Senin, 18 April 2011

Filsafat Positivisme dan Ciri-cirinya

Positivisme merupakan suatu paham dalam filsafat sains yang berkembang sangat pervasif dan, menurut Ian Hacking, tidak hanya menjadi filsafat sains melainkan agama humanis modern. Positivisme menjadi agama dogmatis karena ia telah melembagakan pandangan dunianya menjadi doktrin bagi ilmu pengetahuan. Pandangan dunia yang dianut oleh positivisme adalah pandangan dunia objektivistik. Pandangan dunia objektivistik adalah pandangan dunia yang menyatakan bahwa objek-objek fisik hadir independen dari mental dan menghadirkan properti-properti mereka secara langsung melalui data indrawi. Realitas dengan data indrawi adalah satu. Apa yang dilihat adalah realitas sebagaimana adanya. Seeing is believing.
Positivisme melembagakan pandangan dunia objetivistiknya dalam suatu doktrin kesatuan ilmu (unified science). Doktrin kesatuan ilmu mengatakan bahwa seluruh ilmu, baik ilmu alam maupun manusia, harus berada di bawah payung paradigma positivistik. Doktrin kesatuan ilmu mengajukan kriteria-kriteria bagi ilmu pengetahuan sebagai berikut:
  1. bebas nilai, pengamat harus bebas dari kepentingan, nilai, emosi dalam mengamati objeknya agar diperoleh pengetahuan yang objektif
  2. ilmu pengetahuan harus menggunakan metode verifikasi-empiris
  3. bahasa yang digunakan harus; analitik (bisa dibenarkan atau disahkan secara logis), bisa diperiksa secara empiris dan atau nonsens
  4. bersifat eksplanasi, ilmu pengetahuan hanya diperbolehkan melakukan penjelasan akan keteraturan yang ada di alam semesta, ia hanya menjawab pertanyaan how dan tidak menjawab pertanyaan why. Positivisme menjadi dogma epistemik dengan mengklaim bahwa ilmu pengetahuan harus mengikuti doktrin unified science apabila ingin disebut ilmu pengetahuan ilmiah, bukan semata-mata pengetahuan sehari-hari praktis eksistensial.
Ciri-ciri Positivisme antara lain:
  1. objektif/bebas nilai. Dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dari realitas dengan bersikap bebas nilai. Hanya melalui fakta-fakta yang teramati dan terukur, maka pengetahuan kita tersusun dan menjadi cermin dari realitas (korespondensi)
  2. Fenomenalisme, tesis bahwa realitas terdiri dari impresi-impresi. Ilmu pengetahuan hanya berbicara tentang realitas berupa impresi-impresi tersebut. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan ditolak (antimetafisika)
  3. Nominalisme, bagi positivisme hanya konsep yang mewakili realitas partikularlah yang nyata.
  4. Reduksionisme, realitas direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat diamati
  5. Naturalisme, tesis tentang keteraturan peristiwa-peristiwa di alam semesta yang meniadakan penjelasan supranatural (adikodrati). Alam semesta memiliki strukturnya sendiri dan mengasalkan strukturnya sendiri
  6. Mekanisme, tesis bahwa semua gejala dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk menjelaskan mesin-mesin (sistem-sistem mekanis). Alam semesta diibaratkan sebagai giant clock work.
Positivisme sebagaimana dikembangkan oleh August Comte, biasa digolongkan dalam kategori positivisme sosial. Aliran positivisme jenis ini dikembangkan di Inggris oleh para filsuf, seperti Jeremy Bentham, James Mill, dan John Stuart Mill. Sedangkan di Italia, positivisme sosial dikembangkan oleh Carlo Cattaneo dan Giuseppe Ferrari. Mereka berdua menganggap diri sebagai orang yang melanjutkan karya Gambista Vico, tokoh yang menurut mereka telah menempatkan sains tentang manusia pada pusat kemanusiaan sendiri. Para penganut positivisme sosial di Jerman, seperti Ernest Lassa, Friederich Jodl dan Eugen Duhring, lebih mengacu pada pemikiran Ludwig Feuerbach daripada pemikiran Saint Simon dan August Comte. Walaupun terdapat perbedaan pendapat di antara para penganut positivisme sosial, namun semuanya menaruh kepercayaan besar pada sains, pada kemajuan aras dasar sains, dan pada bentuk pengaturan sosial yang lebih baik sebagai akibat dari kemajuan tersebut.
Selain positivisme sosial juga muncul apa yang disebut positivisme evolusioner yang dipelopori oleh orang-orang seperti Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Ernst Haeckel dan Wilhelm Wundt. Seperti penganut positivisme sosial, para penganut positivisme evolusioner juga percaya akan adanya kemajuan. Perbedaan antara mereka terletak pada alasan yang mendasari kemajuan tersebut. Kalau positivisme sosial mendasarkan kemajuan pada gejala perkembangan masyarakat dan sejarah, maka positivisme evolusioner mendasarkan pada alam sebagaimana dapat dikenali oleh fisika dan biologi. Positivisme evolusioner telah meninggalkan suatu warisan bagi dunia pemikiran dewasa ini, berupa gagasan tentang adanya evolusi bersifat universal, satu garis ke depan, berkeseinambungan, niscaya dan pasti bersifat progresif.
Di samping positivisme sosial dan positivisme evolusioner, juga berkembang apa yang disebut positivisme kritis. Aliran pemikiran ini, yang kadang juga disebut Kantianisme empiris, dipelopori oleh pemikir-pemikir seperti Ernst Mach dan Richard Avenarius. Aliran pemikiran positivisme kritis ini secara historis merupakan pendahulu dari aliran pemikiran kelompok atau lingkungan Wina dan apa yang secara umum disebut empirisme logis, empirisme imliah, neopositivisme atau positivisme logis.
(Donny Gahral Adian dari Percik Pemikiran Kontemporer; Sebuah Pengantar Komprehensif hal 27-30)
Diatas adalah Gambar Dari Ludwig Feuerbach

0 komentar:

Poskan Komentar

Senin, 18 April 2011

Filsafat Positivisme dan Ciri-cirinya

Positivisme merupakan suatu paham dalam filsafat sains yang berkembang sangat pervasif dan, menurut Ian Hacking, tidak hanya menjadi filsafat sains melainkan agama humanis modern. Positivisme menjadi agama dogmatis karena ia telah melembagakan pandangan dunianya menjadi doktrin bagi ilmu pengetahuan. Pandangan dunia yang dianut oleh positivisme adalah pandangan dunia objektivistik. Pandangan dunia objektivistik adalah pandangan dunia yang menyatakan bahwa objek-objek fisik hadir independen dari mental dan menghadirkan properti-properti mereka secara langsung melalui data indrawi. Realitas dengan data indrawi adalah satu. Apa yang dilihat adalah realitas sebagaimana adanya. Seeing is believing.
Positivisme melembagakan pandangan dunia objetivistiknya dalam suatu doktrin kesatuan ilmu (unified science). Doktrin kesatuan ilmu mengatakan bahwa seluruh ilmu, baik ilmu alam maupun manusia, harus berada di bawah payung paradigma positivistik. Doktrin kesatuan ilmu mengajukan kriteria-kriteria bagi ilmu pengetahuan sebagai berikut:
  1. bebas nilai, pengamat harus bebas dari kepentingan, nilai, emosi dalam mengamati objeknya agar diperoleh pengetahuan yang objektif
  2. ilmu pengetahuan harus menggunakan metode verifikasi-empiris
  3. bahasa yang digunakan harus; analitik (bisa dibenarkan atau disahkan secara logis), bisa diperiksa secara empiris dan atau nonsens
  4. bersifat eksplanasi, ilmu pengetahuan hanya diperbolehkan melakukan penjelasan akan keteraturan yang ada di alam semesta, ia hanya menjawab pertanyaan how dan tidak menjawab pertanyaan why. Positivisme menjadi dogma epistemik dengan mengklaim bahwa ilmu pengetahuan harus mengikuti doktrin unified science apabila ingin disebut ilmu pengetahuan ilmiah, bukan semata-mata pengetahuan sehari-hari praktis eksistensial.
Ciri-ciri Positivisme antara lain:
  1. objektif/bebas nilai. Dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dari realitas dengan bersikap bebas nilai. Hanya melalui fakta-fakta yang teramati dan terukur, maka pengetahuan kita tersusun dan menjadi cermin dari realitas (korespondensi)
  2. Fenomenalisme, tesis bahwa realitas terdiri dari impresi-impresi. Ilmu pengetahuan hanya berbicara tentang realitas berupa impresi-impresi tersebut. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan ditolak (antimetafisika)
  3. Nominalisme, bagi positivisme hanya konsep yang mewakili realitas partikularlah yang nyata.
  4. Reduksionisme, realitas direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat diamati
  5. Naturalisme, tesis tentang keteraturan peristiwa-peristiwa di alam semesta yang meniadakan penjelasan supranatural (adikodrati). Alam semesta memiliki strukturnya sendiri dan mengasalkan strukturnya sendiri
  6. Mekanisme, tesis bahwa semua gejala dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk menjelaskan mesin-mesin (sistem-sistem mekanis). Alam semesta diibaratkan sebagai giant clock work.
Positivisme sebagaimana dikembangkan oleh August Comte, biasa digolongkan dalam kategori positivisme sosial. Aliran positivisme jenis ini dikembangkan di Inggris oleh para filsuf, seperti Jeremy Bentham, James Mill, dan John Stuart Mill. Sedangkan di Italia, positivisme sosial dikembangkan oleh Carlo Cattaneo dan Giuseppe Ferrari. Mereka berdua menganggap diri sebagai orang yang melanjutkan karya Gambista Vico, tokoh yang menurut mereka telah menempatkan sains tentang manusia pada pusat kemanusiaan sendiri. Para penganut positivisme sosial di Jerman, seperti Ernest Lassa, Friederich Jodl dan Eugen Duhring, lebih mengacu pada pemikiran Ludwig Feuerbach daripada pemikiran Saint Simon dan August Comte. Walaupun terdapat perbedaan pendapat di antara para penganut positivisme sosial, namun semuanya menaruh kepercayaan besar pada sains, pada kemajuan aras dasar sains, dan pada bentuk pengaturan sosial yang lebih baik sebagai akibat dari kemajuan tersebut.
Selain positivisme sosial juga muncul apa yang disebut positivisme evolusioner yang dipelopori oleh orang-orang seperti Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Ernst Haeckel dan Wilhelm Wundt. Seperti penganut positivisme sosial, para penganut positivisme evolusioner juga percaya akan adanya kemajuan. Perbedaan antara mereka terletak pada alasan yang mendasari kemajuan tersebut. Kalau positivisme sosial mendasarkan kemajuan pada gejala perkembangan masyarakat dan sejarah, maka positivisme evolusioner mendasarkan pada alam sebagaimana dapat dikenali oleh fisika dan biologi. Positivisme evolusioner telah meninggalkan suatu warisan bagi dunia pemikiran dewasa ini, berupa gagasan tentang adanya evolusi bersifat universal, satu garis ke depan, berkeseinambungan, niscaya dan pasti bersifat progresif.
Di samping positivisme sosial dan positivisme evolusioner, juga berkembang apa yang disebut positivisme kritis. Aliran pemikiran ini, yang kadang juga disebut Kantianisme empiris, dipelopori oleh pemikir-pemikir seperti Ernst Mach dan Richard Avenarius. Aliran pemikiran positivisme kritis ini secara historis merupakan pendahulu dari aliran pemikiran kelompok atau lingkungan Wina dan apa yang secara umum disebut empirisme logis, empirisme imliah, neopositivisme atau positivisme logis.
(Donny Gahral Adian dari Percik Pemikiran Kontemporer; Sebuah Pengantar Komprehensif hal 27-30)
Diatas adalah Gambar Dari Ludwig Feuerbach

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms