Selasa, 22 Maret 2011

Acep Zamzam Noor

Sastrawan
Acep Zamzam Noor

Penyair asal Cipasung, Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor terpilih menjadi sastrawan Indonesia yang berhak menerima anugerah Sastra Asia Tenggara tahun 2005. Sebuah tradisi anugerah sastra yang kemudian dikenal dengan South East Asian (SEA) Write Award, sejak tahun 1987 diberikan oleh Kerajaan Thailand kepada para sastrawan di Asia Tenggara.

Terpilihnya Acep sebagai penerima SEA Award diputuskan oleh Tim Penilai Penghargaan Karya Sastra Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, dan Pusat Bahasa, pada tanggal 5 Juli 2005 yang lalu, yang terdiri dari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Abdul Rozak Zaidan M.A., Dr. Boen Oemarjati, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dalam lembar berita acara yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa disebutkan penetapan Acep sebagai penerima SEA Award 2005 karena ia merupakan penyair Indonesia yang menulis sajak secara terus-menerus, dengan mempertahankan kualitas dan ciri khas. Dia menunjukkan tingkat pencapaian artistik yang tinggi dalam sajak-sajak yang diciptakannya.

Sementara karya yang menjadi rujukan penilaian adalah karya-karya para sastrawan yang terbit dalam 5 tahun terakhir. Dan kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Jalan Menuju Rumahmu yang terbit pada tahun 2004, menjadi karya yang menerbangkannya ke Bangkok untuk menerima anugrah tersebut. Sebuah sajak dengan pilihan tematik yang mungkin terkesan bersahaja atau telah menjadi umum. Pencarian, harapan, kesunyian, dalam ruang eksistensial manusia yang dibayangi oleh kegamangan pada sebuah tujuan.

Di antara 100 puisinya dalam kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu, sajak Aku Menuju Rumahmuitu agaknya memang bukanlah puisi terbaik Acep. Baginya sajak itu bisa mewakili seluruh napas puisi dalam kumpulannya yang telah menyita waktunya selama 5 tahun sejak pihak penerbit menghubunginya. Saya merasa judul ini menggambarkan secara keseluruhan. Baik dari tema, juga dari pencarian bentuk. Sajak itu saya anggap juga merupakan bagian dari kesadaran untuk mencari jalan menuju sesuatu,”ujarnya.

Kumpulan ini agaknya bisa dianggap mewakili perjalanan kepenyairan Acep selama 33 tahun. Satu hal yang menjadi penanda tegas dalam kumpulan penyair penerima penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 Depdiknas ini adalah kekuatannya dalam mengolah citraan alam. Sebagai penyair dengan puisi-puisi liris, sejak kumpulannya yang pertama Tamparlah Mukaku! (1982), Acep telah menunjukkan style pengucapannya dalam mencari dan menemukan idiom, metafor, dan imaji-imaji alam yang merdu sekaligus mengejutkan.

Apakah itu ada hubungannya dengan kenyataannya bahwa saya seorang pelukis atau tidak, saya tidak tahu. Semuanya terjadi di bawah sadar saja. Memang banyak anggapan seperti itu,”ujar penyair jebolan FSRD ITB ini.

                              (Berbagai Sumber)

0 komentar:

Poskan Komentar

Selasa, 22 Maret 2011

Acep Zamzam Noor

Sastrawan
Acep Zamzam Noor

Penyair asal Cipasung, Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor terpilih menjadi sastrawan Indonesia yang berhak menerima anugerah Sastra Asia Tenggara tahun 2005. Sebuah tradisi anugerah sastra yang kemudian dikenal dengan South East Asian (SEA) Write Award, sejak tahun 1987 diberikan oleh Kerajaan Thailand kepada para sastrawan di Asia Tenggara.

Terpilihnya Acep sebagai penerima SEA Award diputuskan oleh Tim Penilai Penghargaan Karya Sastra Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, dan Pusat Bahasa, pada tanggal 5 Juli 2005 yang lalu, yang terdiri dari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Abdul Rozak Zaidan M.A., Dr. Boen Oemarjati, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dalam lembar berita acara yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa disebutkan penetapan Acep sebagai penerima SEA Award 2005 karena ia merupakan penyair Indonesia yang menulis sajak secara terus-menerus, dengan mempertahankan kualitas dan ciri khas. Dia menunjukkan tingkat pencapaian artistik yang tinggi dalam sajak-sajak yang diciptakannya.

Sementara karya yang menjadi rujukan penilaian adalah karya-karya para sastrawan yang terbit dalam 5 tahun terakhir. Dan kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Jalan Menuju Rumahmu yang terbit pada tahun 2004, menjadi karya yang menerbangkannya ke Bangkok untuk menerima anugrah tersebut. Sebuah sajak dengan pilihan tematik yang mungkin terkesan bersahaja atau telah menjadi umum. Pencarian, harapan, kesunyian, dalam ruang eksistensial manusia yang dibayangi oleh kegamangan pada sebuah tujuan.

Di antara 100 puisinya dalam kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu, sajak Aku Menuju Rumahmuitu agaknya memang bukanlah puisi terbaik Acep. Baginya sajak itu bisa mewakili seluruh napas puisi dalam kumpulannya yang telah menyita waktunya selama 5 tahun sejak pihak penerbit menghubunginya. Saya merasa judul ini menggambarkan secara keseluruhan. Baik dari tema, juga dari pencarian bentuk. Sajak itu saya anggap juga merupakan bagian dari kesadaran untuk mencari jalan menuju sesuatu,”ujarnya.

Kumpulan ini agaknya bisa dianggap mewakili perjalanan kepenyairan Acep selama 33 tahun. Satu hal yang menjadi penanda tegas dalam kumpulan penyair penerima penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 Depdiknas ini adalah kekuatannya dalam mengolah citraan alam. Sebagai penyair dengan puisi-puisi liris, sejak kumpulannya yang pertama Tamparlah Mukaku! (1982), Acep telah menunjukkan style pengucapannya dalam mencari dan menemukan idiom, metafor, dan imaji-imaji alam yang merdu sekaligus mengejutkan.

Apakah itu ada hubungannya dengan kenyataannya bahwa saya seorang pelukis atau tidak, saya tidak tahu. Semuanya terjadi di bawah sadar saja. Memang banyak anggapan seperti itu,”ujar penyair jebolan FSRD ITB ini.

                              (Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms