Kamis, 21 April 2011

Apa Sih Filsafat Indonesia?

Berawal dari pertanyaan yang tiba-tiba menggelitik gue dua tahun yang lalu (2005) "kenapa sih gak ada Filsafat Indonesia?". Padahal orang Indonesia gak kalah jeniusnya, gak kalah gokilnya, gak kalah kreatifnya dan gak kalah pinternya dengan orang di wilayah dunia yang lain. Maka, dengan bekal nekat dan dengan dukungan temen-temen nongkrong dan temen-temen diskusi, gue akhirnya mutusin buat meneliti dan membuat riset tentang Filsafat Indonesia. Alhasil, riset gue itu menghasilkan kajian baru yang gue beri nama dengan 'Kajian Filsafat Indonesia".

Ternyata gue gak sendirian. Sebelum gue, sudah ada beberapa pakar filsafat yang sudah mikirin hal yang sama dengan gue. Mereka misalnya Mohammad Nasroen (1907-1968) , beliau adalah guru besar filsafat di Universitas Indonesia. Dia sempet nulis buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, judulnya Falsafah Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1967), yang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dikategorikan sebagai ‘buku langka’ dengan Nomor Panggil (Shelf Number) 181.16 NAS f.

Dalam karyanya itu, Nasroen menegaskan keberbedaan Filsafat Indonesia dengan Filsafat Barat (Yunani-Kuno) dan Filsafat Timur, lalu mencapai satu kesimpulan bahwa Filsafat Indonesia adalah suatu Filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan (hal.14, 24, 25, 33, dan 38).

Terus, Soenoto (lahir tahun 1929), seorang mantan Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979), yang juga nulis beberapa buku tentang Filsafat Indonesia, seperti Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta: Hanindita Offset, 1987).

Dalam ketiga bukunya itu, Soenoto nyempurnain karya rintisan Nasroen dengan menelusuri tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang detil banget tentang tradisi itu.

Tokoh selanjutnya ialah R. Parmono (lahir tahun 1952), yang pernah jadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat Indonesia di UGM yang dirintisnya bersama-sama dengan Soenoto. Dia juga nulis beberapa buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, seperti Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).

Dalam Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono nyempurnain kekurangan kajian Soenoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan ngelebarin lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis.

Terakhir, ialah Jakob Sumardjo (lahir di Klaten tahun 1939), seorang budayawan Bandung dari ITB. Buku-bukunya yang khusus ngebahas Filsafat Indonesia ialah: Arkeologi Budaya Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002, ISBN: 979-9440-29-7), dan Mencari Sukma Indonesia: Pendataan Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan (Yogyakarta: AK Group, 2003).

Dalam karyanya Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob ngebahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’, yang secara kronologis maparin sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Terus, dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara radikal amat berbeda coraknya dari ‘Filsafat Indonesia Lama’.

Keempat tokoh itu dah ngedahuluan gue, jadi menurut gue pantaslah kalo mereka gue sebut dengan 'para pelopor Filsafat Indonesia'. Gue cuma ngepopulerin apa yang udah ditemuin oleh mereka jauh-jauh hari. Peran gue cuma recalling (nginget-ngingetin lo lo pade), bahwa di Indonesia pun ada tradisi berpikir spekulatif yang udah berumur panjang (kata Mochtar Lubis dalam bukunya Indonesia: Land under the Rainbow, dah sejak era neolitik sekitar 3500 SM ampe sekarang!). Tradisi berpikir itu dibahas dalam kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'. Jadi, gitu deh sejarahnya knapa ada kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'.

Nah, kalo ada yang nanya "apa sih definisi Filsafat Indonesia?", gue akan ngutip apa yang dah gue tulis di Wikipedia Indonesia n Wikipedia Inggris. Filsafat Indonesia ialah "sebutan umum untuk tradisi kefilsafatan yang dilakukan oleh penduduk yang mendiami wilayah yang belakangan disebut Indonesia. Filsafat Indonesia diungkap dalam pelbagai bahasa yang hidup dan masih dituturkan di Indonesia (sekitar 587 bahasa) dan 'bahasa persatuan' Bahasa Indonesia, meliputi aneka mazhab pemikiran yang menerima pengaruh Timur dan Barat, disamping tema-tema filosofisnya yang asli."

Siapa aje filosof Imdonesia? Mochtar Lubis ngejawab bahwa filosof Indonesia yang paling termula ialah para leluhur, yakni para bijak dan para cerdik pandai yang hidup dalam suku-suku etnis asli Indonesia (orang Barat nyebut mereka 'primitif'), seperti suku Sakuddei di Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), suku Atoni di Timor Timur, suku Marind-Anim di Papua (Irian Barat), juga di suku Minangkabau, Jawa, Nias, Batak, dan lain-lain (Lubis 1990:1-40). Trus, pas migrant-migran Tiongkok pada datang ke Indonesia antara tahun 1122-222 SM, mereka membawa-serta dan memperkenalkan Taoisme dan Konfusianisme kepada mereka (Larope 1986:4). Pada sekitar tahun 1000 M adalah masa berkembangnya alam pikiran Indonesia (Filsafat Indonesia), yang ditandai dengan kemunculan tradisi literer-filosofis Hindu-Buddha pengaruh India. Ntar, sejak awal tahun 1400-an hingga seterusnya, datanglah pemikiran Islam ke Indonesia. Terakhir, di awal abad 19 M datanglah Filsafat Barat dari orang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda yang datang ke Indonesia. Jadi, hampir semua filsafat di dunia pernah tersebar di Indonesia.

Gue rasa cukup dulu untuk perkenalan ini. Gue janji gue akan tulis buat artikel mendatang buat lo lo pade, pembaca blog gue yang kebetulan ngeliat artikel ini, yang ngebahas tentang Filsafatnya para leluhur kita, yaitu Filsafat Etnis Asli di Indonesia. See you again next time!

0 komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 21 April 2011

Apa Sih Filsafat Indonesia?

Berawal dari pertanyaan yang tiba-tiba menggelitik gue dua tahun yang lalu (2005) "kenapa sih gak ada Filsafat Indonesia?". Padahal orang Indonesia gak kalah jeniusnya, gak kalah gokilnya, gak kalah kreatifnya dan gak kalah pinternya dengan orang di wilayah dunia yang lain. Maka, dengan bekal nekat dan dengan dukungan temen-temen nongkrong dan temen-temen diskusi, gue akhirnya mutusin buat meneliti dan membuat riset tentang Filsafat Indonesia. Alhasil, riset gue itu menghasilkan kajian baru yang gue beri nama dengan 'Kajian Filsafat Indonesia".

Ternyata gue gak sendirian. Sebelum gue, sudah ada beberapa pakar filsafat yang sudah mikirin hal yang sama dengan gue. Mereka misalnya Mohammad Nasroen (1907-1968) , beliau adalah guru besar filsafat di Universitas Indonesia. Dia sempet nulis buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, judulnya Falsafah Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1967), yang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dikategorikan sebagai ‘buku langka’ dengan Nomor Panggil (Shelf Number) 181.16 NAS f.

Dalam karyanya itu, Nasroen menegaskan keberbedaan Filsafat Indonesia dengan Filsafat Barat (Yunani-Kuno) dan Filsafat Timur, lalu mencapai satu kesimpulan bahwa Filsafat Indonesia adalah suatu Filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan (hal.14, 24, 25, 33, dan 38).

Terus, Soenoto (lahir tahun 1929), seorang mantan Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979), yang juga nulis beberapa buku tentang Filsafat Indonesia, seperti Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta: Hanindita Offset, 1987).

Dalam ketiga bukunya itu, Soenoto nyempurnain karya rintisan Nasroen dengan menelusuri tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang detil banget tentang tradisi itu.

Tokoh selanjutnya ialah R. Parmono (lahir tahun 1952), yang pernah jadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat Indonesia di UGM yang dirintisnya bersama-sama dengan Soenoto. Dia juga nulis beberapa buku yang ngebahas Filsafat Indonesia, seperti Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).

Dalam Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono nyempurnain kekurangan kajian Soenoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan ngelebarin lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis.

Terakhir, ialah Jakob Sumardjo (lahir di Klaten tahun 1939), seorang budayawan Bandung dari ITB. Buku-bukunya yang khusus ngebahas Filsafat Indonesia ialah: Arkeologi Budaya Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002, ISBN: 979-9440-29-7), dan Mencari Sukma Indonesia: Pendataan Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan (Yogyakarta: AK Group, 2003).

Dalam karyanya Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob ngebahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’, yang secara kronologis maparin sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Terus, dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara radikal amat berbeda coraknya dari ‘Filsafat Indonesia Lama’.

Keempat tokoh itu dah ngedahuluan gue, jadi menurut gue pantaslah kalo mereka gue sebut dengan 'para pelopor Filsafat Indonesia'. Gue cuma ngepopulerin apa yang udah ditemuin oleh mereka jauh-jauh hari. Peran gue cuma recalling (nginget-ngingetin lo lo pade), bahwa di Indonesia pun ada tradisi berpikir spekulatif yang udah berumur panjang (kata Mochtar Lubis dalam bukunya Indonesia: Land under the Rainbow, dah sejak era neolitik sekitar 3500 SM ampe sekarang!). Tradisi berpikir itu dibahas dalam kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'. Jadi, gitu deh sejarahnya knapa ada kajian yang disebut 'Filsafat Indonesia'.

Nah, kalo ada yang nanya "apa sih definisi Filsafat Indonesia?", gue akan ngutip apa yang dah gue tulis di Wikipedia Indonesia n Wikipedia Inggris. Filsafat Indonesia ialah "sebutan umum untuk tradisi kefilsafatan yang dilakukan oleh penduduk yang mendiami wilayah yang belakangan disebut Indonesia. Filsafat Indonesia diungkap dalam pelbagai bahasa yang hidup dan masih dituturkan di Indonesia (sekitar 587 bahasa) dan 'bahasa persatuan' Bahasa Indonesia, meliputi aneka mazhab pemikiran yang menerima pengaruh Timur dan Barat, disamping tema-tema filosofisnya yang asli."

Siapa aje filosof Imdonesia? Mochtar Lubis ngejawab bahwa filosof Indonesia yang paling termula ialah para leluhur, yakni para bijak dan para cerdik pandai yang hidup dalam suku-suku etnis asli Indonesia (orang Barat nyebut mereka 'primitif'), seperti suku Sakuddei di Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), suku Atoni di Timor Timur, suku Marind-Anim di Papua (Irian Barat), juga di suku Minangkabau, Jawa, Nias, Batak, dan lain-lain (Lubis 1990:1-40). Trus, pas migrant-migran Tiongkok pada datang ke Indonesia antara tahun 1122-222 SM, mereka membawa-serta dan memperkenalkan Taoisme dan Konfusianisme kepada mereka (Larope 1986:4). Pada sekitar tahun 1000 M adalah masa berkembangnya alam pikiran Indonesia (Filsafat Indonesia), yang ditandai dengan kemunculan tradisi literer-filosofis Hindu-Buddha pengaruh India. Ntar, sejak awal tahun 1400-an hingga seterusnya, datanglah pemikiran Islam ke Indonesia. Terakhir, di awal abad 19 M datanglah Filsafat Barat dari orang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda yang datang ke Indonesia. Jadi, hampir semua filsafat di dunia pernah tersebar di Indonesia.

Gue rasa cukup dulu untuk perkenalan ini. Gue janji gue akan tulis buat artikel mendatang buat lo lo pade, pembaca blog gue yang kebetulan ngeliat artikel ini, yang ngebahas tentang Filsafatnya para leluhur kita, yaitu Filsafat Etnis Asli di Indonesia. See you again next time!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms