Yang menjadi pertanyaa dalam prosesya bahwa ada program-program pembangunan yang tidak terkait dengan Respek tapi dilaksanakan dengan dana Respek. Seperti pembangunan jalan, jembatan, rumah warga. Batasan program yang bisa menggunakan dana Respek juga kurang jelas. Seharusnya, dana Respek digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif yang mendorong perubahan dan peningkatan pendapatan masyarakat kampung. Dana Respek tahap pertama lebih banyak dihabiskan untuk membiayai infrastruktur.

Pemberdayaan masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap Negara dihadapkan pada tantangan baru. Globalisasi dan perdagangan bebas makin membuat batas antar Negara seakan tidak ada lagi. Perkembangan ekonomi makin mengglobal. Hal ini mengakibatkan pasar domestic dan pasar internasional makin tipis batasnya. Menipisnya batas menjadikan persaingan semakin berat. Implikasinya, pertimbangan keunggulan kompetitif menjadi factor utama untuk dapat bertahan.
Untuk dapat bertahan, maka tiap Negara harus dapat bersaing dengan Negara lain. Sebagai syarat utama dalam bersaing dengan Negara adalah ketahanan ekonomi. Ketahanan ekonomi menjadi penting karena sebagai syarat demokrasi adalah salah satunya tingkat ekonomi yang tinggi, selain tingkat pendidikan tinggi dan kecerdasan berpolitik tinggi.
Dalam menciptakan ketahanan ekonomi maka diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi penting dalam proses persaingan global yang makin berat. Tujuan dari pemberdayaan masyarakat sendiri adalah untuk memandirikan masyarakat lewat potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Sehingga pemberdayaan dalam pelaksanaanya adalah dari, untuk, dan oleh rakyat.
PNPM (Program Negara Pemberdayaan Masyarakat) hadir di RT 05 RW 03 kelurahan Purwokerto Lor. Sebelumnya, pemberdayaan masyarakat menggunakan nama P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Di Tengah Perkotaan). Masyarakat menjadi subyek dalam program ini. Masyarakat diberdayakan untuk dapat berperan serta aktif melalui program ini.  

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, perumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana kaitan pelaksanaan P2KP dalam upaya pemberdayaan masyarakat?
2.    Bagaiman hambatan dalam pelaksanaan P2KP?
                                                                             
BAB IV
PEMBAHASAN

A. P2KP Dalam Pemberdayaan Masyarakat
            PNPM P2KP nampaknya menjadi hal yang ditunggu oleh masyarakat kelurahan Purwokerto Lor, khususnya di RT 05 RW 03. PNPM P2KP dilaksanakan dalam tiga program yaitu lingkungan, ekonomi, dan social. Di wilayah kelurahan Purwokerto Lor telah dilaksanakan program PNPM P2KP dalam bidang lingkungan dan sosial. Dalam bidang lingkungan yaitu adanya normalisasi saluran drainase. Normalisasi dilakukan karena terjadi pendangkalan pada saluran air, sehingga perlunya upaya pengerukan. Sedangkan dalam bidang social adalah berupa pelengkapan Posyandu. Pelaksanaan program dalam bidang ekonomi belum dapat dilaksanakan karena beberapa hal yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut. 
Pelaksanaan PNPM P2KP mendapatkan bantuan dana baik dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Setiap kecamatan mendapat total bantuan sebesar Rp.500.000.000 per kecamatan. Dalam tiap kecamatan dibagi berdasar banyaknya RT masing-masing kecamatan. Di kecamatan Purwokerto Timur terdapat 44 RT. Maka untuk pembagian besarnya dana yang diterima untuk tiap RT tergantung pada pengajuan proposal anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program oleh masing-masing RT. Secara keseluruhan, baik dalam pelaksanaan program lingkungan dan program social, RT 05 RW 03 mendapat bantuan dana sebesar Rp 9.000.000.
Dari dana yang telah dikeluarkan untuk masing-masing RT, maka dana tersebut perlu dibagi untuk pelaksanaan dua program tersebut. Program lingkungan mendapat bantuan sebesar 6 juta dari pemerintah. Tentu saja, hanya dengan 6 juta saja tidak dapat menutupi keseluruhan pembiayaan normalisasi saluran drainase. Masyarakat sangat berperan penting di sini. Sisa pembiayaan yang dibutuhkan menggunakan hasil swadaya masyarakat. Kontribusi masyarakat cukup besar dalam program lingkungan ini, hingga dapat menutupi setengah dari total pembiayaan. Kontribusi masyarakat termasuk di dalamnya adalah berupa tenaga pelaksana, konsumsi tiap hari selama proses pengerjaan, dan berupa bantuan dana. Dalam  waktu 15 hari dapat dilakukan pengerukan tanah keras sepanjang 200 m untuk menormalkan saluran drainase.
Sebelum diputuskan normalisasi sebagai program yang harus segera dilaksanakan, diadakan musyawarah tentang kebutuhan masyarakat dalam bidang lingkungan. Musyawarah dalam bidang lingkungan dilakukan oleh mayoritas kaum bapak melalui acara arisan yang dilaksanakan tiap minggu. Dalam bidang lingkungan, ternyata masyarakat menyampaikan beberapa pendapat tentang kebutuhan akan lingkungan RT 05 RW 03. Diantaranya adalah pembuatan gudang KGR (gudang peralatan kematian), renovasi siskamling, pemugaran empat rumah warga, dan normalisasi saluran drainase. Karena dana yang tersedia terbatas maka perlu ada prioritas dalam pelaksanaanya. Akhirnya diputuskan oleh warga melalui musyawarah bahwa normalisasai saluran drainase menjadi prioritas utama. Hal ini disebabkan karena sering terjadinya banjir ketika datang hujan lebat di wilayah sekitar  RT 05 RW 03. Dan sekarang, berdasarkan pengakuan warga dan ketua RT setempat, tidak pernaha lagi terjadi banjir.
Selain bidang lingkungan, pelaksanaan P2KP juga diarahkan pada bidang social. Dalam bidang social rencana program dimusyawarahkan oleh mayoritas kaum ibu melalui arisan yang diadakan tiap bulan.  Hanya ada tiga Program Jangka Menengah dalam bidang social. Masyarakat mengusulkan posyandu sebagai prioritas utama, selain bantuan terhadap usia lanjut, dan bantuan terhadap anak putus sekolah. Pelaksanaan bidang social yaitu dengan pengadaan sarana dan prasarana posyandu. Pengadan sarana dan prasarana posyandu dirasa mendesak, Karena peralatan yang sudah ada dirasa kurang lengkap. Sehingga diharapkan dengan pengadaan sarana dan prasarana posyandu masyarakat dapat dimudahkan untuk mengakses kesehatan bagi balita dan dengan pelayanan yang lengkap.
Tahapan PNPM P2KP dilaksanakan melalui, pertama, sosialisasi, kemudian dilanjutkan pada rembug kesiapan warga, refleksi kemiskinan, pemetaan swadaya, pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat, Perencanaan Jangka Menengah, Kelompok Swadaya Masyarakat, dan Bantuan Langsung Masyarakat. Dalam pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat, tiap RT mewakilkan satu orang untuk menjadi salah satu kandidat BKM di kelurahan. Pemilihan BKM ini dilakukan melalui penunjukan oleh warga masyarakat RT 05 RW 03 dalam musyawarah. Tidak criteria yang ditentukan dalam pemilihan calon BKM. Dari empat puluh calon BKM yang diajukan masing-masing RT, hanya akan dipilih menjadi 11 anggota BKM. Untuk wilayah RT 05 RW 03 calon BKM tidak terpilih.
Setelah pembentukan BKM, perlu dibentuk juga KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Untuk pembentukan KSM RT 05 RW 03 tidak ada criteria khusus. Semua dilakukan berdasarkan kesediaan masing-masing warga dan berdasar kepercayaan dari warga. Untuk KSM ada pada tiap RT. Tiap KSM mengajukan satu proposal. Sehingga di RT 05 RW 03 terdapat dua KSM yang sudah terbentuk, satu KSM untuk bidang lingkungan dan satu KSM lain untuk bidang social. Hanya saja untuk KSM bidang ekonomi tidak terbentuk, atau bahkan tidak akan terbentuk. Karena warga masyarakat tidak ada yang mau menjadi KSM untuk bidang ekonomi. Semua tahapan ini dilaksanakan melalui pertemuan warga tiap bulanya yaitu berupa arisan dan dasawisma. Media para Ibu untuk mengungkapkan pendapat melalui dasawisma, sedangan para Bapak dapat melalui arisan bulanan.
Pada akhirnya, pelaksanaan P2KP dalam upaya pemberdayaan masyarakat cukup berhasil dilaksanakan di wilayah RT 05 RW 03. Masyarakat sadar akan kebutuhan bersama dalam program lingkungan dan sosial. Pemberdayaan masyarakat yang berjalan terlihat dari swadaya masyarakat, baik dari segi dana maupun  kegiatan teknis-nya, dan keikutsertaanya dalam musyawarah.
Perubahan yang dirasakan setelah program lingkungan, khususnya, dilaksanakan adalah tidak lagi terjadi banjir saat hujan deras turun yang biasanya terjadi di wilayah Rt 05 Rw 03. Dan yang lebih menariknya lagi adalah pembagian program berdasarkan jenis kelamin terjadi di wilayah ini. Untuk program posyandu ditangani oleh kaum Ibu, sedangkan normalisasi saluran drainase ditangani oleh kaum Bapak.

B. Hambatan Dalam Pelaksanaan P2KP Sebagai Usaha Pemberdayaan Masyarakat
Proses musyawarah sangat ditekankan pada proses pengambilan keputusan di program ini. Begitupun di RT 05 RW 03, sosialisasi mengenai program ini dan proses musyawarah dilakukan bebarengan dengan arisan bulan bapak-bapak maupun ibu-ibu. Hal ini dikarenakan pada saat itulah umumnya para warga berkumpul. Karena agenda penting dalam P2KP adalah pemberdayaan, maka salah satu yang penting di sini adalah proses pengambilan keputusan. Semua warga dipancing untuk mengeluarkan pendapat tentang apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan di lingkungan Purwokerto Lor ini. Masyarakat memang turut aktif untuk hadir dalam forum, namun, lagi-lagi yang mengeluarkan pendapat pada forum hanyalah relawan yang secara ekonomi posisinya dapat dikatakan mampu. Bisa jadi alasan kurang aktifnya dalam memberikan pendapat dikarenakan ada kecenderungan tidak PD saat akan mengungkapkan pendapatnya dari peserta yang dianggap kurang mampu dari yang lain. Secara garis besar salah satu hambatan yang ada pada proses pengambilan keputusan adalah tidak turut sertanya semua warga dalam memberikan pendapatnya. Begitu terlihat, perbedaan antara kalangan ekonomi mampu dan tidak mampu, yaitu berupa dominasi kalangan ekonomi mampu terhadap forum.
Kendala dari program yang telah dilaksanakan sejak April 2007, yaitu terkait jumlah relawan yang minim. Minimnya jumlah relawan dikarenakan kurangnya kesempatan waktu yang dimiliki masing-masing warga untuk secara continue berpartisipasi. Selain itu, juga dikarenakan pengetahuan yang minim mengenai program yang akan dilaksanakan sehingga berdampak pada kurangnya tenaga ahli untuk normalisasi saluran drainase. Pada akhirnya jumlah relawan tersisa hanya lima orang. Kurangnya tenaga teknis berakibat pada pembuatan proposal yang mandeg di tengah jalan. Masyarakat memang sangat antusias akan kedatangan PNPM P2KP. Namun, karena rasa antusias tersebutlah yang menjadikan masyarakat seakan bergantung pada bantuan pemerintah, tidak mandiri melalui swadaya.  Sehingga meskipun tidak memberikan kontribusi secara nyata dalam pemberian pendapat, mereka tetap antusias dan berkontribusi melalui uang.
Kendala lain adalah kurangnya kepercayaan warga antar satu sama lain yang berakibat pada terselesaikannya pembuatan proposal untuk bidang ekonomi. Bahkan, bisa dipastikan program dalam bidang ekonomi akan berjalan alot.  Hal ini terkait dengan persyaratan pembentukan kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai empat orang. Pelaksanaan bidang ekonomi dilaksanakan dengan jalan pemberian dana usaha yang harus dikembalikan lagi pada pemerintah. Dengan ketua sebagai penanggungjawab atas pengembalian dana usaha tiap warga di kelompoknya masing-masing. Namun, kesan yang menempel pada warga Rt 05 Rw 03 Kelurahan Purwokerto Lor akan kebiasaan yang sulit (tidak disiplin) untuk mengembalikan pinjaman. Maka tidak ada orang yang berani mencalonkan diri sebagai ketua kelompok. Karena sebagai ketua kelompok berarti dia harus bertanggung jawab atas pengembaliandana usaha dari anggota kelompoknya.
Sosialaisasi dan musyawar penentuan program dilasksanakan oleh masyarakat melalui arisan baik arisan bapak dan arisan ibu. Ternyata melalui titu penyampaian pendapat menjadi lebih mudah. Masyarakat baik yang mampu maupun kurang mampu dapat memebrukan pendapatnya.
Selain normalisasi saluran drainase, dalam Perencanaan Jangka Menengah juga sedang disiapkan untuk diadakanya bedah rumah, pavingisasi untuk mendapatkan jalan setapak yang ramah lingkungan, gudang KGR (untuk kematian), dan dalam bidang ekonomi. Namun, lagi-lagi beberapa kendala harus dihadapi yang mengakibatkan hanya dua program mampu berjalan. 
Partisipasi Masyarakat dalam Program Pemberdayaan
A.                Alasan Pemilihan Kriteria





BAB V
KESIMPULAN dan SARAN

A.    Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas mengenai kriteria ketua Himapol yang ideal beserta alasanya menurut mahasiswa Ilmu politik 2007 yaitu antara lain:




B.     Saran
Dari penjelasan di atas mengenai kriteria ketua Himapol, maka saran yang dapat diajukan adalah:














DAFTAR PUSTAKA

Faisal, Sanapiah. 2003, Format-Format Penelitian Sosial, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hani Handoko, T. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE UGM. Yogyakarta.

Syamsiar, Indradi, 2000. Pengantar Ilmu Administrasi Negara, Malang

Lexy J Moleong.2003. Metodelogi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Milles, Matthew. Huberman, A.Michael. 1992, Analisis Data Kualitatif. Jakarta:Universitas Indonesia.

Susilo, Martoyo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE. Yogyakarta.

Toha, Miftah. 1984. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta:Rajawali.








Rabu, 27 April 2011

Budaya Jawa

ebudayaan Jawa telah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersukur dan menjaga keharmonisan dengan alam. Memaknai dan memberi warna istimewa terhadap hasil yang telah diperoleh. Memanfaatkannya untuk kepentingan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga adalah presentasi kebudayaan Jawa yang senantiasa diselaraskan dengan alam dan kaya makna dalam ranah kehidupan social.
Kebudayaan Jawa yang sering kali kita dapat bedakan melalui dua kultur masyarakat yang berbeda, little tradision (kebudayaan tradisional petani) dan great tradition (peradaban masyarakat kota) ini dapat diafiliasikan maknanya dalam tradisi selametan sebelum mulai tanam atau panen padi yang sering kali disebut dengan upacara wiwitan. Upacara ini merupakan bagian integral dalam pola pertanian masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih dipertahankan meski gempuran arus modernisasi merambah lini-lini kebudayaan tradisional kita.
Upacara wiwitan ini adalah hasil implementasi dari tiga fase perkembangan kebudayaan Jawa, mulai dari fase mistis, mistis-religius dan fase rasional-religion. Ini juga bisa dikatakan sebagai pandangan dunia (word view) terhadap pandangan masa depan keselamatan dan hasil panen yang berlimpah ruah. Perkembangan budaya mistis Jawa yang dulunya bersandarkan kepada kekuatan diluar diri mereka atau keteraturan alam numen dan numinous kepola pemikran yang lebih rasional telah mengilhami pertanian modern yang lebih mendasarkan diri kepada akal budi.
Perkembangan ini tidak lain karena pola pikir masyarakat yang semakin maju dalam dunia pertanian. Terutama Jawa yang memiliki dua kultur pertanian berbeda yakni petani lahan kering dan lahan basah. Di mana petani lahan kering lebih banyak mengembangkan komoditas tanaman keras atau perkebunan, sejenis tanaman kayu dan buah-buahan. Sedangkan petani lahan basah lebih banyak membudidayakan tanaman padi dan beraneka ragam sayur-sayuran atau tanaman palawija.
Dalam pertanian ini pula kita kenal dengan sistem subak (irigasi). Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekedar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani dan bahwa petani merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tetapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat.
Sistem irigasi ini membuat kita berfikir ulang, selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun, dalam kecepatan itu kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah, bibit ya cuma bibit, padi ya hanya padi, semuanya adalah alat yang melayani manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.
Hal ini sangat kontradiktif sekali dengan falsafah Jawa yang mengajarkan untuk mencintai alam ini. Sebagaimana upacara wiwitan yang dilakukan kaum petani Jawa, yang diselenggarakan sebagai ucapan terimakasih, puji dan sukur kepada Tuhan, pencipta alam semesta. Sebuah tradisi yang biasanya dilakukan untuk menandai dimulainya waktu masa tanam padi atau panen.
Dalam tradisi tersebut seakan mengharuskan pemilik sawah menyediakan jamuan makan bagi tetangga, biasanya berupa nasi megana dan seekor ayam ingkung. Nasi Magana yang disajikan digelar di atas daun pisang yang ditaruh di atas meja, ingkung akan dibagi dengan diiris-iris sesuai undangan yang datang.
Sebelum menyantap hidangan seorang kiai kampung akan membacakan doa keselamatan dan rasa syukur atas dimulainya menanam dan memanen padi. Setelah usai berdoa, sisa makanan akan dibawakan tamu undangan. Tradisi ini bahkan tidak hanya dilakukan di rumah karena wiwitan terkadang juga dilakukan di tengah sawah.
Upacara wiwitan ini tidak hanya menjadi seremonia sewaktu akan menanam atau memanen padi, tetapi juga sebagai salah satu perekat tali persaudaraan antara warga desa, khusunya kaum petani. Lebih-lebih upacara ini merupakan khazanah budaya yang memiliki dimensi sosial sangat tinggi. Karena di dalamnya menanamkan rasa persaudaraan dan solidaritas atar sesama manusia.
Biasanya saat menanam dan memanen padi para petani itu saling membantu petani yang menyelenggarakan upacara wiwitan. Ini merupakan aski solidaritas yang kaya dengan falsafah Jawa “mikul duwur mendem jeru.” Untuk lebih memeriahkan upacara ini warga terkadang juga menggelar kesenian gejon lesung dengan tembang-tembang Jawa yang berisi tentang kemakmuran para petani.
Di samping sebagai wujud syukur tradisi wiwitan ini digelar sebagai bentuk untuk melestarikan ritual budaya yang hampir punah dikalangan petani Jawa. Apalagi di tengah zaman yang kini sekat-sekat sosial kian menonjol. Tradisi wiwitan layak terus dikembangkan oleh petani di desa-desa agar hubungan sosial warga tidak semakin pudar tetapi terus merekat sepanjang zaman.
Niat yang tulus akan diberkahi oleh alam. Alam punya inteljensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan dan cara. Maukah kita mencoba mensyukuri berkah yang telah lama kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucapkan sembarang karena reflek, tetapi dengan setiap kata yang dihayati. Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara putih yang berharga. Memandang mereka sebagai hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan kepada kita, hingga menjadi gugusan-gugusan yang membangun tubuh dan jiwa.

Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya

Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya

Thomas Hylland Eriksen

Penterjemah
Mohamed Yusoff Ismail
Jabatan Antropologi dan Sosiologi
Universiti Kebangsaan Malaysia
(Jun 2001)
 
  1. Antropologi Sosial:
Persamaan dan kelainan budaya

Antropologi ialah falsafah dengan orangnya sekali
-- Tim Ingold

Buku ini mengajak kita mengembara. Pengembaraan yang akan dilakukan itu, pada hemat pengarang, sangat bermanfaat sebagai satu pengalaman hidup pada diri seseorang. Tentu sekali perjalanannya sangat jauh, dan luas pula jelajahan teluk rantaunya. Pembaca akan dibawa dari hutan lembab Amazon hingga ke gurun beku Artik; dari pencakar langit di Manhattan ke rumah tanah liat orang Sahel; dari perkampungan asli di pergunungan New Guinea ke kawasan bandar di benua Afrika moden.
Perjalanan itu juga sangat jauh dalam erti kata yang lain, kerana tumpuan utama antropologi sosial dan antropologi budaya ialah masyarakat secara menyeluruh. Justeru itu antropologi cuba menghuraikan hubungkait antara pelbagai aspek kemasyarakatan dalam kewujudan kita sebagai insan sosial. Misalnya, apabila kita mengkaji sistem ekonomi tradisional orang Tiv di Nigeria Tengah, kita juga, pada masa yang sama, cuba mengetahui bagaimana sistem ekonomi mereka itu berkait pula dengan perkara-perkara lain dalam kehidupan sosial mereka. Tanpa melihat kaitan tersebut dengan teliti, sistem ekonomi itu agak sukar difahami oleh antropologis. Misalnya, kita tahu yang secara tradisionalnya orang Tiv tidak menganggap tanah sebagai barang untuk dijual beli, dan kelazimannya mereka tidak menggunakan mata wang sebagai cara untuk melunaskan bayaran. Justeru itu kita mesti memahami kenyataan ini terlebih dahulu, kalau tidak agak sukar untuk kita memahami dengan jelas bagaimana orang Tiv bertindak apabila mereka berhadapan dengan perubahan ekonomi yang berlaku sewaktu masyarakat mereka berada di bawah kuasa penjajah.
Antropologi cuba menghuraikan bagaimana terdapat perbezaan dari segi sosial dan budaya di muka bumi, tetapi sebahagian penting daripada penelitian antropologi ialah memahami persamaan antara sistem sosial yang berbagai-bagai itu dalam konteks hubungan kemanusiaannya. Seperti yang pernah disebut oleh salah seorang daripada antropologis yang terkemuka dalam abad ke-20, Claude Lévi-Strauss, "Antropologi itu menjadikan manusia sebagai bahan penelitiannya, tetapi berbeza dengan sains kemanusiaan yang lain, antropologi cuba menangani bahan penelitiannya melalui kepelbagaiannya yang sangat luas" (1983, h. 49).
Seorang lagi antropologis yang terkemuka, Clifford Geertz, memberikan pandangan yang sama dalam sebuah karya yang membincangkan perbezaan antara manusia dan haiwan:
Kalau kita ingin mengetahui apa yang membentuk manusia, kita boleh melihatnya daripada manusia itu sendiri: tetapi apa yang menjadikan manusia itu manusia, di antara yang terunggul, ialah kepelbagaiannya. Hanya dengan memahami kepelbagaian ini — baik dari segi jenisnya, bentuknya, asasnya, dan kesannya — barulah boleh kita membentuk satu konsep berkenaan sifat manusia, iatu konsep yang mempunyai isi dan kebenaran, yang bukan dibayangi oleh perangkaan dan gambaran mimpi yang agak kabur. (Geertz 1973, h. 529)
Walaupun di kalangan antropologis terdapat minat yang berbagai-bagai yang seringkali pula ditumpukan kepada sesuatu penelitian yang khusus, tetapi semua antropologis mempunyai kecenderungan yang sama, iaitu keinginan untuk memahami hubungan dalam masyarakat dan juga hubungan antara masyarakat. Perkara ini akan menjadi lebih jelas lagi sebaik sahaja kita memulakan perjalanan kita dengan membincangkan intipati dan teori dalam antropologi sosial dan antropologi budaya.
Sebenarnya terdapat banyak cara untuk menyelidiki hubungan tersebut. Ada pengkaji yang berminat untuk memahami kenapa dan bagaimana orang Azande di Afrika Tengah percaya dengan tukang sihir, mengapa di Brazil tahap perbezaan sosialnya lebih luas daripada yang terdapat di Sweden, bagaimana penduduk di Mauritius menghindari daripada berlakunya rusuhan etnik, atau apa sebenarnya yang telah terjadi kepada gaya hidup cara lama orang Eskimo Inuit semenjak beberapa tahun kebelakangan. Pada umumnya telahpun ada seorang dua antropologis yang pernah melakukan penyelidikan serta telah menulis berkenaan masalah tersebut. Ada pula penyelidik yang berminat meneliti agama, cara membesarkan anak, kuasa politik, kehidupan ekonomi, atau hubungan antara lelaki dengan wanita. Untuk itu sudahpun terdapat sejumlah penulisan profesional oleh antropologis yang dapat memberikan gambaran dan maklumat yang lebih terperinci.
Disiplin antropologi juga berminat untuk menyusuri hubungkait antara pelbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Biasanya antropologis akan memulakan penelitian terhadap perkara tersebut dengan melakukan penyelidikan yang terperinci terhadap kehidupan sosial dalam sesuatu masyarakat yang dipilih atau satu persekitaran sosial yang sempadannya telah dikenalpasti dengan jelas. Justeru itu bolehlah dikatakan bahawa antropologi sentiasa bertanyakan persoalan yang besar dan luas, tetapi pada waktu yang sama mengambil iktibar daripada tempat yang kecil dan terpencil.
Sebelum ini kita biasanya mengaitkan sifat ulung antropologi dengan masyarakat kecil bukan-industri, iaitu berbeza sekali daripada bidang-bidang lain dalam pengajian kemanusiaan. Tetapi gambaran seperti ini sudah tidak begitu tepat lagi kerana dunia sudah banyak berubah, dan begitulah juga halnya dengan disiplin antropologi. Bahkan hampir semua sistem sosial boleh dijadikan bahan kajian antropologi, dan penyelidikan antropologi masa kini membuktikan betapa luas bidang cakupannya, bukan sahaja dari segi empiris tetapi juga dari segi tema dan topiknya.
Sebelum kita melihat dengan lebih dekat sifat-sifat unggul antropologi, ada baiknya jika kita tinjau dahulu sejarahnya. Seperti juga halnya dengan bidang sains sosial yang lain, antropologi moden adalah satu disiplin ilmiah yang agak baru. Sifatnya seperti yang terdapat dewasa ini sebenarnya terbentuk dalam abad ke-20, tetapi bibitnya sudah lama tersemai dalam bidang ilmu lain yang berkaitan seperti historiografi, geografi, catatan pengembara, falsafah dan undang-undang zaman silam.
Teori Berkenaan Masyarakat Primitif
Memang terdapat banyak cara untuk menulis sejarah perkembangan antropologi. Jika kita perhatikan dengan lebih mendalam, kita akan mendapati bahawa perkara pokok perbincangan antropologi telah lama berakar umbi dalam penulisan Herodotos, ahli sejarah berbangsa Yunani (sekitar 484-420 Sebelum Masehi), atau dalam karya Strabo, seorang ahli geografi (sekitar 64-32 Sebelum Masehi). Kedua-duanya merupakan perintis dalam pemerihalan bercorak etnografis; mereka menulis dengan begitu jelas tentang masyarakat di tempat lain. Pemerihalan mereka tentang adat resam, bahasa, dan ‘keganjilan’ masyarakat asing dilakukan dengan seberapa jelas yang mungkin, dan biasanya tanpa melibatkan sebarang penilaian moral. Herodotos mungkin bersetuju dengan pandangan semasa di kalangan antropologis bahawa setiap masyarakat itu mestilah difahami dan dilihat dari kaca mata masyarakat itu sendiri. Walaupun Herodotos dan Strabo bergantung kepada sumber-sumber lain dalam penulisan mereka, tetapi jelas sekali bahawa mereka menggunakan sumber tersebut dengan penuh berhati-hati, kerana pada pendapat mereka sesuatu kenyataan yang dibuat oleh seseorang itu hanya dapat disahkan kebenarannya jika kita sendiri yang melakukan pemerhatiannya. Dalam hal ini mereka bolehlah dianggap sebagai ahli sains sosial ‘sebelum zaman persuratan’ (avant la lettre).
Sejarah perkembangan antropologi moden boleh juga dikatakan bermula dengan ahli falsafah abad ke-18 seperti David Hume dan Immanuel Kant. Hume, salah seorang daripada ahli empirisis British (sama seperti Locke dan Berkeley), menghujahkan bahawa pengalaman sendiri adalah satu-satunya sumber kepada pengetahuan sebenar yang boleh dipercayai. Beliau kemudiannya mempengaruhi dengan kuat para ahli sains sosial empiris, yang terdiri daripada beberapa orang pengasas yang terus terang menolak pegangan bahawa tanggapan dan tekaan boleh dijadikan sumber pengetahuan yang sah. Bagi golongan ini mereka sanggup keluar mengembara ke alam sosial serta menggunakan mata dan telinga untuk mengalami secara peribadi keadaan sebenar (perkataan ‘empiris’ sebenarnya bermakna ‘berasaskan pengalaman’). Kant pula telah cuba menolak beberapa pendapat Hume, dan beliau menghujahkan bahawa manusia mempunyai daya pemikiran atau kebolehan mental yang sama, yang dikatakan terletak pada cara mereka berfikir. Dalam perkataan lain, Kant berpendapat bahawa manusia itu dilahirkan dengan satu ‘formula’ tunggal untuk berfikir; justeru itu manusia di segenap pelusuk dunia berfikir dengan cara yang hampir sama. Usulan ini, yang berhubung dengan tret pemikiran yang sejagat (universal mental traits), telah menjadi satu fokus perbincangan yang penting dalam perkembangan antropologi moden.
Kebanyakan penulisan berkenaan sejarah antropologi bukan bermula dengan Herodotos atau Kant, tetapi dengan cendekiawan pertengahan abad ke-19. Asas kepada antropologi moden dapat dikaitkan dengan buku Ancient Law (1861) oleh Henry Maine dan beberapa buah buku Lewis Henry Morgan, termasuk Ancient Society (1877). Kedua-dua orang pengarang telah membina beberapa teori tentang ‘masyarakat primitif’, dan pandangan mereka terus berpengaruh sehingga jauh ke dalam abad ke-20. Maine, yang pernah menjalankan penyelidikan di India, telah mengemukakan perbezaan asas antara masyarakat yang berasaskan hubungan status dengan yang berasaskan hubungan kontrak, iaitu dua konsep kembar yang kemudiannya ternyata telah banyak mempengaruhi kita dalam membezakan masyarakat ‘tradisional’ daripada masyarakat ‘moden’. Dalam masyarakat yang berteraskan hubungan status atau yang tradisional sifatnya, Maine menegaskan bahawa faktor kekerabatan sangat penting dalam menentu-kan kedudukan seseorang; manakala dalam masyarakat yang berteraskan hubungan kontrak, kedudukan sosial seseorang itu ditentukan oleh pencapaian peribadinya berdasarkan kebolehan dan kepandaiannya.
Sumbangan Morgan yang sangat penting terhadap perkembangan awal antropologi ialah teori evolusi sosialnya. Beliau mengemukakan tiga tahap utama dalam evolusi atau perkembangan sesuatu masyarakat: savagery, barbarism, dan tamadun. Pada tahap savagery (liar buas), manusia hidup dengan memburu serta meramu; pada tahap barbarism (liar ganas), pertanian dan menternak haiwan menjadi cara hidup mereka; sementara masyarakat yang sudah mencapai tahap tamadun mempunyai sistem persuratan dan mampu membentuk sistem pemerintahan berkerajaan atau state.
Tahap perkembangan masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Morgan adalah salah satu daripada bentuk teori evolusi dalam abad ke-19. Antara yang sangat terkenal, dan yang pastinya sangat kompleks, ialah teori perkembangan sosial perjuangan kelas yang dipelopori oleh Karl Marx (lihat Bab 9). Walaupun Marx adalah seorang pemikir yang jauh lebih unggul daripada Morgan, tetapi Morganlah yang lebih penting dari segi sumbangan terhadap perkembangan awal antropologi kerana menumpukan minatnya terhadap masyarakat bukan-industri, dan juga kerana cara beliau menggunakan dengan teliti sumber-sumber etnografis.

Evolusionisme dan Difusionisme
Satu ciri antropologi pada abad ke-19 ialah pegangan kepada evolusi sosial — iaitu pendapat bahawa masyarakat berkembang mengikut arah yang tetap dan sehala — serta anggapan bahawa masyarakat Eropah adalah hasil yang terbentuk di penghujung perjalanan tersebut, yang semestinya mengambil masa yang sangat lama, bermula dengan tahap liar buas (savagery). Pandangan seperti ini menjadi satu kelaziman dalam zaman Victoria selain daripada kepercayaan bahawa kemajuan dan pencapaian teknologi yang mereka miliki itu adalah kemuncak kepada keunggulan mereka. Pada zaman yang samalah dasar penjajahan Eropah mula berkembang ke tempat lain. Bagi orang Eropah penjajahan perlu dilakukan kerana mereka mempunyai tanggung jawab untuk membela nasib masyarakat di luar Eropah selari dengan apa yang disebut oleh Rudyard Kipling sebagai ‘beban orang kulit putih’ (white man’s burden) -- kononnya orang Eropahlah yang bertanggungjawab dalam ‘mentamadunkan orang liar buas’ (to civilise the savages). Teori evolusi Charles Darwin, yang pertama kali diperkenalkan dalam bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection (1859), juga telah mempengaruhi kuat pemikiran intelektual dalam separuh kedua abad ke-19. Penyokong kuat Darwin, Herbert Spencer, telah mengemukakan aliran pemikiran Dawinisme Sosial, yang berpegang kepada pendapat bahawa masyarakat berkembang mengikut cara yang sama seperti yang dilalui oleh spesies haiwan dari segi adaptasi persekitaran, iaitu melalui persaingan sesama sendiri sehingga tinggal yang terunggul dan terkuat sahaja (survival of the fittest).
Satu lagi aliran pemikiran antropologi dalam abad ke-19 ialah difusionisme yang berpusat di Jerman, iaitu aliran yang berkaitan dengan penyebaran tret budaya mengikut kawasan geografis. Jika sekiranya golongan evolusionis berpendapat bahawa setiap masyarakat mempunyai keupayaan dalaman untuk mengalami perubahan, golongan difusionis pula berusaha untuk membuktikan bahawa kewujudan sesuatu tret budaya itu biasanya dibawa masuk dari luar. Walaupun sering terdapat percanggahan pendapat antara dua golongan tersebut, pada prinsipnya difusionisme tidak semestinya berlawanan sama sekali dengan evolusionisme; kedua-dua pendekatan pernah dan mungkin boleh diterima tanpa berat sebelah kepada mana-mana pihak. Dalam antropologi, minat terhadap difusionisme mula menurun sekitar Perang Dunia Pertama, kerana pada masa itu kebanyakan penyelidik telah menukar kaedah penyelidikan masing-masing dengan menumpu kepada satu-satu masyarakat secara mendalam tanpa menghiraukan sejarah perkembangan masyarakat berkenaan. Walaubagaimanapun, satu aliran teori yang mirip kepada difusionisme mula kembali dalam tahun 1990an, iaitu di bawah nama ‘globalisasi’ atau pensejagatan (lihat Bab 18). Pendekatan globalisasi cuba memahami dan menghuraikan bagaimana sistem perhubungan moden, penghijrahan penduduk, sistem kapitalis dunia dan pelbagai fenomena lain yang bersifat ‘global’ atau ‘sejagat’ mempengaruhi cara hidup penduduk tempatan di segenap pelusuk dunia.
Pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, muncul cendekiawan British seperti Edward Tylor, James Frazer dan W. H. R. Rivers. Melalui merekalah kita diperkenalkan dengan antropologi sosial moden. Tylor telah menulis tentang pelbagai tajuk, tetapi yang terpenting ialah takrifan ‘budaya’ yang digubal oleh beliau dalam tahun 1871. Oleh kerana takrifannya itulah Tylor terus diingati dalam sejarah perkembangan antropologi. Takrifan yang terkenal itu berbunyi: "Budaya atau tamadun, dalam erti kata etnografis yang luas, ialah gagasan keseluruhan yang merangkumi pengetahuan, kepercayaan, seni, tata susila, adat, dan apa sahaja kebolehan dan tingkah laku yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat’ (Tylor 1968 [1871]). Sehingga hari ini takrifan yang mula-mula sekali dibuat oleh Tylor terhadap ‘budaya’ masih lagi dianggap berguna oleh ramai antropologis.
Anak murid Tylor, James Frazer, telah menulis The Golden Bough (1890) dalam 12 jilid, iaitu sebuah karya yang sangat tebal walaupun dalam bentuk yang sudah diringkaskan (Frazer 1974 [1922]). Kandungannya terdiri daripada perbandingan yang sangat luas tentang agama dan ritus, serta pelbagai bentuk maklumat etnografis yang terperinci yang sangat bernilai dari segenap pelusuk dunia. Tylor dan Frazer adalah evolusionis, dan usaha utama Frazer dalam teorinya bertujuan membuktikan bagaimana pemikiran manusia itu berkembang, mula-mula dari tahap magis, kemudian ke tahap keagamaan, dan seterusnya ke tahap saintifik.
Tylor dan Frazer tidak pernah melakukan sebarang penyelidikan lapangan secara mendalam, walaupun Tylor sendiri pernah tinggal buat beberapa tahun di Mexico dan menulis sebuah buku di sana. Satu cerita yang diketahui ramai mengesahkan bagaimana William James, seorang ahli falsafah yang disegani, pernah bertanya kepada Frazer, sewaktu sama-sama menghadiri sebuah majlis makan malam, sama ada Frazer sendiri pernah bergaul dengan ahli masyarakat liar yang telah begitu banyak diperihalkan olehnya. Jawapan Frazer dikatakan sangat menakjubkan, kerana dengan nada yang terkejut beliau menjawab "Minta dijauhi tuhan hendaknya!’ (Evans-Pritchard 1962).
Keadaannya agak berlainan pula dengan W. H. R. Rivers dan rakan-rakannya, termasuk A. R. Haddon dan Charles Seligman. Mereka tidak bergantung sangat kepada laporan yang ditulis oleh mubaligh dan pengembara, yang kadang kalanya tidak begitu tepat. Sebaliknya mereka sendiri telah keluar ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. Rivers dan rakan-rakannya telah mengambil bahagian dalam sebuah lawatan penyelidikan ke Selat Torres (terletak di antara New Guinea dan Australia) dalam tahun 1898. Lawatan itulah yang dianggap oleh ramai sarjana sebagai pembuka tirai kepada era baru kerja lapangan dalam amalan antropologi moden.
Kemunculan Antropologi Moden
Franz Boas dan Bronislaw Malinowski seringkali dianggap sebagai antropologis moden yang pertama. Boas berketurunan Jerman, tetapi telah berhijrah ke Amerika Syarikat dalam tahun 1880an untuk mengkaji suku bangsa peribumi Amerika. Beliau sendiri telah melakukan penyelidikan yang terperinci di kalangan orang Inuit dan beberapa kaum lain, dan beliaulah satu-satunya orang yang telah menubuhkan tradisi antropologi budaya di Amerika. Beberapa orang antropologis yang terkenal seperti Alfred Kroeber, Ruth Benedict dan Margaret Mead berguru dengan Boas. Pengaruh beliau berkembang dengan mendalam dalam banyak bidang penyelidikan, tetapi sumbangannya yang terulung ialah dalam doktrin relativisme budaya (cultural relativism), iaitu pendapat bahawa sesuatu budaya itu mestilah difahami mengikut logik budaya masyarakat berkenaan. Mengikut pandangan tersebut agak mengelirukan dari segi analisis jika setiap budaya itu disusun mengikut tinggi rendah di atas anak tangga evolusi. Relativisme budaya masih lagi berguna sebagai alat dalam metodologi penyelidikan hingga hari ini; perhatian mendalam tentang pendekatan ini akan diberikan kemudian dalam buku ini.
Malinowski dilahirkan di Poland, tetapi beliau telah berhijrah ke Britain dalam tahun 1910. Sumbangan beliau yang sangat penting ialah penulisannya yang sangat terperinci lagi mendalam tentang kehidupan sosial di Kepulauan Trobriand yang terletak tidak jauh dari New Guinea. Kerja lapangan beliau di sana berterusan sehingga lebih dari dua tahun, iaitu dari tahun 1915 hingga 1918. Kerja lapangan seperti yang dilakukan oleh Malinowski, yang melibatkan hubungan rapat dan berterusan dengan penduduk tempatan, telah menjadi satu-satunya contoh penyelidikan yang terus menerus dikagumi dan ditauladani oleh generasi antropologis yang menyusul kemudian. Malinowski telah menekankan peri pentingnya dikaji hubungkait antara pelbagai aspek sosial dalam masyarakat, dan seterusnya berpendapat bahawa kerja lapangan yang memakan masa yang lama adalah sesuatu yang sangat penting. Satu perkara lagi yang sangat mustahak mengikut pengalaman Malinowski ialah kemahiran bertutur dalam bahasa tempatan. Monograf yang ditulis oleh Malinowski, Argonauts of the Western Pacific (1922) telah menjadi sebuah buku klasik dengan serta merta kerana pemerihalan etnografisnya yang sangat menyeluruh dan sistematis, serta kekuatannya dalam memberikan keyakinan kepada pembaca akan peri pentingnya mengkaji sesuatu fenomena sosial atau budaya itu secara mendalam dan menyeluruh.
Salah seorang daripada rakan sebaya Malinowski, yang juga tidak kurang hebatnya dari segi sumbangan kepada perkembangan antropologi, ialah A. R. Radcliffe-Brown. Beliau banyak dipengaruhi oleh ahli sosiologi Perancis yang terkenal, Émile Durkheim, melalui penulisannya berkenaan dengan kesepaduan sosial. Durkheim juga telah banyak menulis tentang pembahagian kerja (division of labour) dalam masyarakat ‘primitif’, dan juga berkenaan dengan agama dan totemisme (lihat Bab 13 dan 14). Bagi beliau masyarakat boleh dilihat sebagai satu gagasan organik yang menyeluruh yang terdiri daripada beberapa bahagian. Bahagian-bahagian ini, yang boleh disamakan dengan individu atau institusi sosial, memainkan peranan tertentu dalam memenuhi tuntutan dari segi fungsi sosialnya. Dengan perkataan lain bahagian inilah yang memainkan peranan penting dalam menyumbang kepada kestabilan masyarakat. Radcliffe-Brown telah menggunakan teori sosial Durkheim untuk menganalisis bahan etnografis yang dikumpulnya sendiri dan juga bahan etnografis beberapa penyelidik lain yang mengkaji pelbagai masyarakat ‘primitif’. Beliau memberi tekanan bahawa sesuatu masyarakat hendaklah dikaji dalam keadaan semula jadi dan persekitaran sebenar. Pendirian ini adalah lebih baik daripada pendekatan yang menggunakan kaedah persejarahan tekaan (conjectural history) seperti yang cenderung dilakukan oleh antropologis daripada generasi sebelumnya. Bahkan, kedua-dua orang antropologis, iaitu Malinowski dan Radcliffe-Brown, pernah memperlihatkan sikap kurang senang kaedah persejarahan budaya.
Radcliffe-Brown dianggap sebagai pengasas kepada pendekatan struktural-fungsionalisme dalam antropologi. Doktrina ini adalah berkenaan dengan peranan pelbagai institusi sosial dalam menyumbang kepada kestabilan masyarakat. Malinowski sendiri bukan seorang struktural-fungsionalis, biarpun beliau mengaku dirinya menggunakan pendekatan fungsionalis. Radcliffe-Brown dan pengikutnya berpendapat bahawa setiap individu dalam masyarakat, berserta dengan tindak tanduknya, sebenarnya adalah ‘hasil sampingan’ daripada kewujudan masyarakat yang merupakan lembaga yang lebih besar dan menyeluruh. Dalam hal ini tugas individu ialah menyumbang kepada kesepaduan dan keutuhan masyarakat dari segi maknanya yang lebih mendalam. Malinowski pula mempunyai pandangan yang berlainan; bagi beliau kewujudan masyarakat itu adalah untuk memenuhi kepentingan individu, bukan sebaliknya. Perbezaan pendapat antara kedua-dua tokoh, yang bermula pada masa perkembangan awal antropologi moden, berlarutan sehingga ke hari ini. Sesetengah antropologis berpendapat bahawa kewujudan masyarakat itu adalah ‘hasil sampingan’ yang tidak dirancang yang terbentuk daripada tindak tanduk manusia; sementara sesetengah antropologis pula menganggap bahawa individu atau orang perseorangan itu adalah hasil daripada wujudnya masyarakat.
Banyak lagi yang boleh disebut tentang tokoh-tokoh penting yang telah mewarnai pemikiran antropologi masa kini. Durkheim, dengan aliran pemikiran sosiologi Perancisnya, telah mempengaruhi perkembangan antropologi dengan begitu meluas sekali. Anak saudara beliau, Marcel Mauss, telah menulis beberapa karya, tetapi yang terpenting ialah berkenaan peranan hadiah dalam kehidupan sosial, Essai sur le don (The Gift, 1954 [1925]; lihat Bab 11). Lucien Lévy-Bruhl, rakan sebaya Mauss, telah menulis buku berkenaan pelbagai bentuk dan cara berfikir, iaitu penulisan yang akhirnya telah mencetus perdebatan hangat, berpanjangan dan begitu kompleks, berhubung dengan cara berfikir masyarakat ‘primitif’-- sama ada cara dan bentuk mereka berfikir itu jauh berbeza dengan bentuk dan cara berfikir orang ‘moden’ (lihat Bab 14). Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa, juga mesti disebut dalam konteks perdebatan yang sama kerana sumbangannya yang penting. Penulisan beliau berkenaan dengan struktur bahasa telah menjadi sumber ilham kepada salah satu daripada aliran pemikiran antropologi yang terulung dalam abad ini, iaitu strukturalisme, yang dipelopori oleh Claude Lévi-Strauss (Bab 7 dan 8).
Sigmund Freud, dengan teori psikoanalisisnya, juga mempunyai pengaruh yang kuat terutama sekali terhadap perkembangan antropologi di Amerika. Akhir sekali, tradisi sosiologi Jerman klasik, daripada Karl Marx, Ferdinand Tönnies, Max Weber dan lain-lain, terus menerus mempunyai pengaruh yang kuat ke atas pemikiran antropologi sosial masa kini. Dalam bab-bab seterusnya kita akan kembali semula membincangkan aliran pemikiran yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh agung dalam perkembangan teori sosial.
Tradisi Berlainan dalam Antropologi
Antropologi adalah satu bidang yang luas liputannya dan pelbagai pula sifatnya, yang diamalkan dalam bentuk yang berbeza-beza bergantung kepada tempat dan keadaan. Namun demikian antropologi masih tetap mempunyai sifatnya yang khusus walau di manapun diamalkan. Semenjak Perang Dunia Kedua, antropologi mendapat tempat penting di Great Britain, Amerika Syarikat, Perancis dan Australia. Antropologi British, yang umumnya lebih dikenali sebagai antropologi sosial, juga mempunyai kedudukan yang kuat di negara-negara Scandinavia dan India. Penekanannya adalah terhadap penelitian ke atas proses sosial; justeru itu sifatnya lebih dekat kepada sosiologi. Ahli antropologi sosial British, Edmund Leach (1982), pernah menyatakan bahawa kajiannya tidak lain dan tidak bukan adalah ‘sosiologi mikro perbandingan’ (comparative micro-sociology). Di Amerika Syarikat, orang lebih berminat untuk menggunakan istilah antropologi budaya, dan secara umumnya pengaruh sosiologi tidak begitu ketara seperti yang dapat kita lihat dalam tradisi antropologi sosial British. Namun demikian antropologi di Amerika telah banyak dipengaruhi bentuknya oleh linguistik dan pra-sejarah. Beberapa bentuk pengkhususan dalam sub-bidang antropologi seperti ekologi budaya, antropologi linguistik, serta pendekatan yang menggembeling kaedah psikologi dan interpretive anthropology atau hermeneutic anthropology, lahir di Amerika.
Perkembangan antropologi Perancis dalam zaman selepas perang mempunyai kaitan yang rapat dengan strukturalisme (lihat Bab 7), terutama sekali dengan sarjana seperti Claude Lévi-Strauss, Louis Dumont dan Maurice Godelier yang terkenal sebagai strukturalis yang menggunakan pendekatan Marxist. Antropologi Perancis juga mempunyai pengaruh yang kuat di Amerika Selatan, Itali dan di Semenanjung Iberia, serta sebahagiannya di Belgium dan Belanda.
Kepelbagaian pendekatan dalam antropologi seperti yang dinyatakan di atas tidak semestinya dibesar-besarkan. Walaupun terdapat perbezaan pada masa lepas (dan juga dewasa ini) antara mereka yang mengamalkan antropologi secara profesional di negara-negara tertentu, perkara pentingya ialah disiplin antropologi itu pada hakikatnya tetap satu — biarpun disiplin ini mempunyai pelbagai pengkhususan serta merangkumi pula aliran pemikiran yang berlainan. Dalam buku ini kita tidak banyak membezakan antara antropologi budaya dengan antropologi sosial, tetapi satu perkara yang harus diingat ialah pengembaraan kita bertolak daripada pendekatan antropologi sosial. Misalnya, dalam bab yang membincangkan konsep-konsep teoritis (Bab 3-5) sebahagian besar daripada kandungannya diasaskan kepada teori-teori sosiologi. Dari segi perspektifnya, buku ini bersifat perbandingan dalam erti kata bahawa setiap contoh atau kes yang dipaparkan itu dibandingkan, sama ada secara langsung atau tidak langsung, dengan fenomena yang sama dalam masyarakat yang berlainan.
Perisian Antropologi Secara Ringkas
Jadinya, apakah itu antropologi? Biarlah kita mulakan dengan etimologi atau asal usul istilahnya. Antropologi terdiri daripada dua patah perkataan Greek, anthropos dan logos, yang boleh diterjemahkan kepada ‘manusia’ dan ‘huraian’. Oleh itu antropologi bermakna ‘huraian tentang manusia’ atau ‘pengetahuan tentang manusia’. Sosial antropologi pula bermakna pengetahuan tentang manusia dalam masyarakat. Takrifan tersebut sudah tentulah merangkumi bidang sains sosial yang lain, tetapi buat permulaan takrifan ini sudah memadai.
Istilah culture (budaya) yang sangat penting dalam disiplin antropologi berasal daripada perkataan Latin colere, iaitu kata kerja yang bermakna ‘mencambah’ (cultivate). (Perkataan Inggeris colony juga mempunyai asal usul yang sama). Tetapi dalam hal ini apa yang dimaksudkan dengan perkara yang ‘dicambah’ itu ialah ‘budaya’, yang merupakan aspek kehidupan yang menjelma bukan secara semula jadi. Proses ini mesti dilalui dan dicapai oleh seseorang individu sebelum ia menjadi anggota sesuatu masyarakat. Oleh itu dalam antropologi ungakapan ‘mencambah budaya’, dalam pengertian yang lebih luas, membawa maksud ‘menanam kemampuan berbudaya seseorang manusia’. Antropologi budaya pula bermakna ‘pengetahuan berkenaan dengan manusia yang dicambah dengan budaya.’
Dalam penggunaannya dalam bahasa Inggeris istilah culture atau ‘budaya’ merupakan salah satu daripada dua atau tiga perkataan yang sangat rumit dan sangat bermasalah dari segi huraiannya (Williams 1981, h. 87). Pada awal 1950an Clyde Kluckhohn dan Alfred Kroeber (1952) telah mengemukakan tidak lebih daripada 161 takrifan budaya. Tidak mungkin dapat dibincangkan di sini sebahagian besar daripada takrifan tersebut; lagipun mujurlah sebilangan besar daripadanya mempunyai makna yang agak sama. Buat permulaan, biarlah kita mentakrifkan budaya sebagai tindak tanduk oleh seseorang sebagai anggota masyarakat, baik dari segi keupayaan melakukan sesuatu, kefahaman serta pola perlakuan, yang mesti dipelajari olehnya dan yang bukan muncul bersamanya secara semula jadi. Takrifan seperti ini sebenarnya merangkumi pandangan Tylor dan Geertz (walaupun Geertz pada hakikatnya lebih menekankan dari segi ‘makna’ daripada ‘perlakuan’). Takrifan ini jugalah yang biasanya dipakai oleh kebanyakan antropologis.
Namun demikian konsep budaya itu pada dasarnya membawa beberapa makna yang agak kabur. Dari satu segi, setiap manusia memang berbudaya; iaitu dalam erti kata bahawa istilah budaya itu sendiri merujuk kepada persamaan asas yang sedia terdapat pada setiap orang. Pada sudut yang lain pula, manusia secara berasingan mempelajari dan mempunyai keupayaan dan kebolehan yang berlainan, serta kefahaman dan pandangan yang berbeza dan sebagainya; justeru itu sesama merekapun terdapat perbezaan semata-mata kerana pengalaman budaya masing-masing yang berlainan. Oleh yang demikian, perkara penting yang harus kita ingat ialah budaya merujuk kepada persamaan asas dan juga kepada perbezaan yang sistematis di kalangan manusia.
Hubungan antara budaya dan masyarakat boleh dihuraikan seperti berikut. Budaya merujuk kepada aspek kehidupan yang dipelajari oleh seseorang atau yang ‘dicambah’ pada diri seseorang, yang bersifat kognitif dan simbolis, manakala masyarakat merujuk kepada organisasi sosial yang merangkumi kehidupan manusia, dari segi pola pergaulan (atau interaksi) dan hubungan kuasa. Perbezaan dari segi analisisnya mungkin nampak mengelirukan pada peringkat ini, tetapi perkara ini akan menjadi lebih jelas dalam perbincangan kemudian nanti.
Satu takrifan ringkas antropologi boleh berbunyi seperti berikut: "Antropologi ialah kajian perbandingan mengenai budaya dan kehidupan sosial. Metod atau kaedah kajiannya yang paling penting ialah pemerhatian ikutserta (participant observation), yang terdiri daripada kerja lapangan yang memakan masa yang lama, yang dijalankan dalam sebuah persekitaran sosial yang khusus." Pendekatan dalam disiplin ini ialah membandingkan aspek-aspek tertentu yang terdapat di kalangan masyarakat yang berlainan, serta terus berusaha mencari unsur-unsur lain yang boleh dijadikan asas perbandingan. Sebagai contoh, jika kita memilih untuk menulis monograf berkenaan dengan sebuah masyarakat di kawasan tanah tinggi New Guinea, biasanya cara terbaik untuk berbuat demikian ialah dengan menggunakan beberapa konsep tertentu (seperti kekerabatan, gender dan kuasa) bagi memerihalkannya; iaitu konsep yang membolehkan kita membuat perbandingan dengan perkara-perkara yang sama dalam masyarakat yang berlainan.
Selanjutnya, disiplin ini menekankan betapa pentingnya kita melakukan kerja lapangan, iaitu pemerhatian terperinci terhadap sesuatu persekitaran sosial dan budaya, yang biasanya memerlukan kehadiran penyelidik untuk satu tempoh masa yang agak lama, biasanya satu tahun atau lebih.
Jelaslah bahawa antropologi mempunyai banyak persamaan dengan disiplin lain dalam sains sosial dan kemanusiaan. Bahkan, satu persoalan yang agak rumit yang sering ditimbulkan ialah menentukan sama ada antropologi itu tergolong dalam bidang sains atau bidang kemanusiaan. Persoalannya ialah adakah kita mencari hukum umum, seperti yang dilakukan oleh ahli sains tulen. Sebaliknya, adakah kita cuba memahami dan membuat pentafsiran terhadap masyarakat yang berlainan? Dua orang tokoh terkenal, E. E. Evans-Pritchard di Britain dan Alfred Kroeber di Amerika Syarikat, pernah menekankan dalam sekitar tahun 1950, bahawa antropologi mempunyai lebih banyak persamaan dengan sejarah daripada sains tulen. Pendapat mereka pada masa itu dianggap hampir karut, tetapi sekarang pandangan tersebut sudah menjadi perkara biasa di kalangan kebanyakan antropologis. Namun demikian, masih terdapat segelintir antropologis yang berpendapat bahawa antropologi sepatutnya mempunyai pendekatan ketat yang lebih saintifik, sama seperti yang diamalkan dalam bidang sains tulen.
Sebahagian daripada pendapat yang berlainan yang disebut di atas akan dibincangkan dalam bab yang menyusul. Beberapa sifat utama yang mencirikan antropologi terdapat pada semua yang mengamalkan disiplin ini; antropologi bersifat perbandingan dan empiris; kaedah atau metodologinya yang sangat penting ialah kerja lapangan; dan antropologilah yang sebenarnya mempunyai fokus kepada sesuatu isu secara sejagat, dalam pengertian bahawa disiplin ini tidak pernah menganggap mana-mana kawasan geografis, atau mana-mana masyarakat sebagai lebih penting daripada yang lain. Berbeza dengan sosiologi, antropologi tidak menumpukan perhatiannya ke atas masyarakat industri; berbeza dengan falsafah, antropologi menekankan peri pentingnya penyelidikan empiris; berbeza dengan sejarah, antropologi mengkaji masyarakat pada detik dan ketika wujudnya masyarakat berkenaan; dan berbeza dengan linguistik, antropologi menekankan konteks sosial dan budaya sesuatu bahasa yang dituturkan. Sudah tentulah terdapat banyak tindan lapis dalam antropologi dengan disiplin sains yang lain. Pastinya juga antropologi mempelajari banyak perkara daripada disiplin tersebut. Namun demikian antropologi mempunyai sifatnya yang tersendiri sebagai salah satu daripada disiplin akademik. Antropologi, pada masa yang sama, cuba menghuraikan kewujudan kepelbagaian dalam dunia, serta cuba pula membina perspektif teori dalam pendekatan terhadap budaya dan masyarakat.
Sebelum kita membincangkan dalam bab yang menyusul kaedah kerja lapangan dalam penyelidikan antropologi, ada baiknya jika disentuh beberapa lagi sifat penting antropologi.
Gambar 1.1: Sebelum Perang Dunia Kedua terdapat beberapa pertunjukan 'kabilah negro' (negro caravans) yang sangat diminati oleh penduduk di bandar-bandar besar Eropah. Dalam pertunjukan itu orang Afrika dijadikan bahan tontonan seperti haiwan di zoo. Gambar ini menunjukkan 'perkampungan negro' di Christiana (sekarang Oslo) dalam tahun 1914. Soalannya sekarang ialah sejauh manakah tanggapan umum orang Eropah terhadap 'masyarakat eksotik' seperti ini telah berubah semenjak zaman tersebut? (Gambar daripada ihsan Museum Etnografi Oslo)

Etnosentrisme
Sesuatu masyarakat atau budaya, seperti yang dinyatakan sebelum ini, mestilah difahami dalam peristilahannya sendiri. Dalam mengatakan demikian bukanlah bermakna bahawa kita bersetuju dengan penggunaan satu bentuk ukuran umum bagi menilai sesuatu masyarakat. Ukuran tersebut tersebut mungkin merangkumi jangka hayat, keluaran negara kasar (gross national product), hak demokrasi, kadar celik huruf, dan sebagainya. Tidak berapa lama dahulu satu amalan yang sering dilakukan oleh masyarakat Eropah ialah menilai masyarakat di luar Eropah mengikut peratusan penduduknya yang memeluk agama Kristian. Seandainya peratusan itu tinggi maka tinggilah kedudukan negara tersebut mengikut kayu ukuran yang digunakan. Penilaian terhadap manusia seperti yang dilakukan itu sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan antropologi. Oleh itu, jika kita ingin menilai mutu hidup dalam sesebuah negara atau masyarakat luar, kita mestilah terlebih dahulu memahami masyarakat itu dari dalam; jika tidak penilaian yang kita buat itu mempunyai nilai ilmiah yang sangat terbatas. Apa yang dianggap sebagai ‘gaya hidup yang baik’ dalam masyarakat Eropah misalnya, tidak semestinya menarik dan sangat-sangat dikehendaki jika dinilai dari sudut dan kedudukan masyarakat lain. Bagi memahami erti sebenar kehidupan sosial sesuatu masyarakat, maka sangat perlu untuk kita cuba mendalami terlebih dahulu bagaimana alam nyata sesuatu masyarakat difahami dan dirasai sendiri oleh ahli-ahlinya. Untuk berjaya dalam usaha ini, maka tidak memadai jika kita hanya memilih beberapa ‘angkubah’ sahaja. Ternyata bahawa penggunaan konsep seperti ‘pendapatan tahunan’ tidak sesuai sama sekali bagi sebuah masyarakat yang tidak mengenali mata wang serta tidak tahu akan kaedah kerja yang diupah dengan wang.
Penghujahan seperti di atas bolehlah dianggap sebagai amaran awal terhadap etnosentrisme. Istilah tersebut berasal daripada perkataan Yunani (ethnos bermaksud ‘orang’) Etnosentrisme membawa maksud bahawa kita menilai masyarakat lain daripada kaca mata kita sendiri, serta memperihalkan mereka dalam peristilahan kita. Dengan demikian, ciri-ciri ethnos yang ada pada diri kita, termasuk nilai budaya kita, dijadikan kayu ukur dalam penilaian tersebut. Justeru itu tidak hairanlah jika orang lain atau masyarakat asing kelihatan begitu rendah taraf sosial dan budaya mereka jika dipandang dari kaca mata ethnos kita. Misalnya jika kita mendapati bahawa di kalangan masyarakat Nuer kemudahan pinjaman untuk membeli rumah daripada institusi kewangan sukar diperolehi, maka kita tidak boleh membuat kesimpulan bahawa masyarakat Nuer tidaklah sesempurna masyarakat kita. Jika kita mendapati bahawa kemudahan bekalan elektrik tidak terdapat di kalangan orang Kwakiutl di pantai barat Amerika Utara, maka kita tidak boleh membuat kesimpulan bahawa cara hidup orang Kwakiutl itu tidak sejahtera berbanding dengan cara hidup kita. Jika sekiranya orang Kachin di sebelah utara Myanmar menolak agama Kristian, maka kita tidak boleh menganggap bahawa orang Kachin tidak bertamadun. Jika sekiranya orang San (kaum Bushmen) di gurun Kalahari buta huruf, maka kita tidak boleh terus menyatakan bahawa mereka itu tidak pintar. Jika sekiranya kita terus menerus mempunyai pandangan berunsur etnosentrisme, maka ternyata bahawa kita sama sekali tidak memberikan sebarang peluang bagi orang lain untuk mempunyai sebarang perbezaan dan hidup dalam persekitaran sosial dan budaya yang berlainan.
Pandangan etnosentrisme juga merupakan satu halangan besar kepada usaha untuk memahami masyarakat dan budaya lain dalam peristilahan mereka sendiri. Sebenarnya antropologi tidak membandingkan masyarakat asing dengan masyarakat sendiri serta menyusun pelbagai masyarakat pada tahap tinggi rendah, serta meletakkan masyarakat kita pada anak tangga paling atas. Sebaliknya antropologi menghendaki kita memahami masyarakat yang berlainan itu seperti yang kelihatan daripada dalam masyarakat berkenaan. Antropologi tidak dapat memberikan jawapan yang tepat kepada soalan yang berbunyi seperti berikut: "Antara banyak masyarakat, masyarakat manakah yang paling baik." Jawapannya memang tidak akan wujud semata-mata kerana sememangnya bukan sifat semula jadi disiplin antropologi untuk bertanyakan soalan seperti ini. Jika ditanya apakah bentuk hidup dan masyarakat yang sempurna, maka antropologis hanya boleh memberikan jawapan bahawa setiap masyarakat itu mempunyai takrifan masing-masing terhadap soalan tersebut yang sudah pasti mempunyai pengertian yang berbeza-beza.
Lagipun, masalah etnosentrisme sangat sukar untuk dikesan jika dibandingkan dengan pendirian yang bersifat moralis. Etnosentrisme juga boleh mempengaruhi konsep yang kita gunakan untuk memahami pelbagai masyarakat di muka bumi. Misalnya kita tidak boleh menggunakan konsep ‘politik’ dan ‘kekerabatan’ bagi masyarakat yang ternyata tidak mempunyai pemahaman asas terhadap kedua-dua konsep ini. Istilah politik mungkin terdapat dalam masyarakat asal ahli etnografis, tetapi istilah tersebut mungkin tidak ada dalam masyarakat yang dikajinya. Masalah asas seperti ini akan dibincangkan kemudian dengan lebih mendalam lagi.
Relativisme budaya pula sering dikatakan berlawanan dengan etnosentrisme. Mengikut relativisme budaya setiap masyarakat atau budaya itu berbeza-beza antara satu sama lain dari segi mutu hidup dan sebagainya, serta masing-masingya mempunyai logik dalaman yang unik dan tersendiri. Justeru itu agak tidak tepat dari segi kaedah saintifiknya jika kita menilai masyarakat tersebut dengan meletakkan mereka pada skala tinggi rendah. Sebagai contoh, katakan kita menggunakan angkubah ‘celik huruf’ dan ‘pendapatan tahunan’ untuk membuat penilaian terhadap masyarakat San. Oleh kerana di kalangan orang San kadar tersebut sangat rendah, maka kita letakkan masyarakat San pada tahap yang terkebawah pada anak tangga berkenaan. Sebenarnya penilaian seperti ini tidak membawa sebarang makna kerana dalam masyarakat San wang dan buku tidak begitu diutamakan. Jelaslah bahawa dalam kerangka pendekatan relativisme budaya, kita tidak boleh mengatakan bahawa masyarakat yang mempunyai jumlah kereta yang banyak itu adalah masyarakat yang ‘lebih baik’ daripada masyarakat yang mempunyai jumlah kereta yang kurang; atau nisbah bilangan panggung wayang dengan jumlah penduduk adalah satu petunjuk yang tepat terhadap mutu hidup bagi sesebuah masyarakat.
Namun demikian, relativisme budaya adalah ketetapan teoritis yang tidak boleh dipersoalkan serta menjadi satu kemestian dan alat utama sebagai kaedah atau metodologi untuk memahami masyarakat asing sebaik mungkin tanpa menaruh sebarang buruk sangka. Dari segi etikanya, mengamalkan relativisme budaya barangkali agak sukar, kerana nampaknya setiap perkara yang wujud dalam sesuatu masyarakat itu sama baiknya dengan yang terdapat dalam masyarakat lain. Akhirnya pendirian seperti ini mungin akan mengarah kepada nihilisme, iaitu doktrina yang mengatakan bahawa tiada sebarang asas yang kukuh bagi sesuatu kebenaran, sementara kewujudan itu tidak membawa apa-apa makna; justeru itu membuat penilaian ke atas sesuatu yang wujud itu adalah satu usaha yang sia-sia. Sebab itulah kena pada masanya jika dikatakan bahawa walaupun antropologis adalah pengamal relativisme budaya yang sangat ketat semasa menjalankan tugas seharian mereka, tetapi dalam menjalani kehidupan peribadi masing-masing, antropologis adalah manusia biasa. Kadang kalanya mereka juga mempunyai pendirian serta nilai yang dogmatis terhadap apa yang betul dan apa yang salah.
Akhir kata relativisme budaya tidak boleh dianggap bertentangan sama sekali dengan etnosentrisme, kerana relativisme budaya yang sebenar bebas daripada sebarang prinsip moral. Bagi antropologi, prinsip relativisme budaya berguna sebagai alat metodologi atau kaedah sahaja, tidak leboh daripada itu. Alat inilah yang akan membantu kita meneliti dan membandingkan masyarakat tanpa meletakkan mana-mana masyarakat pada anak tangga dan ukuran moral. Tetapi kenyataan ini bukan pula bermakna bahawa dalam pendekatan ini tidak ada perbezaan antara perlakuan yang salah dengan perlakuan yang betul.
Akhir sekali, kita harus sedar bahawa ramai antropologis berhasrat untuk mencari apakah ciri-ciri serta unsur kemanusiaan sepunya yang terdapat pada setiap masyarakat atau kumpulan manusia. Tidak semestinya terdapat sebarang percanggahan antara usaha seperti ini dengan pendekatan relativisme budaya, biarpun universalisme kadangkala dikatakan bertentangan sifatnya dengan relativisme budaya. Pada satu tahap tertentu dalam analisis antropologi, tidak ada salahnya jika seseorang itu menggunakan pendekatan relativisme jika pada masa yang sama ia juga berpendirian bahawa di kalangan masyarakat yang pelbagai itu tetap terdapat satu pola sepunya. Tidak hairanlah jika ramai yang akan mengaku bahawa antropologi adalah berkenaan dengan perkara berikut: mencari keunikan pada setiap persekitaran budaya semua masyarakat dan petunjuk bahawa alam kemanusiaan itu sebenarnya adalah satu.
Cadangan Bacaan Tambahan
E. E. Evans-Pritchard: Social Anthropology. Glencoe: Free Press 1951.
Clifford Geertz: The Uses of Diversity. Dalam Assessing Cultural Anthropology, suntingan Robert Borofsky. New York: McGraw-Hill 1994.
Adam Kuper: Anthropology and Anthropologists: The Modern Bristish School. London: Routledge & Kegan Paul 1983.
Kotak 1
Franz Boas (1859-1941), dilahirkan di Minden, Westphalia (Jerman), belajar ilmu geografi di negara asal Jerman tetapi bertukar minat kepada antropologi setelah menyertai satu lawatan penyelidikan ke Artik (di Khutub Utara) dalam tahun 1883-4. Kemudian beliau telah berhijrah ke Amerika Syarikat dan seterusnya menjadi warna negaranya. Boas adalah satu-satunya pengasas yang tiada tandingannya dalam mewujudkan antropologi budaya di Amerika. Beliau telah menjalankan kerja lapangan di kalangan orang Inuit (Eskimo) di samping beberapa kaum asli di Amerika; penulisannya yang begitu banyak menjangkau lima puluh tahun, dan beliau wajar dipanggil bapa kepada antropologi Amerika moden. Bahkan empat bidang utama penelitian beliau — yang terdiri daripada etnologi, linguistik, arkeologi dan antropologi fizikal — masih menjadi teras kepada antropologi Amerika.
Beliau tidak bersetuju dengan golongan evolusionis yang dipelopori oleh Tylor dan didokong oleh antropologis Eropah yang lain. Justeru itu beliau memilih untuk mengembangkan aliran pemikirannya sendiri yang pada hari ini dikenali sebagai partikularisme sejarah (historical particularism); iaitu pendapat bahawa evolusi sesuatu masyarakat (atau budaya) mestilah dilihat dalam konteks dinamik masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini Boas juga mempunyai pendirian yang berbeza dengan antropologis British, walaupun pada dasarnya beliau sekata dengan mereka dari segi pendirian terhadap peri pentingya melakukan kerja lapangan yang terperinci. Berbeza dengan Radcliffe-Brown dan Malinowski, Boas menekankan konsep kepelbagaian budaya (cultural variation) serta keunikan setiap budaya. Penekanan ini terbayang apabila Boas menolak kerangka umum penghuraian sesuatu fenomena budaya seperti yang biasa dilakukan oleh antropologis British. Namun demikian, pada tahap yang lain pula Boas sealiran dengan mereka kerana beliau juga berusaha untuk mencari pola-pola tertentu dalam perlakuan dan keseragaman silang budaya, terutama sekali pada paras psikologi. Mungkin Boas adalah orang yang pertama kali menyusun formula untuk relativisme budaya. Tetapi keunggulan beliau yang sebenar ialah penekanannya terhadap tatacara mengutip data empiris, yang mesti dilakukan dengan setepat mungkin serta dengan teratur. Sifatnya yang sangat teliti itu boleh dikaitkan kepada dua sebab: pertama, Boas mempunyai cara berfikir seperti seorang saintis; kedua, Boas sendiri telah menyaksikan bagaimana perubahan budaya yang begitu cepat telah menghapuskan banyak budaya yang dianggap unik, terutama sekali di Amerika Utara. Dalam bukunya The Mind of Primitive Man (1911), Boas berpendapat bahawa antropologi sepatutnya juga bertindak bagi membela masyarakat peribumi yang diancam oleh perubahan budaya.



Kotak 2
Alfred Reginald Radcliffe-Brown (188I-1955), pengasas antropologi British (the British school). Beliau pernah menjadi pensyarah di beberapa buah universiti, dari Cape Town hingga ke Chicago, dan telah banyak mempengaruhi penyebaran dan perkembangan antropologi dalam tempoh di antara Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Radcliffe-Brown sendiri dipengaruhi oleh teori sosial Durkheim, yang beliau gunakan dan kembangkan dalam analisis empirisnya, terutama dalam The Andaman Islanders (1922) dan The Social Organization of Australian Tribes (1931). Dalam dua buku tersebut dan juga dalam Structure and Function in Primitive Society (1952), beliau telah memperkenalkan pendekatan struktural-fungsionalisme dalam antropologi: iaitu doktrin yang berhubung dengan kesepaduan kemasyarakatan, serta bagaimana institusi sosial saling bergantung antara satu sama lain bagi menyumbang ke arah penubuhan masyarakat yang berterusan.
Pandangan saintifik Radcliffe-Brown diasaskan kepada ilmu sains tulen. Harapan beliau ialah mewujudkan satu ‘hukum umum berkenaan dengan masyarakat’ (general laws of society) yang setanding, dari segi ketepatannya, dengan hukum tabii dalam ilmu fizik dan kimia. Cita-cita ini nampaknya telah diketepikan oleh kebanyakan antropologis — seperti juga halnya dengan nasib struktur-fungsionalisme tulen. Namun demikian, sebahagian besar daripada persoalan yang dikemukakan oleh antropologis pada masa kini, terutama sekali di Eropah, pernah ditimbulkan sebelumnya oleh Radcliffe-Brown.

Tampilkan postingan dengan label antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antropologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

Struktur social dan konflik social


Struktur social timbul atas pengaruh tiga hal yaitu global (capital), Negara/Pemerintahan, dan modal domestic. Dengan hadirnya tiga hal tersebut menyebabkan munculnya struktur social. Struktur social terbagi atas tiga yaitu elit, kelas menengah, dan masyarakat bawah. Kelas-kelas tersebut yang menjadi standard struktur social. Pelapisan social juga didasarkan dari gabungan ekonomi, religi, dan cultural. Yang tertinggi adalah mereka yang memiliki ketiganya, baik ekonomi, religi, dan cultural. Ini yang dihadapi di desa-desa.
Dari sebuah hubungan social pasti melahirkan peristiwa social. Salah satunya adalah konflik. Konflik lahir merupakan gabungan dari ekonomi, religi, dan cultural. Konflik merupakan gejala yang melekat dalam suatu masyarakat juga disebabkan karena kelas-kelas tersebut yang juga merupakan kelompok social memiliki kepentingan yang satu sama lain bertentangan. Selain dapat disebabkan karena kesenjangan social (jika dapat dikatakan termasuk dalam hal ekonomi).
Jelas saja konflik tidak dapat dielakkan karena dalam masyarakat selalu terjadi perubahan-perubahan social. Pada akhirnya terjadi konflik kelas, konflik simbolik, dan konflik komunal. Konflik social juga terjadi di Desa Mangun Jaya Kelurahan Purwokerto Lor. Konflik lebih disebabkan karena gabungan dari ekonomi dan religi.  
Berawal dari sebuah program pemerintah tentang penanggulangan kemiskinan. Pelaksanaan dilakukan dalam tiga bidang, yaitu social, lingkungan, dan ekonomi. Untuk bidang yang pertama dan kedua telah dilaksanakan dengan sukses. Namun, bidang yang ketiga belum dilaksanakan. Atau lebih tepatnya tidak akan dilaksanakan. Dalam hal ekonomi, bentuk programnya berupa dana pinjaman bergulir untuk usaha masyarakat setempat.
Proses pelaksanaan bidang social dan lingkungan dilakukan melalui rembug warga, sesuai dengan panduan pelaksanaan program dari pusat. Namun, tidak begitu dengan program ekonomi. Pelaksanaan program ekonomi diputuskan untuk tidak dilaksanakan. Keputusan bukanlah hasil rembug warga tapi berdasar penilaian individu (jajaran RT) terhadap warga yang akan menerima bantuan dana bergulir tersebut. Penilaian elit itu berupa ketidakpercayaan pada kembalinya dana pinjaman bergulir tersebut. Hal ini membuat konflik antara masyarakat bawah dan elit.
Kepentingan masyarakat bawah untuk mendapatkan dana usaha terhambat karena kepentingan lain dari si elit. Struktur social yang menempatkan si elit pada kelas tertinggi (karena ekonomi dan religi) menjadikan keputusan yang sebelumnya keputusan sepihak “dianggapnya” menjadi keputusan bersama. Hal itu terjadi karena kewenangan dan kekuasaanya. Begitupan juga dengan elit yang lain menyetujui pendapat tersebut karena melihat kelasnya. Masyarakat bawah tidak dapat berbuat apa-apa karena adanya paksaan dari kelas dominan dalam masyarakat. Terlebih symbol religi telah melekat pada elit tersebut. Dimana symbol ini menjadi penguatan atas posisi tawar elit dalam masyarakat. Pada masyarakat desa umumnya, gelar haji sangatlah dihormati.
Melihat contoh di atas mengenai pengaruh yang begitu besar oleh elit, mengingatkan pada pendapat Weber bahwa sumber pengaruh kekuasaan adalah orang yang mempunyai kekuasaan tersebut. Sekaligus elit memiliki kewenangan untuk menyetujui atau tidak menyetujui suatu rencana program. Dengan hak perintah yang didapat karena kewenangan yang dimiliki, maka dominasi terjadi.
Dalam buku himpunan teori-teori politik dijelaskan bahwa konflik terjadi dalam masyarakat karena distribusi kewenangan yang tak merata, sehingga bertambah kewenangan pada suatu pihak dengan sendirinya mengurangi kewenangan pihak lain.oleh sebab itu konflik merupakan gekala yang melekat di masyarakat. Yang dapat dilakukab nasyarakat adalah mengatur konflik itu agar konflik yang terjadi tidak berlangsung secara kekerasan. Begitu pula di desa Mangun Jaya ini, konflik social yang terjadi tidak dalam bentuk kekerasan.    

Referensi :
Surbakti, Ramlan. Himpunan Teori-Teori Politik. Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Surabaya.

Proses pemberdayaan respek: terhadap desa


Proses pemberdayaan respek:
Program respek dilaksanakan akhir 2007 dengan kucuran dana sebesar Rp 100 juta ke setiap kampung untuk mendorong percepatan pembangunan kampung. Dana tidak langsung digulirkan. Selama empat bulan, tim mempersiapkan infrastrukturnya berupa persiapan tenaga pendamping kabupaten dan distrik, membuka jaringan Bank Papua ke kampung-kampung untuk menyalurkan dana. Karena Bank Papua yang dipercaya pemerintah untuk menyalurkan dana Respek. Selain itu, dilakukan juga koordinasi antarinstansi teknis tingkat provinsi dan kabupaten/kota serta memberikan pembekalan bagi para kepala kampung dan lainnya.
Dalam hal pemberian dana, masyarakat ikut dilibatkan. Pemberian Rp 100 juta rupiah dari Pe­merintah Provinsi Pa­pua diberikan kepada ma­sing-masing kampung. Untuk mencegah terjadinya korupsi, ada beberapa prin­sip yang ditetap­kan. Pertama, dari manapun uang itu, ha­rus ma­suk ke satu rekening yaitu reke­ning kampung yang dibuka di Bank Pem­bangunan Papua. Untuk menggunakan da­na ter­se­but, harus dilakukan musya­wa­rah seluruh kampung, bukan musya­wa­rah badan musyawarah. Masyarakat kam­pung du­duk bersama dengan fasili­tator yang disiapkan pemerintah yang menjelaskan kepada masyarakat, bukan memaksa ke­hendak.
Program respek salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Salah satunya adalah di Kab. Jayawijaya. Dalam proesnya perempuan dipilih untuk mendapat pelatihan kepemimpinan dari BPP Papua, yang selanjutnya melalui pendampingan dari Fasilitator Program RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) Pemprov Papua. Kemudiam menginisisasi pembentukan kelompok ibu-ibu dan merintis Gerakan Sayang Ibu di kampungnya masing-masing. Kelompok ini difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam bentuk pelatihan dan inisiasi usaha ekonomi keluarga melalui aplikasi teknologi tepat pengolahan tepung ubi dan keladi yang banyak diproduksi di Wamena. Dengan pengolahan ini maka ada nilai tambah yang dapat diperoleh bagi usaha kelompok ibu-ibu, selain dapat memperkuat ketahanan pangan karena tepung ubi dan keladi relatif mempunyai daya simpan yang lebih baik di samping dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bermanfaat bagi asupan gizi anak-anak Papua.   
Kegiatan respek lain termasuk di dalamnya adalah perbaikan nutrisi dan ma­kanan, perbaikan kesehatan, pendidik­an, perumahan, ekonomi rakyat, per­baik­an infrastruktur kampung termasuk di dalam­nya air bersih, energi dan te­le­komunikasi. Dengan ini diharapkan ketika masya­rakat kampung disiapkan secara baik maka ketika investasi ma­suk, mereka menjadi bagian dari investasi tersebut.
Yang menjadi pertanyaa dalam prosesya bahwa ada program-program pembangunan yang tidak terkait dengan Respek tapi dilaksanakan dengan dana Respek. Seperti pembangunan jalan, jembatan, rumah warga. Batasan program yang bisa menggunakan dana Respek juga kurang jelas. Seharusnya, dana Respek digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif yang mendorong perubahan dan peningkatan pendapatan masyarakat kampung. Dana Respek tahap pertama lebih banyak dihabiskan untuk membiayai infrastruktur.

Pemberdayaan masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap Negara dihadapkan pada tantangan baru. Globalisasi dan perdagangan bebas makin membuat batas antar Negara seakan tidak ada lagi. Perkembangan ekonomi makin mengglobal. Hal ini mengakibatkan pasar domestic dan pasar internasional makin tipis batasnya. Menipisnya batas menjadikan persaingan semakin berat. Implikasinya, pertimbangan keunggulan kompetitif menjadi factor utama untuk dapat bertahan.
Untuk dapat bertahan, maka tiap Negara harus dapat bersaing dengan Negara lain. Sebagai syarat utama dalam bersaing dengan Negara adalah ketahanan ekonomi. Ketahanan ekonomi menjadi penting karena sebagai syarat demokrasi adalah salah satunya tingkat ekonomi yang tinggi, selain tingkat pendidikan tinggi dan kecerdasan berpolitik tinggi.
Dalam menciptakan ketahanan ekonomi maka diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi penting dalam proses persaingan global yang makin berat. Tujuan dari pemberdayaan masyarakat sendiri adalah untuk memandirikan masyarakat lewat potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Sehingga pemberdayaan dalam pelaksanaanya adalah dari, untuk, dan oleh rakyat.
PNPM (Program Negara Pemberdayaan Masyarakat) hadir di RT 05 RW 03 kelurahan Purwokerto Lor. Sebelumnya, pemberdayaan masyarakat menggunakan nama P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Di Tengah Perkotaan). Masyarakat menjadi subyek dalam program ini. Masyarakat diberdayakan untuk dapat berperan serta aktif melalui program ini.  

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, perumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana kaitan pelaksanaan P2KP dalam upaya pemberdayaan masyarakat?
2.    Bagaiman hambatan dalam pelaksanaan P2KP?
                                                                             
BAB IV
PEMBAHASAN

A. P2KP Dalam Pemberdayaan Masyarakat
            PNPM P2KP nampaknya menjadi hal yang ditunggu oleh masyarakat kelurahan Purwokerto Lor, khususnya di RT 05 RW 03. PNPM P2KP dilaksanakan dalam tiga program yaitu lingkungan, ekonomi, dan social. Di wilayah kelurahan Purwokerto Lor telah dilaksanakan program PNPM P2KP dalam bidang lingkungan dan sosial. Dalam bidang lingkungan yaitu adanya normalisasi saluran drainase. Normalisasi dilakukan karena terjadi pendangkalan pada saluran air, sehingga perlunya upaya pengerukan. Sedangkan dalam bidang social adalah berupa pelengkapan Posyandu. Pelaksanaan program dalam bidang ekonomi belum dapat dilaksanakan karena beberapa hal yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut. 
Pelaksanaan PNPM P2KP mendapatkan bantuan dana baik dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Setiap kecamatan mendapat total bantuan sebesar Rp.500.000.000 per kecamatan. Dalam tiap kecamatan dibagi berdasar banyaknya RT masing-masing kecamatan. Di kecamatan Purwokerto Timur terdapat 44 RT. Maka untuk pembagian besarnya dana yang diterima untuk tiap RT tergantung pada pengajuan proposal anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program oleh masing-masing RT. Secara keseluruhan, baik dalam pelaksanaan program lingkungan dan program social, RT 05 RW 03 mendapat bantuan dana sebesar Rp 9.000.000.
Dari dana yang telah dikeluarkan untuk masing-masing RT, maka dana tersebut perlu dibagi untuk pelaksanaan dua program tersebut. Program lingkungan mendapat bantuan sebesar 6 juta dari pemerintah. Tentu saja, hanya dengan 6 juta saja tidak dapat menutupi keseluruhan pembiayaan normalisasi saluran drainase. Masyarakat sangat berperan penting di sini. Sisa pembiayaan yang dibutuhkan menggunakan hasil swadaya masyarakat. Kontribusi masyarakat cukup besar dalam program lingkungan ini, hingga dapat menutupi setengah dari total pembiayaan. Kontribusi masyarakat termasuk di dalamnya adalah berupa tenaga pelaksana, konsumsi tiap hari selama proses pengerjaan, dan berupa bantuan dana. Dalam  waktu 15 hari dapat dilakukan pengerukan tanah keras sepanjang 200 m untuk menormalkan saluran drainase.
Sebelum diputuskan normalisasi sebagai program yang harus segera dilaksanakan, diadakan musyawarah tentang kebutuhan masyarakat dalam bidang lingkungan. Musyawarah dalam bidang lingkungan dilakukan oleh mayoritas kaum bapak melalui acara arisan yang dilaksanakan tiap minggu. Dalam bidang lingkungan, ternyata masyarakat menyampaikan beberapa pendapat tentang kebutuhan akan lingkungan RT 05 RW 03. Diantaranya adalah pembuatan gudang KGR (gudang peralatan kematian), renovasi siskamling, pemugaran empat rumah warga, dan normalisasi saluran drainase. Karena dana yang tersedia terbatas maka perlu ada prioritas dalam pelaksanaanya. Akhirnya diputuskan oleh warga melalui musyawarah bahwa normalisasai saluran drainase menjadi prioritas utama. Hal ini disebabkan karena sering terjadinya banjir ketika datang hujan lebat di wilayah sekitar  RT 05 RW 03. Dan sekarang, berdasarkan pengakuan warga dan ketua RT setempat, tidak pernaha lagi terjadi banjir.
Selain bidang lingkungan, pelaksanaan P2KP juga diarahkan pada bidang social. Dalam bidang social rencana program dimusyawarahkan oleh mayoritas kaum ibu melalui arisan yang diadakan tiap bulan.  Hanya ada tiga Program Jangka Menengah dalam bidang social. Masyarakat mengusulkan posyandu sebagai prioritas utama, selain bantuan terhadap usia lanjut, dan bantuan terhadap anak putus sekolah. Pelaksanaan bidang social yaitu dengan pengadaan sarana dan prasarana posyandu. Pengadan sarana dan prasarana posyandu dirasa mendesak, Karena peralatan yang sudah ada dirasa kurang lengkap. Sehingga diharapkan dengan pengadaan sarana dan prasarana posyandu masyarakat dapat dimudahkan untuk mengakses kesehatan bagi balita dan dengan pelayanan yang lengkap.
Tahapan PNPM P2KP dilaksanakan melalui, pertama, sosialisasi, kemudian dilanjutkan pada rembug kesiapan warga, refleksi kemiskinan, pemetaan swadaya, pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat, Perencanaan Jangka Menengah, Kelompok Swadaya Masyarakat, dan Bantuan Langsung Masyarakat. Dalam pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat, tiap RT mewakilkan satu orang untuk menjadi salah satu kandidat BKM di kelurahan. Pemilihan BKM ini dilakukan melalui penunjukan oleh warga masyarakat RT 05 RW 03 dalam musyawarah. Tidak criteria yang ditentukan dalam pemilihan calon BKM. Dari empat puluh calon BKM yang diajukan masing-masing RT, hanya akan dipilih menjadi 11 anggota BKM. Untuk wilayah RT 05 RW 03 calon BKM tidak terpilih.
Setelah pembentukan BKM, perlu dibentuk juga KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Untuk pembentukan KSM RT 05 RW 03 tidak ada criteria khusus. Semua dilakukan berdasarkan kesediaan masing-masing warga dan berdasar kepercayaan dari warga. Untuk KSM ada pada tiap RT. Tiap KSM mengajukan satu proposal. Sehingga di RT 05 RW 03 terdapat dua KSM yang sudah terbentuk, satu KSM untuk bidang lingkungan dan satu KSM lain untuk bidang social. Hanya saja untuk KSM bidang ekonomi tidak terbentuk, atau bahkan tidak akan terbentuk. Karena warga masyarakat tidak ada yang mau menjadi KSM untuk bidang ekonomi. Semua tahapan ini dilaksanakan melalui pertemuan warga tiap bulanya yaitu berupa arisan dan dasawisma. Media para Ibu untuk mengungkapkan pendapat melalui dasawisma, sedangan para Bapak dapat melalui arisan bulanan.
Pada akhirnya, pelaksanaan P2KP dalam upaya pemberdayaan masyarakat cukup berhasil dilaksanakan di wilayah RT 05 RW 03. Masyarakat sadar akan kebutuhan bersama dalam program lingkungan dan sosial. Pemberdayaan masyarakat yang berjalan terlihat dari swadaya masyarakat, baik dari segi dana maupun  kegiatan teknis-nya, dan keikutsertaanya dalam musyawarah.
Perubahan yang dirasakan setelah program lingkungan, khususnya, dilaksanakan adalah tidak lagi terjadi banjir saat hujan deras turun yang biasanya terjadi di wilayah Rt 05 Rw 03. Dan yang lebih menariknya lagi adalah pembagian program berdasarkan jenis kelamin terjadi di wilayah ini. Untuk program posyandu ditangani oleh kaum Ibu, sedangkan normalisasi saluran drainase ditangani oleh kaum Bapak.

B. Hambatan Dalam Pelaksanaan P2KP Sebagai Usaha Pemberdayaan Masyarakat
Proses musyawarah sangat ditekankan pada proses pengambilan keputusan di program ini. Begitupun di RT 05 RW 03, sosialisasi mengenai program ini dan proses musyawarah dilakukan bebarengan dengan arisan bulan bapak-bapak maupun ibu-ibu. Hal ini dikarenakan pada saat itulah umumnya para warga berkumpul. Karena agenda penting dalam P2KP adalah pemberdayaan, maka salah satu yang penting di sini adalah proses pengambilan keputusan. Semua warga dipancing untuk mengeluarkan pendapat tentang apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan di lingkungan Purwokerto Lor ini. Masyarakat memang turut aktif untuk hadir dalam forum, namun, lagi-lagi yang mengeluarkan pendapat pada forum hanyalah relawan yang secara ekonomi posisinya dapat dikatakan mampu. Bisa jadi alasan kurang aktifnya dalam memberikan pendapat dikarenakan ada kecenderungan tidak PD saat akan mengungkapkan pendapatnya dari peserta yang dianggap kurang mampu dari yang lain. Secara garis besar salah satu hambatan yang ada pada proses pengambilan keputusan adalah tidak turut sertanya semua warga dalam memberikan pendapatnya. Begitu terlihat, perbedaan antara kalangan ekonomi mampu dan tidak mampu, yaitu berupa dominasi kalangan ekonomi mampu terhadap forum.
Kendala dari program yang telah dilaksanakan sejak April 2007, yaitu terkait jumlah relawan yang minim. Minimnya jumlah relawan dikarenakan kurangnya kesempatan waktu yang dimiliki masing-masing warga untuk secara continue berpartisipasi. Selain itu, juga dikarenakan pengetahuan yang minim mengenai program yang akan dilaksanakan sehingga berdampak pada kurangnya tenaga ahli untuk normalisasi saluran drainase. Pada akhirnya jumlah relawan tersisa hanya lima orang. Kurangnya tenaga teknis berakibat pada pembuatan proposal yang mandeg di tengah jalan. Masyarakat memang sangat antusias akan kedatangan PNPM P2KP. Namun, karena rasa antusias tersebutlah yang menjadikan masyarakat seakan bergantung pada bantuan pemerintah, tidak mandiri melalui swadaya.  Sehingga meskipun tidak memberikan kontribusi secara nyata dalam pemberian pendapat, mereka tetap antusias dan berkontribusi melalui uang.
Kendala lain adalah kurangnya kepercayaan warga antar satu sama lain yang berakibat pada terselesaikannya pembuatan proposal untuk bidang ekonomi. Bahkan, bisa dipastikan program dalam bidang ekonomi akan berjalan alot.  Hal ini terkait dengan persyaratan pembentukan kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai empat orang. Pelaksanaan bidang ekonomi dilaksanakan dengan jalan pemberian dana usaha yang harus dikembalikan lagi pada pemerintah. Dengan ketua sebagai penanggungjawab atas pengembalian dana usaha tiap warga di kelompoknya masing-masing. Namun, kesan yang menempel pada warga Rt 05 Rw 03 Kelurahan Purwokerto Lor akan kebiasaan yang sulit (tidak disiplin) untuk mengembalikan pinjaman. Maka tidak ada orang yang berani mencalonkan diri sebagai ketua kelompok. Karena sebagai ketua kelompok berarti dia harus bertanggung jawab atas pengembaliandana usaha dari anggota kelompoknya.
Sosialaisasi dan musyawar penentuan program dilasksanakan oleh masyarakat melalui arisan baik arisan bapak dan arisan ibu. Ternyata melalui titu penyampaian pendapat menjadi lebih mudah. Masyarakat baik yang mampu maupun kurang mampu dapat memebrukan pendapatnya.
Selain normalisasi saluran drainase, dalam Perencanaan Jangka Menengah juga sedang disiapkan untuk diadakanya bedah rumah, pavingisasi untuk mendapatkan jalan setapak yang ramah lingkungan, gudang KGR (untuk kematian), dan dalam bidang ekonomi. Namun, lagi-lagi beberapa kendala harus dihadapi yang mengakibatkan hanya dua program mampu berjalan. 
Partisipasi Masyarakat dalam Program Pemberdayaan
A.                Alasan Pemilihan Kriteria





BAB V
KESIMPULAN dan SARAN

A.    Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas mengenai kriteria ketua Himapol yang ideal beserta alasanya menurut mahasiswa Ilmu politik 2007 yaitu antara lain:




B.     Saran
Dari penjelasan di atas mengenai kriteria ketua Himapol, maka saran yang dapat diajukan adalah:














DAFTAR PUSTAKA

Faisal, Sanapiah. 2003, Format-Format Penelitian Sosial, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hani Handoko, T. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE UGM. Yogyakarta.

Syamsiar, Indradi, 2000. Pengantar Ilmu Administrasi Negara, Malang

Lexy J Moleong.2003. Metodelogi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Milles, Matthew. Huberman, A.Michael. 1992, Analisis Data Kualitatif. Jakarta:Universitas Indonesia.

Susilo, Martoyo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE. Yogyakarta.

Toha, Miftah. 1984. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta:Rajawali.








Rabu, 27 April 2011

Budaya Jawa

ebudayaan Jawa telah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersukur dan menjaga keharmonisan dengan alam. Memaknai dan memberi warna istimewa terhadap hasil yang telah diperoleh. Memanfaatkannya untuk kepentingan orang lain dan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga adalah presentasi kebudayaan Jawa yang senantiasa diselaraskan dengan alam dan kaya makna dalam ranah kehidupan social.
Kebudayaan Jawa yang sering kali kita dapat bedakan melalui dua kultur masyarakat yang berbeda, little tradision (kebudayaan tradisional petani) dan great tradition (peradaban masyarakat kota) ini dapat diafiliasikan maknanya dalam tradisi selametan sebelum mulai tanam atau panen padi yang sering kali disebut dengan upacara wiwitan. Upacara ini merupakan bagian integral dalam pola pertanian masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih dipertahankan meski gempuran arus modernisasi merambah lini-lini kebudayaan tradisional kita.
Upacara wiwitan ini adalah hasil implementasi dari tiga fase perkembangan kebudayaan Jawa, mulai dari fase mistis, mistis-religius dan fase rasional-religion. Ini juga bisa dikatakan sebagai pandangan dunia (word view) terhadap pandangan masa depan keselamatan dan hasil panen yang berlimpah ruah. Perkembangan budaya mistis Jawa yang dulunya bersandarkan kepada kekuatan diluar diri mereka atau keteraturan alam numen dan numinous kepola pemikran yang lebih rasional telah mengilhami pertanian modern yang lebih mendasarkan diri kepada akal budi.
Perkembangan ini tidak lain karena pola pikir masyarakat yang semakin maju dalam dunia pertanian. Terutama Jawa yang memiliki dua kultur pertanian berbeda yakni petani lahan kering dan lahan basah. Di mana petani lahan kering lebih banyak mengembangkan komoditas tanaman keras atau perkebunan, sejenis tanaman kayu dan buah-buahan. Sedangkan petani lahan basah lebih banyak membudidayakan tanaman padi dan beraneka ragam sayur-sayuran atau tanaman palawija.
Dalam pertanian ini pula kita kenal dengan sistem subak (irigasi). Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekedar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani dan bahwa petani merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tetapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat.
Sistem irigasi ini membuat kita berfikir ulang, selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun, dalam kecepatan itu kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah, bibit ya cuma bibit, padi ya hanya padi, semuanya adalah alat yang melayani manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.
Hal ini sangat kontradiktif sekali dengan falsafah Jawa yang mengajarkan untuk mencintai alam ini. Sebagaimana upacara wiwitan yang dilakukan kaum petani Jawa, yang diselenggarakan sebagai ucapan terimakasih, puji dan sukur kepada Tuhan, pencipta alam semesta. Sebuah tradisi yang biasanya dilakukan untuk menandai dimulainya waktu masa tanam padi atau panen.
Dalam tradisi tersebut seakan mengharuskan pemilik sawah menyediakan jamuan makan bagi tetangga, biasanya berupa nasi megana dan seekor ayam ingkung. Nasi Magana yang disajikan digelar di atas daun pisang yang ditaruh di atas meja, ingkung akan dibagi dengan diiris-iris sesuai undangan yang datang.
Sebelum menyantap hidangan seorang kiai kampung akan membacakan doa keselamatan dan rasa syukur atas dimulainya menanam dan memanen padi. Setelah usai berdoa, sisa makanan akan dibawakan tamu undangan. Tradisi ini bahkan tidak hanya dilakukan di rumah karena wiwitan terkadang juga dilakukan di tengah sawah.
Upacara wiwitan ini tidak hanya menjadi seremonia sewaktu akan menanam atau memanen padi, tetapi juga sebagai salah satu perekat tali persaudaraan antara warga desa, khusunya kaum petani. Lebih-lebih upacara ini merupakan khazanah budaya yang memiliki dimensi sosial sangat tinggi. Karena di dalamnya menanamkan rasa persaudaraan dan solidaritas atar sesama manusia.
Biasanya saat menanam dan memanen padi para petani itu saling membantu petani yang menyelenggarakan upacara wiwitan. Ini merupakan aski solidaritas yang kaya dengan falsafah Jawa “mikul duwur mendem jeru.” Untuk lebih memeriahkan upacara ini warga terkadang juga menggelar kesenian gejon lesung dengan tembang-tembang Jawa yang berisi tentang kemakmuran para petani.
Di samping sebagai wujud syukur tradisi wiwitan ini digelar sebagai bentuk untuk melestarikan ritual budaya yang hampir punah dikalangan petani Jawa. Apalagi di tengah zaman yang kini sekat-sekat sosial kian menonjol. Tradisi wiwitan layak terus dikembangkan oleh petani di desa-desa agar hubungan sosial warga tidak semakin pudar tetapi terus merekat sepanjang zaman.
Niat yang tulus akan diberkahi oleh alam. Alam punya inteljensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan dan cara. Maukah kita mencoba mensyukuri berkah yang telah lama kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucapkan sembarang karena reflek, tetapi dengan setiap kata yang dihayati. Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara putih yang berharga. Memandang mereka sebagai hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan kepada kita, hingga menjadi gugusan-gugusan yang membangun tubuh dan jiwa.

Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya

Pengantar Antropologi Sosial dan Budaya

Thomas Hylland Eriksen

Penterjemah
Mohamed Yusoff Ismail
Jabatan Antropologi dan Sosiologi
Universiti Kebangsaan Malaysia
(Jun 2001)
 
  1. Antropologi Sosial:
Persamaan dan kelainan budaya

Antropologi ialah falsafah dengan orangnya sekali
-- Tim Ingold

Buku ini mengajak kita mengembara. Pengembaraan yang akan dilakukan itu, pada hemat pengarang, sangat bermanfaat sebagai satu pengalaman hidup pada diri seseorang. Tentu sekali perjalanannya sangat jauh, dan luas pula jelajahan teluk rantaunya. Pembaca akan dibawa dari hutan lembab Amazon hingga ke gurun beku Artik; dari pencakar langit di Manhattan ke rumah tanah liat orang Sahel; dari perkampungan asli di pergunungan New Guinea ke kawasan bandar di benua Afrika moden.
Perjalanan itu juga sangat jauh dalam erti kata yang lain, kerana tumpuan utama antropologi sosial dan antropologi budaya ialah masyarakat secara menyeluruh. Justeru itu antropologi cuba menghuraikan hubungkait antara pelbagai aspek kemasyarakatan dalam kewujudan kita sebagai insan sosial. Misalnya, apabila kita mengkaji sistem ekonomi tradisional orang Tiv di Nigeria Tengah, kita juga, pada masa yang sama, cuba mengetahui bagaimana sistem ekonomi mereka itu berkait pula dengan perkara-perkara lain dalam kehidupan sosial mereka. Tanpa melihat kaitan tersebut dengan teliti, sistem ekonomi itu agak sukar difahami oleh antropologis. Misalnya, kita tahu yang secara tradisionalnya orang Tiv tidak menganggap tanah sebagai barang untuk dijual beli, dan kelazimannya mereka tidak menggunakan mata wang sebagai cara untuk melunaskan bayaran. Justeru itu kita mesti memahami kenyataan ini terlebih dahulu, kalau tidak agak sukar untuk kita memahami dengan jelas bagaimana orang Tiv bertindak apabila mereka berhadapan dengan perubahan ekonomi yang berlaku sewaktu masyarakat mereka berada di bawah kuasa penjajah.
Antropologi cuba menghuraikan bagaimana terdapat perbezaan dari segi sosial dan budaya di muka bumi, tetapi sebahagian penting daripada penelitian antropologi ialah memahami persamaan antara sistem sosial yang berbagai-bagai itu dalam konteks hubungan kemanusiaannya. Seperti yang pernah disebut oleh salah seorang daripada antropologis yang terkemuka dalam abad ke-20, Claude Lévi-Strauss, "Antropologi itu menjadikan manusia sebagai bahan penelitiannya, tetapi berbeza dengan sains kemanusiaan yang lain, antropologi cuba menangani bahan penelitiannya melalui kepelbagaiannya yang sangat luas" (1983, h. 49).
Seorang lagi antropologis yang terkemuka, Clifford Geertz, memberikan pandangan yang sama dalam sebuah karya yang membincangkan perbezaan antara manusia dan haiwan:
Kalau kita ingin mengetahui apa yang membentuk manusia, kita boleh melihatnya daripada manusia itu sendiri: tetapi apa yang menjadikan manusia itu manusia, di antara yang terunggul, ialah kepelbagaiannya. Hanya dengan memahami kepelbagaian ini — baik dari segi jenisnya, bentuknya, asasnya, dan kesannya — barulah boleh kita membentuk satu konsep berkenaan sifat manusia, iatu konsep yang mempunyai isi dan kebenaran, yang bukan dibayangi oleh perangkaan dan gambaran mimpi yang agak kabur. (Geertz 1973, h. 529)
Walaupun di kalangan antropologis terdapat minat yang berbagai-bagai yang seringkali pula ditumpukan kepada sesuatu penelitian yang khusus, tetapi semua antropologis mempunyai kecenderungan yang sama, iaitu keinginan untuk memahami hubungan dalam masyarakat dan juga hubungan antara masyarakat. Perkara ini akan menjadi lebih jelas lagi sebaik sahaja kita memulakan perjalanan kita dengan membincangkan intipati dan teori dalam antropologi sosial dan antropologi budaya.
Sebenarnya terdapat banyak cara untuk menyelidiki hubungan tersebut. Ada pengkaji yang berminat untuk memahami kenapa dan bagaimana orang Azande di Afrika Tengah percaya dengan tukang sihir, mengapa di Brazil tahap perbezaan sosialnya lebih luas daripada yang terdapat di Sweden, bagaimana penduduk di Mauritius menghindari daripada berlakunya rusuhan etnik, atau apa sebenarnya yang telah terjadi kepada gaya hidup cara lama orang Eskimo Inuit semenjak beberapa tahun kebelakangan. Pada umumnya telahpun ada seorang dua antropologis yang pernah melakukan penyelidikan serta telah menulis berkenaan masalah tersebut. Ada pula penyelidik yang berminat meneliti agama, cara membesarkan anak, kuasa politik, kehidupan ekonomi, atau hubungan antara lelaki dengan wanita. Untuk itu sudahpun terdapat sejumlah penulisan profesional oleh antropologis yang dapat memberikan gambaran dan maklumat yang lebih terperinci.
Disiplin antropologi juga berminat untuk menyusuri hubungkait antara pelbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Biasanya antropologis akan memulakan penelitian terhadap perkara tersebut dengan melakukan penyelidikan yang terperinci terhadap kehidupan sosial dalam sesuatu masyarakat yang dipilih atau satu persekitaran sosial yang sempadannya telah dikenalpasti dengan jelas. Justeru itu bolehlah dikatakan bahawa antropologi sentiasa bertanyakan persoalan yang besar dan luas, tetapi pada waktu yang sama mengambil iktibar daripada tempat yang kecil dan terpencil.
Sebelum ini kita biasanya mengaitkan sifat ulung antropologi dengan masyarakat kecil bukan-industri, iaitu berbeza sekali daripada bidang-bidang lain dalam pengajian kemanusiaan. Tetapi gambaran seperti ini sudah tidak begitu tepat lagi kerana dunia sudah banyak berubah, dan begitulah juga halnya dengan disiplin antropologi. Bahkan hampir semua sistem sosial boleh dijadikan bahan kajian antropologi, dan penyelidikan antropologi masa kini membuktikan betapa luas bidang cakupannya, bukan sahaja dari segi empiris tetapi juga dari segi tema dan topiknya.
Sebelum kita melihat dengan lebih dekat sifat-sifat unggul antropologi, ada baiknya jika kita tinjau dahulu sejarahnya. Seperti juga halnya dengan bidang sains sosial yang lain, antropologi moden adalah satu disiplin ilmiah yang agak baru. Sifatnya seperti yang terdapat dewasa ini sebenarnya terbentuk dalam abad ke-20, tetapi bibitnya sudah lama tersemai dalam bidang ilmu lain yang berkaitan seperti historiografi, geografi, catatan pengembara, falsafah dan undang-undang zaman silam.
Teori Berkenaan Masyarakat Primitif
Memang terdapat banyak cara untuk menulis sejarah perkembangan antropologi. Jika kita perhatikan dengan lebih mendalam, kita akan mendapati bahawa perkara pokok perbincangan antropologi telah lama berakar umbi dalam penulisan Herodotos, ahli sejarah berbangsa Yunani (sekitar 484-420 Sebelum Masehi), atau dalam karya Strabo, seorang ahli geografi (sekitar 64-32 Sebelum Masehi). Kedua-duanya merupakan perintis dalam pemerihalan bercorak etnografis; mereka menulis dengan begitu jelas tentang masyarakat di tempat lain. Pemerihalan mereka tentang adat resam, bahasa, dan ‘keganjilan’ masyarakat asing dilakukan dengan seberapa jelas yang mungkin, dan biasanya tanpa melibatkan sebarang penilaian moral. Herodotos mungkin bersetuju dengan pandangan semasa di kalangan antropologis bahawa setiap masyarakat itu mestilah difahami dan dilihat dari kaca mata masyarakat itu sendiri. Walaupun Herodotos dan Strabo bergantung kepada sumber-sumber lain dalam penulisan mereka, tetapi jelas sekali bahawa mereka menggunakan sumber tersebut dengan penuh berhati-hati, kerana pada pendapat mereka sesuatu kenyataan yang dibuat oleh seseorang itu hanya dapat disahkan kebenarannya jika kita sendiri yang melakukan pemerhatiannya. Dalam hal ini mereka bolehlah dianggap sebagai ahli sains sosial ‘sebelum zaman persuratan’ (avant la lettre).
Sejarah perkembangan antropologi moden boleh juga dikatakan bermula dengan ahli falsafah abad ke-18 seperti David Hume dan Immanuel Kant. Hume, salah seorang daripada ahli empirisis British (sama seperti Locke dan Berkeley), menghujahkan bahawa pengalaman sendiri adalah satu-satunya sumber kepada pengetahuan sebenar yang boleh dipercayai. Beliau kemudiannya mempengaruhi dengan kuat para ahli sains sosial empiris, yang terdiri daripada beberapa orang pengasas yang terus terang menolak pegangan bahawa tanggapan dan tekaan boleh dijadikan sumber pengetahuan yang sah. Bagi golongan ini mereka sanggup keluar mengembara ke alam sosial serta menggunakan mata dan telinga untuk mengalami secara peribadi keadaan sebenar (perkataan ‘empiris’ sebenarnya bermakna ‘berasaskan pengalaman’). Kant pula telah cuba menolak beberapa pendapat Hume, dan beliau menghujahkan bahawa manusia mempunyai daya pemikiran atau kebolehan mental yang sama, yang dikatakan terletak pada cara mereka berfikir. Dalam perkataan lain, Kant berpendapat bahawa manusia itu dilahirkan dengan satu ‘formula’ tunggal untuk berfikir; justeru itu manusia di segenap pelusuk dunia berfikir dengan cara yang hampir sama. Usulan ini, yang berhubung dengan tret pemikiran yang sejagat (universal mental traits), telah menjadi satu fokus perbincangan yang penting dalam perkembangan antropologi moden.
Kebanyakan penulisan berkenaan sejarah antropologi bukan bermula dengan Herodotos atau Kant, tetapi dengan cendekiawan pertengahan abad ke-19. Asas kepada antropologi moden dapat dikaitkan dengan buku Ancient Law (1861) oleh Henry Maine dan beberapa buah buku Lewis Henry Morgan, termasuk Ancient Society (1877). Kedua-dua orang pengarang telah membina beberapa teori tentang ‘masyarakat primitif’, dan pandangan mereka terus berpengaruh sehingga jauh ke dalam abad ke-20. Maine, yang pernah menjalankan penyelidikan di India, telah mengemukakan perbezaan asas antara masyarakat yang berasaskan hubungan status dengan yang berasaskan hubungan kontrak, iaitu dua konsep kembar yang kemudiannya ternyata telah banyak mempengaruhi kita dalam membezakan masyarakat ‘tradisional’ daripada masyarakat ‘moden’. Dalam masyarakat yang berteraskan hubungan status atau yang tradisional sifatnya, Maine menegaskan bahawa faktor kekerabatan sangat penting dalam menentu-kan kedudukan seseorang; manakala dalam masyarakat yang berteraskan hubungan kontrak, kedudukan sosial seseorang itu ditentukan oleh pencapaian peribadinya berdasarkan kebolehan dan kepandaiannya.
Sumbangan Morgan yang sangat penting terhadap perkembangan awal antropologi ialah teori evolusi sosialnya. Beliau mengemukakan tiga tahap utama dalam evolusi atau perkembangan sesuatu masyarakat: savagery, barbarism, dan tamadun. Pada tahap savagery (liar buas), manusia hidup dengan memburu serta meramu; pada tahap barbarism (liar ganas), pertanian dan menternak haiwan menjadi cara hidup mereka; sementara masyarakat yang sudah mencapai tahap tamadun mempunyai sistem persuratan dan mampu membentuk sistem pemerintahan berkerajaan atau state.
Tahap perkembangan masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Morgan adalah salah satu daripada bentuk teori evolusi dalam abad ke-19. Antara yang sangat terkenal, dan yang pastinya sangat kompleks, ialah teori perkembangan sosial perjuangan kelas yang dipelopori oleh Karl Marx (lihat Bab 9). Walaupun Marx adalah seorang pemikir yang jauh lebih unggul daripada Morgan, tetapi Morganlah yang lebih penting dari segi sumbangan terhadap perkembangan awal antropologi kerana menumpukan minatnya terhadap masyarakat bukan-industri, dan juga kerana cara beliau menggunakan dengan teliti sumber-sumber etnografis.

Evolusionisme dan Difusionisme
Satu ciri antropologi pada abad ke-19 ialah pegangan kepada evolusi sosial — iaitu pendapat bahawa masyarakat berkembang mengikut arah yang tetap dan sehala — serta anggapan bahawa masyarakat Eropah adalah hasil yang terbentuk di penghujung perjalanan tersebut, yang semestinya mengambil masa yang sangat lama, bermula dengan tahap liar buas (savagery). Pandangan seperti ini menjadi satu kelaziman dalam zaman Victoria selain daripada kepercayaan bahawa kemajuan dan pencapaian teknologi yang mereka miliki itu adalah kemuncak kepada keunggulan mereka. Pada zaman yang samalah dasar penjajahan Eropah mula berkembang ke tempat lain. Bagi orang Eropah penjajahan perlu dilakukan kerana mereka mempunyai tanggung jawab untuk membela nasib masyarakat di luar Eropah selari dengan apa yang disebut oleh Rudyard Kipling sebagai ‘beban orang kulit putih’ (white man’s burden) -- kononnya orang Eropahlah yang bertanggungjawab dalam ‘mentamadunkan orang liar buas’ (to civilise the savages). Teori evolusi Charles Darwin, yang pertama kali diperkenalkan dalam bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection (1859), juga telah mempengaruhi kuat pemikiran intelektual dalam separuh kedua abad ke-19. Penyokong kuat Darwin, Herbert Spencer, telah mengemukakan aliran pemikiran Dawinisme Sosial, yang berpegang kepada pendapat bahawa masyarakat berkembang mengikut cara yang sama seperti yang dilalui oleh spesies haiwan dari segi adaptasi persekitaran, iaitu melalui persaingan sesama sendiri sehingga tinggal yang terunggul dan terkuat sahaja (survival of the fittest).
Satu lagi aliran pemikiran antropologi dalam abad ke-19 ialah difusionisme yang berpusat di Jerman, iaitu aliran yang berkaitan dengan penyebaran tret budaya mengikut kawasan geografis. Jika sekiranya golongan evolusionis berpendapat bahawa setiap masyarakat mempunyai keupayaan dalaman untuk mengalami perubahan, golongan difusionis pula berusaha untuk membuktikan bahawa kewujudan sesuatu tret budaya itu biasanya dibawa masuk dari luar. Walaupun sering terdapat percanggahan pendapat antara dua golongan tersebut, pada prinsipnya difusionisme tidak semestinya berlawanan sama sekali dengan evolusionisme; kedua-dua pendekatan pernah dan mungkin boleh diterima tanpa berat sebelah kepada mana-mana pihak. Dalam antropologi, minat terhadap difusionisme mula menurun sekitar Perang Dunia Pertama, kerana pada masa itu kebanyakan penyelidik telah menukar kaedah penyelidikan masing-masing dengan menumpu kepada satu-satu masyarakat secara mendalam tanpa menghiraukan sejarah perkembangan masyarakat berkenaan. Walaubagaimanapun, satu aliran teori yang mirip kepada difusionisme mula kembali dalam tahun 1990an, iaitu di bawah nama ‘globalisasi’ atau pensejagatan (lihat Bab 18). Pendekatan globalisasi cuba memahami dan menghuraikan bagaimana sistem perhubungan moden, penghijrahan penduduk, sistem kapitalis dunia dan pelbagai fenomena lain yang bersifat ‘global’ atau ‘sejagat’ mempengaruhi cara hidup penduduk tempatan di segenap pelusuk dunia.
Pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, muncul cendekiawan British seperti Edward Tylor, James Frazer dan W. H. R. Rivers. Melalui merekalah kita diperkenalkan dengan antropologi sosial moden. Tylor telah menulis tentang pelbagai tajuk, tetapi yang terpenting ialah takrifan ‘budaya’ yang digubal oleh beliau dalam tahun 1871. Oleh kerana takrifannya itulah Tylor terus diingati dalam sejarah perkembangan antropologi. Takrifan yang terkenal itu berbunyi: "Budaya atau tamadun, dalam erti kata etnografis yang luas, ialah gagasan keseluruhan yang merangkumi pengetahuan, kepercayaan, seni, tata susila, adat, dan apa sahaja kebolehan dan tingkah laku yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat’ (Tylor 1968 [1871]). Sehingga hari ini takrifan yang mula-mula sekali dibuat oleh Tylor terhadap ‘budaya’ masih lagi dianggap berguna oleh ramai antropologis.
Anak murid Tylor, James Frazer, telah menulis The Golden Bough (1890) dalam 12 jilid, iaitu sebuah karya yang sangat tebal walaupun dalam bentuk yang sudah diringkaskan (Frazer 1974 [1922]). Kandungannya terdiri daripada perbandingan yang sangat luas tentang agama dan ritus, serta pelbagai bentuk maklumat etnografis yang terperinci yang sangat bernilai dari segenap pelusuk dunia. Tylor dan Frazer adalah evolusionis, dan usaha utama Frazer dalam teorinya bertujuan membuktikan bagaimana pemikiran manusia itu berkembang, mula-mula dari tahap magis, kemudian ke tahap keagamaan, dan seterusnya ke tahap saintifik.
Tylor dan Frazer tidak pernah melakukan sebarang penyelidikan lapangan secara mendalam, walaupun Tylor sendiri pernah tinggal buat beberapa tahun di Mexico dan menulis sebuah buku di sana. Satu cerita yang diketahui ramai mengesahkan bagaimana William James, seorang ahli falsafah yang disegani, pernah bertanya kepada Frazer, sewaktu sama-sama menghadiri sebuah majlis makan malam, sama ada Frazer sendiri pernah bergaul dengan ahli masyarakat liar yang telah begitu banyak diperihalkan olehnya. Jawapan Frazer dikatakan sangat menakjubkan, kerana dengan nada yang terkejut beliau menjawab "Minta dijauhi tuhan hendaknya!’ (Evans-Pritchard 1962).
Keadaannya agak berlainan pula dengan W. H. R. Rivers dan rakan-rakannya, termasuk A. R. Haddon dan Charles Seligman. Mereka tidak bergantung sangat kepada laporan yang ditulis oleh mubaligh dan pengembara, yang kadang kalanya tidak begitu tepat. Sebaliknya mereka sendiri telah keluar ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. Rivers dan rakan-rakannya telah mengambil bahagian dalam sebuah lawatan penyelidikan ke Selat Torres (terletak di antara New Guinea dan Australia) dalam tahun 1898. Lawatan itulah yang dianggap oleh ramai sarjana sebagai pembuka tirai kepada era baru kerja lapangan dalam amalan antropologi moden.
Kemunculan Antropologi Moden
Franz Boas dan Bronislaw Malinowski seringkali dianggap sebagai antropologis moden yang pertama. Boas berketurunan Jerman, tetapi telah berhijrah ke Amerika Syarikat dalam tahun 1880an untuk mengkaji suku bangsa peribumi Amerika. Beliau sendiri telah melakukan penyelidikan yang terperinci di kalangan orang Inuit dan beberapa kaum lain, dan beliaulah satu-satunya orang yang telah menubuhkan tradisi antropologi budaya di Amerika. Beberapa orang antropologis yang terkenal seperti Alfred Kroeber, Ruth Benedict dan Margaret Mead berguru dengan Boas. Pengaruh beliau berkembang dengan mendalam dalam banyak bidang penyelidikan, tetapi sumbangannya yang terulung ialah dalam doktrin relativisme budaya (cultural relativism), iaitu pendapat bahawa sesuatu budaya itu mestilah difahami mengikut logik budaya masyarakat berkenaan. Mengikut pandangan tersebut agak mengelirukan dari segi analisis jika setiap budaya itu disusun mengikut tinggi rendah di atas anak tangga evolusi. Relativisme budaya masih lagi berguna sebagai alat dalam metodologi penyelidikan hingga hari ini; perhatian mendalam tentang pendekatan ini akan diberikan kemudian dalam buku ini.
Malinowski dilahirkan di Poland, tetapi beliau telah berhijrah ke Britain dalam tahun 1910. Sumbangan beliau yang sangat penting ialah penulisannya yang sangat terperinci lagi mendalam tentang kehidupan sosial di Kepulauan Trobriand yang terletak tidak jauh dari New Guinea. Kerja lapangan beliau di sana berterusan sehingga lebih dari dua tahun, iaitu dari tahun 1915 hingga 1918. Kerja lapangan seperti yang dilakukan oleh Malinowski, yang melibatkan hubungan rapat dan berterusan dengan penduduk tempatan, telah menjadi satu-satunya contoh penyelidikan yang terus menerus dikagumi dan ditauladani oleh generasi antropologis yang menyusul kemudian. Malinowski telah menekankan peri pentingnya dikaji hubungkait antara pelbagai aspek sosial dalam masyarakat, dan seterusnya berpendapat bahawa kerja lapangan yang memakan masa yang lama adalah sesuatu yang sangat penting. Satu perkara lagi yang sangat mustahak mengikut pengalaman Malinowski ialah kemahiran bertutur dalam bahasa tempatan. Monograf yang ditulis oleh Malinowski, Argonauts of the Western Pacific (1922) telah menjadi sebuah buku klasik dengan serta merta kerana pemerihalan etnografisnya yang sangat menyeluruh dan sistematis, serta kekuatannya dalam memberikan keyakinan kepada pembaca akan peri pentingnya mengkaji sesuatu fenomena sosial atau budaya itu secara mendalam dan menyeluruh.
Salah seorang daripada rakan sebaya Malinowski, yang juga tidak kurang hebatnya dari segi sumbangan kepada perkembangan antropologi, ialah A. R. Radcliffe-Brown. Beliau banyak dipengaruhi oleh ahli sosiologi Perancis yang terkenal, Émile Durkheim, melalui penulisannya berkenaan dengan kesepaduan sosial. Durkheim juga telah banyak menulis tentang pembahagian kerja (division of labour) dalam masyarakat ‘primitif’, dan juga berkenaan dengan agama dan totemisme (lihat Bab 13 dan 14). Bagi beliau masyarakat boleh dilihat sebagai satu gagasan organik yang menyeluruh yang terdiri daripada beberapa bahagian. Bahagian-bahagian ini, yang boleh disamakan dengan individu atau institusi sosial, memainkan peranan tertentu dalam memenuhi tuntutan dari segi fungsi sosialnya. Dengan perkataan lain bahagian inilah yang memainkan peranan penting dalam menyumbang kepada kestabilan masyarakat. Radcliffe-Brown telah menggunakan teori sosial Durkheim untuk menganalisis bahan etnografis yang dikumpulnya sendiri dan juga bahan etnografis beberapa penyelidik lain yang mengkaji pelbagai masyarakat ‘primitif’. Beliau memberi tekanan bahawa sesuatu masyarakat hendaklah dikaji dalam keadaan semula jadi dan persekitaran sebenar. Pendirian ini adalah lebih baik daripada pendekatan yang menggunakan kaedah persejarahan tekaan (conjectural history) seperti yang cenderung dilakukan oleh antropologis daripada generasi sebelumnya. Bahkan, kedua-dua orang antropologis, iaitu Malinowski dan Radcliffe-Brown, pernah memperlihatkan sikap kurang senang kaedah persejarahan budaya.
Radcliffe-Brown dianggap sebagai pengasas kepada pendekatan struktural-fungsionalisme dalam antropologi. Doktrina ini adalah berkenaan dengan peranan pelbagai institusi sosial dalam menyumbang kepada kestabilan masyarakat. Malinowski sendiri bukan seorang struktural-fungsionalis, biarpun beliau mengaku dirinya menggunakan pendekatan fungsionalis. Radcliffe-Brown dan pengikutnya berpendapat bahawa setiap individu dalam masyarakat, berserta dengan tindak tanduknya, sebenarnya adalah ‘hasil sampingan’ daripada kewujudan masyarakat yang merupakan lembaga yang lebih besar dan menyeluruh. Dalam hal ini tugas individu ialah menyumbang kepada kesepaduan dan keutuhan masyarakat dari segi maknanya yang lebih mendalam. Malinowski pula mempunyai pandangan yang berlainan; bagi beliau kewujudan masyarakat itu adalah untuk memenuhi kepentingan individu, bukan sebaliknya. Perbezaan pendapat antara kedua-dua tokoh, yang bermula pada masa perkembangan awal antropologi moden, berlarutan sehingga ke hari ini. Sesetengah antropologis berpendapat bahawa kewujudan masyarakat itu adalah ‘hasil sampingan’ yang tidak dirancang yang terbentuk daripada tindak tanduk manusia; sementara sesetengah antropologis pula menganggap bahawa individu atau orang perseorangan itu adalah hasil daripada wujudnya masyarakat.
Banyak lagi yang boleh disebut tentang tokoh-tokoh penting yang telah mewarnai pemikiran antropologi masa kini. Durkheim, dengan aliran pemikiran sosiologi Perancisnya, telah mempengaruhi perkembangan antropologi dengan begitu meluas sekali. Anak saudara beliau, Marcel Mauss, telah menulis beberapa karya, tetapi yang terpenting ialah berkenaan peranan hadiah dalam kehidupan sosial, Essai sur le don (The Gift, 1954 [1925]; lihat Bab 11). Lucien Lévy-Bruhl, rakan sebaya Mauss, telah menulis buku berkenaan pelbagai bentuk dan cara berfikir, iaitu penulisan yang akhirnya telah mencetus perdebatan hangat, berpanjangan dan begitu kompleks, berhubung dengan cara berfikir masyarakat ‘primitif’-- sama ada cara dan bentuk mereka berfikir itu jauh berbeza dengan bentuk dan cara berfikir orang ‘moden’ (lihat Bab 14). Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa, juga mesti disebut dalam konteks perdebatan yang sama kerana sumbangannya yang penting. Penulisan beliau berkenaan dengan struktur bahasa telah menjadi sumber ilham kepada salah satu daripada aliran pemikiran antropologi yang terulung dalam abad ini, iaitu strukturalisme, yang dipelopori oleh Claude Lévi-Strauss (Bab 7 dan 8).
Sigmund Freud, dengan teori psikoanalisisnya, juga mempunyai pengaruh yang kuat terutama sekali terhadap perkembangan antropologi di Amerika. Akhir sekali, tradisi sosiologi Jerman klasik, daripada Karl Marx, Ferdinand Tönnies, Max Weber dan lain-lain, terus menerus mempunyai pengaruh yang kuat ke atas pemikiran antropologi sosial masa kini. Dalam bab-bab seterusnya kita akan kembali semula membincangkan aliran pemikiran yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh agung dalam perkembangan teori sosial.
Tradisi Berlainan dalam Antropologi
Antropologi adalah satu bidang yang luas liputannya dan pelbagai pula sifatnya, yang diamalkan dalam bentuk yang berbeza-beza bergantung kepada tempat dan keadaan. Namun demikian antropologi masih tetap mempunyai sifatnya yang khusus walau di manapun diamalkan. Semenjak Perang Dunia Kedua, antropologi mendapat tempat penting di Great Britain, Amerika Syarikat, Perancis dan Australia. Antropologi British, yang umumnya lebih dikenali sebagai antropologi sosial, juga mempunyai kedudukan yang kuat di negara-negara Scandinavia dan India. Penekanannya adalah terhadap penelitian ke atas proses sosial; justeru itu sifatnya lebih dekat kepada sosiologi. Ahli antropologi sosial British, Edmund Leach (1982), pernah menyatakan bahawa kajiannya tidak lain dan tidak bukan adalah ‘sosiologi mikro perbandingan’ (comparative micro-sociology). Di Amerika Syarikat, orang lebih berminat untuk menggunakan istilah antropologi budaya, dan secara umumnya pengaruh sosiologi tidak begitu ketara seperti yang dapat kita lihat dalam tradisi antropologi sosial British. Namun demikian antropologi di Amerika telah banyak dipengaruhi bentuknya oleh linguistik dan pra-sejarah. Beberapa bentuk pengkhususan dalam sub-bidang antropologi seperti ekologi budaya, antropologi linguistik, serta pendekatan yang menggembeling kaedah psikologi dan interpretive anthropology atau hermeneutic anthropology, lahir di Amerika.
Perkembangan antropologi Perancis dalam zaman selepas perang mempunyai kaitan yang rapat dengan strukturalisme (lihat Bab 7), terutama sekali dengan sarjana seperti Claude Lévi-Strauss, Louis Dumont dan Maurice Godelier yang terkenal sebagai strukturalis yang menggunakan pendekatan Marxist. Antropologi Perancis juga mempunyai pengaruh yang kuat di Amerika Selatan, Itali dan di Semenanjung Iberia, serta sebahagiannya di Belgium dan Belanda.
Kepelbagaian pendekatan dalam antropologi seperti yang dinyatakan di atas tidak semestinya dibesar-besarkan. Walaupun terdapat perbezaan pada masa lepas (dan juga dewasa ini) antara mereka yang mengamalkan antropologi secara profesional di negara-negara tertentu, perkara pentingya ialah disiplin antropologi itu pada hakikatnya tetap satu — biarpun disiplin ini mempunyai pelbagai pengkhususan serta merangkumi pula aliran pemikiran yang berlainan. Dalam buku ini kita tidak banyak membezakan antara antropologi budaya dengan antropologi sosial, tetapi satu perkara yang harus diingat ialah pengembaraan kita bertolak daripada pendekatan antropologi sosial. Misalnya, dalam bab yang membincangkan konsep-konsep teoritis (Bab 3-5) sebahagian besar daripada kandungannya diasaskan kepada teori-teori sosiologi. Dari segi perspektifnya, buku ini bersifat perbandingan dalam erti kata bahawa setiap contoh atau kes yang dipaparkan itu dibandingkan, sama ada secara langsung atau tidak langsung, dengan fenomena yang sama dalam masyarakat yang berlainan.
Perisian Antropologi Secara Ringkas
Jadinya, apakah itu antropologi? Biarlah kita mulakan dengan etimologi atau asal usul istilahnya. Antropologi terdiri daripada dua patah perkataan Greek, anthropos dan logos, yang boleh diterjemahkan kepada ‘manusia’ dan ‘huraian’. Oleh itu antropologi bermakna ‘huraian tentang manusia’ atau ‘pengetahuan tentang manusia’. Sosial antropologi pula bermakna pengetahuan tentang manusia dalam masyarakat. Takrifan tersebut sudah tentulah merangkumi bidang sains sosial yang lain, tetapi buat permulaan takrifan ini sudah memadai.
Istilah culture (budaya) yang sangat penting dalam disiplin antropologi berasal daripada perkataan Latin colere, iaitu kata kerja yang bermakna ‘mencambah’ (cultivate). (Perkataan Inggeris colony juga mempunyai asal usul yang sama). Tetapi dalam hal ini apa yang dimaksudkan dengan perkara yang ‘dicambah’ itu ialah ‘budaya’, yang merupakan aspek kehidupan yang menjelma bukan secara semula jadi. Proses ini mesti dilalui dan dicapai oleh seseorang individu sebelum ia menjadi anggota sesuatu masyarakat. Oleh itu dalam antropologi ungakapan ‘mencambah budaya’, dalam pengertian yang lebih luas, membawa maksud ‘menanam kemampuan berbudaya seseorang manusia’. Antropologi budaya pula bermakna ‘pengetahuan berkenaan dengan manusia yang dicambah dengan budaya.’
Dalam penggunaannya dalam bahasa Inggeris istilah culture atau ‘budaya’ merupakan salah satu daripada dua atau tiga perkataan yang sangat rumit dan sangat bermasalah dari segi huraiannya (Williams 1981, h. 87). Pada awal 1950an Clyde Kluckhohn dan Alfred Kroeber (1952) telah mengemukakan tidak lebih daripada 161 takrifan budaya. Tidak mungkin dapat dibincangkan di sini sebahagian besar daripada takrifan tersebut; lagipun mujurlah sebilangan besar daripadanya mempunyai makna yang agak sama. Buat permulaan, biarlah kita mentakrifkan budaya sebagai tindak tanduk oleh seseorang sebagai anggota masyarakat, baik dari segi keupayaan melakukan sesuatu, kefahaman serta pola perlakuan, yang mesti dipelajari olehnya dan yang bukan muncul bersamanya secara semula jadi. Takrifan seperti ini sebenarnya merangkumi pandangan Tylor dan Geertz (walaupun Geertz pada hakikatnya lebih menekankan dari segi ‘makna’ daripada ‘perlakuan’). Takrifan ini jugalah yang biasanya dipakai oleh kebanyakan antropologis.
Namun demikian konsep budaya itu pada dasarnya membawa beberapa makna yang agak kabur. Dari satu segi, setiap manusia memang berbudaya; iaitu dalam erti kata bahawa istilah budaya itu sendiri merujuk kepada persamaan asas yang sedia terdapat pada setiap orang. Pada sudut yang lain pula, manusia secara berasingan mempelajari dan mempunyai keupayaan dan kebolehan yang berlainan, serta kefahaman dan pandangan yang berbeza dan sebagainya; justeru itu sesama merekapun terdapat perbezaan semata-mata kerana pengalaman budaya masing-masing yang berlainan. Oleh yang demikian, perkara penting yang harus kita ingat ialah budaya merujuk kepada persamaan asas dan juga kepada perbezaan yang sistematis di kalangan manusia.
Hubungan antara budaya dan masyarakat boleh dihuraikan seperti berikut. Budaya merujuk kepada aspek kehidupan yang dipelajari oleh seseorang atau yang ‘dicambah’ pada diri seseorang, yang bersifat kognitif dan simbolis, manakala masyarakat merujuk kepada organisasi sosial yang merangkumi kehidupan manusia, dari segi pola pergaulan (atau interaksi) dan hubungan kuasa. Perbezaan dari segi analisisnya mungkin nampak mengelirukan pada peringkat ini, tetapi perkara ini akan menjadi lebih jelas dalam perbincangan kemudian nanti.
Satu takrifan ringkas antropologi boleh berbunyi seperti berikut: "Antropologi ialah kajian perbandingan mengenai budaya dan kehidupan sosial. Metod atau kaedah kajiannya yang paling penting ialah pemerhatian ikutserta (participant observation), yang terdiri daripada kerja lapangan yang memakan masa yang lama, yang dijalankan dalam sebuah persekitaran sosial yang khusus." Pendekatan dalam disiplin ini ialah membandingkan aspek-aspek tertentu yang terdapat di kalangan masyarakat yang berlainan, serta terus berusaha mencari unsur-unsur lain yang boleh dijadikan asas perbandingan. Sebagai contoh, jika kita memilih untuk menulis monograf berkenaan dengan sebuah masyarakat di kawasan tanah tinggi New Guinea, biasanya cara terbaik untuk berbuat demikian ialah dengan menggunakan beberapa konsep tertentu (seperti kekerabatan, gender dan kuasa) bagi memerihalkannya; iaitu konsep yang membolehkan kita membuat perbandingan dengan perkara-perkara yang sama dalam masyarakat yang berlainan.
Selanjutnya, disiplin ini menekankan betapa pentingnya kita melakukan kerja lapangan, iaitu pemerhatian terperinci terhadap sesuatu persekitaran sosial dan budaya, yang biasanya memerlukan kehadiran penyelidik untuk satu tempoh masa yang agak lama, biasanya satu tahun atau lebih.
Jelaslah bahawa antropologi mempunyai banyak persamaan dengan disiplin lain dalam sains sosial dan kemanusiaan. Bahkan, satu persoalan yang agak rumit yang sering ditimbulkan ialah menentukan sama ada antropologi itu tergolong dalam bidang sains atau bidang kemanusiaan. Persoalannya ialah adakah kita mencari hukum umum, seperti yang dilakukan oleh ahli sains tulen. Sebaliknya, adakah kita cuba memahami dan membuat pentafsiran terhadap masyarakat yang berlainan? Dua orang tokoh terkenal, E. E. Evans-Pritchard di Britain dan Alfred Kroeber di Amerika Syarikat, pernah menekankan dalam sekitar tahun 1950, bahawa antropologi mempunyai lebih banyak persamaan dengan sejarah daripada sains tulen. Pendapat mereka pada masa itu dianggap hampir karut, tetapi sekarang pandangan tersebut sudah menjadi perkara biasa di kalangan kebanyakan antropologis. Namun demikian, masih terdapat segelintir antropologis yang berpendapat bahawa antropologi sepatutnya mempunyai pendekatan ketat yang lebih saintifik, sama seperti yang diamalkan dalam bidang sains tulen.
Sebahagian daripada pendapat yang berlainan yang disebut di atas akan dibincangkan dalam bab yang menyusul. Beberapa sifat utama yang mencirikan antropologi terdapat pada semua yang mengamalkan disiplin ini; antropologi bersifat perbandingan dan empiris; kaedah atau metodologinya yang sangat penting ialah kerja lapangan; dan antropologilah yang sebenarnya mempunyai fokus kepada sesuatu isu secara sejagat, dalam pengertian bahawa disiplin ini tidak pernah menganggap mana-mana kawasan geografis, atau mana-mana masyarakat sebagai lebih penting daripada yang lain. Berbeza dengan sosiologi, antropologi tidak menumpukan perhatiannya ke atas masyarakat industri; berbeza dengan falsafah, antropologi menekankan peri pentingnya penyelidikan empiris; berbeza dengan sejarah, antropologi mengkaji masyarakat pada detik dan ketika wujudnya masyarakat berkenaan; dan berbeza dengan linguistik, antropologi menekankan konteks sosial dan budaya sesuatu bahasa yang dituturkan. Sudah tentulah terdapat banyak tindan lapis dalam antropologi dengan disiplin sains yang lain. Pastinya juga antropologi mempelajari banyak perkara daripada disiplin tersebut. Namun demikian antropologi mempunyai sifatnya yang tersendiri sebagai salah satu daripada disiplin akademik. Antropologi, pada masa yang sama, cuba menghuraikan kewujudan kepelbagaian dalam dunia, serta cuba pula membina perspektif teori dalam pendekatan terhadap budaya dan masyarakat.
Sebelum kita membincangkan dalam bab yang menyusul kaedah kerja lapangan dalam penyelidikan antropologi, ada baiknya jika disentuh beberapa lagi sifat penting antropologi.
Gambar 1.1: Sebelum Perang Dunia Kedua terdapat beberapa pertunjukan 'kabilah negro' (negro caravans) yang sangat diminati oleh penduduk di bandar-bandar besar Eropah. Dalam pertunjukan itu orang Afrika dijadikan bahan tontonan seperti haiwan di zoo. Gambar ini menunjukkan 'perkampungan negro' di Christiana (sekarang Oslo) dalam tahun 1914. Soalannya sekarang ialah sejauh manakah tanggapan umum orang Eropah terhadap 'masyarakat eksotik' seperti ini telah berubah semenjak zaman tersebut? (Gambar daripada ihsan Museum Etnografi Oslo)

Etnosentrisme
Sesuatu masyarakat atau budaya, seperti yang dinyatakan sebelum ini, mestilah difahami dalam peristilahannya sendiri. Dalam mengatakan demikian bukanlah bermakna bahawa kita bersetuju dengan penggunaan satu bentuk ukuran umum bagi menilai sesuatu masyarakat. Ukuran tersebut tersebut mungkin merangkumi jangka hayat, keluaran negara kasar (gross national product), hak demokrasi, kadar celik huruf, dan sebagainya. Tidak berapa lama dahulu satu amalan yang sering dilakukan oleh masyarakat Eropah ialah menilai masyarakat di luar Eropah mengikut peratusan penduduknya yang memeluk agama Kristian. Seandainya peratusan itu tinggi maka tinggilah kedudukan negara tersebut mengikut kayu ukuran yang digunakan. Penilaian terhadap manusia seperti yang dilakukan itu sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan antropologi. Oleh itu, jika kita ingin menilai mutu hidup dalam sesebuah negara atau masyarakat luar, kita mestilah terlebih dahulu memahami masyarakat itu dari dalam; jika tidak penilaian yang kita buat itu mempunyai nilai ilmiah yang sangat terbatas. Apa yang dianggap sebagai ‘gaya hidup yang baik’ dalam masyarakat Eropah misalnya, tidak semestinya menarik dan sangat-sangat dikehendaki jika dinilai dari sudut dan kedudukan masyarakat lain. Bagi memahami erti sebenar kehidupan sosial sesuatu masyarakat, maka sangat perlu untuk kita cuba mendalami terlebih dahulu bagaimana alam nyata sesuatu masyarakat difahami dan dirasai sendiri oleh ahli-ahlinya. Untuk berjaya dalam usaha ini, maka tidak memadai jika kita hanya memilih beberapa ‘angkubah’ sahaja. Ternyata bahawa penggunaan konsep seperti ‘pendapatan tahunan’ tidak sesuai sama sekali bagi sebuah masyarakat yang tidak mengenali mata wang serta tidak tahu akan kaedah kerja yang diupah dengan wang.
Penghujahan seperti di atas bolehlah dianggap sebagai amaran awal terhadap etnosentrisme. Istilah tersebut berasal daripada perkataan Yunani (ethnos bermaksud ‘orang’) Etnosentrisme membawa maksud bahawa kita menilai masyarakat lain daripada kaca mata kita sendiri, serta memperihalkan mereka dalam peristilahan kita. Dengan demikian, ciri-ciri ethnos yang ada pada diri kita, termasuk nilai budaya kita, dijadikan kayu ukur dalam penilaian tersebut. Justeru itu tidak hairanlah jika orang lain atau masyarakat asing kelihatan begitu rendah taraf sosial dan budaya mereka jika dipandang dari kaca mata ethnos kita. Misalnya jika kita mendapati bahawa di kalangan masyarakat Nuer kemudahan pinjaman untuk membeli rumah daripada institusi kewangan sukar diperolehi, maka kita tidak boleh membuat kesimpulan bahawa masyarakat Nuer tidaklah sesempurna masyarakat kita. Jika kita mendapati bahawa kemudahan bekalan elektrik tidak terdapat di kalangan orang Kwakiutl di pantai barat Amerika Utara, maka kita tidak boleh membuat kesimpulan bahawa cara hidup orang Kwakiutl itu tidak sejahtera berbanding dengan cara hidup kita. Jika sekiranya orang Kachin di sebelah utara Myanmar menolak agama Kristian, maka kita tidak boleh menganggap bahawa orang Kachin tidak bertamadun. Jika sekiranya orang San (kaum Bushmen) di gurun Kalahari buta huruf, maka kita tidak boleh terus menyatakan bahawa mereka itu tidak pintar. Jika sekiranya kita terus menerus mempunyai pandangan berunsur etnosentrisme, maka ternyata bahawa kita sama sekali tidak memberikan sebarang peluang bagi orang lain untuk mempunyai sebarang perbezaan dan hidup dalam persekitaran sosial dan budaya yang berlainan.
Pandangan etnosentrisme juga merupakan satu halangan besar kepada usaha untuk memahami masyarakat dan budaya lain dalam peristilahan mereka sendiri. Sebenarnya antropologi tidak membandingkan masyarakat asing dengan masyarakat sendiri serta menyusun pelbagai masyarakat pada tahap tinggi rendah, serta meletakkan masyarakat kita pada anak tangga paling atas. Sebaliknya antropologi menghendaki kita memahami masyarakat yang berlainan itu seperti yang kelihatan daripada dalam masyarakat berkenaan. Antropologi tidak dapat memberikan jawapan yang tepat kepada soalan yang berbunyi seperti berikut: "Antara banyak masyarakat, masyarakat manakah yang paling baik." Jawapannya memang tidak akan wujud semata-mata kerana sememangnya bukan sifat semula jadi disiplin antropologi untuk bertanyakan soalan seperti ini. Jika ditanya apakah bentuk hidup dan masyarakat yang sempurna, maka antropologis hanya boleh memberikan jawapan bahawa setiap masyarakat itu mempunyai takrifan masing-masing terhadap soalan tersebut yang sudah pasti mempunyai pengertian yang berbeza-beza.
Lagipun, masalah etnosentrisme sangat sukar untuk dikesan jika dibandingkan dengan pendirian yang bersifat moralis. Etnosentrisme juga boleh mempengaruhi konsep yang kita gunakan untuk memahami pelbagai masyarakat di muka bumi. Misalnya kita tidak boleh menggunakan konsep ‘politik’ dan ‘kekerabatan’ bagi masyarakat yang ternyata tidak mempunyai pemahaman asas terhadap kedua-dua konsep ini. Istilah politik mungkin terdapat dalam masyarakat asal ahli etnografis, tetapi istilah tersebut mungkin tidak ada dalam masyarakat yang dikajinya. Masalah asas seperti ini akan dibincangkan kemudian dengan lebih mendalam lagi.
Relativisme budaya pula sering dikatakan berlawanan dengan etnosentrisme. Mengikut relativisme budaya setiap masyarakat atau budaya itu berbeza-beza antara satu sama lain dari segi mutu hidup dan sebagainya, serta masing-masingya mempunyai logik dalaman yang unik dan tersendiri. Justeru itu agak tidak tepat dari segi kaedah saintifiknya jika kita menilai masyarakat tersebut dengan meletakkan mereka pada skala tinggi rendah. Sebagai contoh, katakan kita menggunakan angkubah ‘celik huruf’ dan ‘pendapatan tahunan’ untuk membuat penilaian terhadap masyarakat San. Oleh kerana di kalangan orang San kadar tersebut sangat rendah, maka kita letakkan masyarakat San pada tahap yang terkebawah pada anak tangga berkenaan. Sebenarnya penilaian seperti ini tidak membawa sebarang makna kerana dalam masyarakat San wang dan buku tidak begitu diutamakan. Jelaslah bahawa dalam kerangka pendekatan relativisme budaya, kita tidak boleh mengatakan bahawa masyarakat yang mempunyai jumlah kereta yang banyak itu adalah masyarakat yang ‘lebih baik’ daripada masyarakat yang mempunyai jumlah kereta yang kurang; atau nisbah bilangan panggung wayang dengan jumlah penduduk adalah satu petunjuk yang tepat terhadap mutu hidup bagi sesebuah masyarakat.
Namun demikian, relativisme budaya adalah ketetapan teoritis yang tidak boleh dipersoalkan serta menjadi satu kemestian dan alat utama sebagai kaedah atau metodologi untuk memahami masyarakat asing sebaik mungkin tanpa menaruh sebarang buruk sangka. Dari segi etikanya, mengamalkan relativisme budaya barangkali agak sukar, kerana nampaknya setiap perkara yang wujud dalam sesuatu masyarakat itu sama baiknya dengan yang terdapat dalam masyarakat lain. Akhirnya pendirian seperti ini mungin akan mengarah kepada nihilisme, iaitu doktrina yang mengatakan bahawa tiada sebarang asas yang kukuh bagi sesuatu kebenaran, sementara kewujudan itu tidak membawa apa-apa makna; justeru itu membuat penilaian ke atas sesuatu yang wujud itu adalah satu usaha yang sia-sia. Sebab itulah kena pada masanya jika dikatakan bahawa walaupun antropologis adalah pengamal relativisme budaya yang sangat ketat semasa menjalankan tugas seharian mereka, tetapi dalam menjalani kehidupan peribadi masing-masing, antropologis adalah manusia biasa. Kadang kalanya mereka juga mempunyai pendirian serta nilai yang dogmatis terhadap apa yang betul dan apa yang salah.
Akhir kata relativisme budaya tidak boleh dianggap bertentangan sama sekali dengan etnosentrisme, kerana relativisme budaya yang sebenar bebas daripada sebarang prinsip moral. Bagi antropologi, prinsip relativisme budaya berguna sebagai alat metodologi atau kaedah sahaja, tidak leboh daripada itu. Alat inilah yang akan membantu kita meneliti dan membandingkan masyarakat tanpa meletakkan mana-mana masyarakat pada anak tangga dan ukuran moral. Tetapi kenyataan ini bukan pula bermakna bahawa dalam pendekatan ini tidak ada perbezaan antara perlakuan yang salah dengan perlakuan yang betul.
Akhir sekali, kita harus sedar bahawa ramai antropologis berhasrat untuk mencari apakah ciri-ciri serta unsur kemanusiaan sepunya yang terdapat pada setiap masyarakat atau kumpulan manusia. Tidak semestinya terdapat sebarang percanggahan antara usaha seperti ini dengan pendekatan relativisme budaya, biarpun universalisme kadangkala dikatakan bertentangan sifatnya dengan relativisme budaya. Pada satu tahap tertentu dalam analisis antropologi, tidak ada salahnya jika seseorang itu menggunakan pendekatan relativisme jika pada masa yang sama ia juga berpendirian bahawa di kalangan masyarakat yang pelbagai itu tetap terdapat satu pola sepunya. Tidak hairanlah jika ramai yang akan mengaku bahawa antropologi adalah berkenaan dengan perkara berikut: mencari keunikan pada setiap persekitaran budaya semua masyarakat dan petunjuk bahawa alam kemanusiaan itu sebenarnya adalah satu.
Cadangan Bacaan Tambahan
E. E. Evans-Pritchard: Social Anthropology. Glencoe: Free Press 1951.
Clifford Geertz: The Uses of Diversity. Dalam Assessing Cultural Anthropology, suntingan Robert Borofsky. New York: McGraw-Hill 1994.
Adam Kuper: Anthropology and Anthropologists: The Modern Bristish School. London: Routledge & Kegan Paul 1983.
Kotak 1
Franz Boas (1859-1941), dilahirkan di Minden, Westphalia (Jerman), belajar ilmu geografi di negara asal Jerman tetapi bertukar minat kepada antropologi setelah menyertai satu lawatan penyelidikan ke Artik (di Khutub Utara) dalam tahun 1883-4. Kemudian beliau telah berhijrah ke Amerika Syarikat dan seterusnya menjadi warna negaranya. Boas adalah satu-satunya pengasas yang tiada tandingannya dalam mewujudkan antropologi budaya di Amerika. Beliau telah menjalankan kerja lapangan di kalangan orang Inuit (Eskimo) di samping beberapa kaum asli di Amerika; penulisannya yang begitu banyak menjangkau lima puluh tahun, dan beliau wajar dipanggil bapa kepada antropologi Amerika moden. Bahkan empat bidang utama penelitian beliau — yang terdiri daripada etnologi, linguistik, arkeologi dan antropologi fizikal — masih menjadi teras kepada antropologi Amerika.
Beliau tidak bersetuju dengan golongan evolusionis yang dipelopori oleh Tylor dan didokong oleh antropologis Eropah yang lain. Justeru itu beliau memilih untuk mengembangkan aliran pemikirannya sendiri yang pada hari ini dikenali sebagai partikularisme sejarah (historical particularism); iaitu pendapat bahawa evolusi sesuatu masyarakat (atau budaya) mestilah dilihat dalam konteks dinamik masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini Boas juga mempunyai pendirian yang berbeza dengan antropologis British, walaupun pada dasarnya beliau sekata dengan mereka dari segi pendirian terhadap peri pentingya melakukan kerja lapangan yang terperinci. Berbeza dengan Radcliffe-Brown dan Malinowski, Boas menekankan konsep kepelbagaian budaya (cultural variation) serta keunikan setiap budaya. Penekanan ini terbayang apabila Boas menolak kerangka umum penghuraian sesuatu fenomena budaya seperti yang biasa dilakukan oleh antropologis British. Namun demikian, pada tahap yang lain pula Boas sealiran dengan mereka kerana beliau juga berusaha untuk mencari pola-pola tertentu dalam perlakuan dan keseragaman silang budaya, terutama sekali pada paras psikologi. Mungkin Boas adalah orang yang pertama kali menyusun formula untuk relativisme budaya. Tetapi keunggulan beliau yang sebenar ialah penekanannya terhadap tatacara mengutip data empiris, yang mesti dilakukan dengan setepat mungkin serta dengan teratur. Sifatnya yang sangat teliti itu boleh dikaitkan kepada dua sebab: pertama, Boas mempunyai cara berfikir seperti seorang saintis; kedua, Boas sendiri telah menyaksikan bagaimana perubahan budaya yang begitu cepat telah menghapuskan banyak budaya yang dianggap unik, terutama sekali di Amerika Utara. Dalam bukunya The Mind of Primitive Man (1911), Boas berpendapat bahawa antropologi sepatutnya juga bertindak bagi membela masyarakat peribumi yang diancam oleh perubahan budaya.



Kotak 2
Alfred Reginald Radcliffe-Brown (188I-1955), pengasas antropologi British (the British school). Beliau pernah menjadi pensyarah di beberapa buah universiti, dari Cape Town hingga ke Chicago, dan telah banyak mempengaruhi penyebaran dan perkembangan antropologi dalam tempoh di antara Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Radcliffe-Brown sendiri dipengaruhi oleh teori sosial Durkheim, yang beliau gunakan dan kembangkan dalam analisis empirisnya, terutama dalam The Andaman Islanders (1922) dan The Social Organization of Australian Tribes (1931). Dalam dua buku tersebut dan juga dalam Structure and Function in Primitive Society (1952), beliau telah memperkenalkan pendekatan struktural-fungsionalisme dalam antropologi: iaitu doktrin yang berhubung dengan kesepaduan kemasyarakatan, serta bagaimana institusi sosial saling bergantung antara satu sama lain bagi menyumbang ke arah penubuhan masyarakat yang berterusan.
Pandangan saintifik Radcliffe-Brown diasaskan kepada ilmu sains tulen. Harapan beliau ialah mewujudkan satu ‘hukum umum berkenaan dengan masyarakat’ (general laws of society) yang setanding, dari segi ketepatannya, dengan hukum tabii dalam ilmu fizik dan kimia. Cita-cita ini nampaknya telah diketepikan oleh kebanyakan antropologis — seperti juga halnya dengan nasib struktur-fungsionalisme tulen. Namun demikian, sebahagian besar daripada persoalan yang dikemukakan oleh antropologis pada masa kini, terutama sekali di Eropah, pernah ditimbulkan sebelumnya oleh Radcliffe-Brown.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms