Kamis, 21 April 2011

Gerakan Kampungan Marxist Indonesia

Seperti pernah saya tulis dalam artikel Gerakan Kiri Indonesia dan Kiri oh Kiri, sejarah yang ditinggalkan oleh PKI di Indonesia terlalu hitam-pekat. Terlepas dari kebenaran sejarah yang penuh warna di Indonesia, ingatan buruk tentang komunisme tidak akan hilang dalam semalam. PKI adalah sebuah kekuatan komunis terbaik dan terkuat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia sudah kapok menanggungnya.


Apabila sekarang ada gerakan yang memperjuangkan kembalinya kekuatan PKI seperti masa Orde Lama, maka hampir-hampir tidak mungkin. Hanya keajaiban saja yang memungkinkan gerakan komunis baru mampu benar-benar eksis di bumi nusantara. Lebih jauh lagi gerakan komunis baru telah diinjeksi oleh permainan elit-elit militer sakit hati yang telah menggerakan tangan-tangannya untuk sebuah pra-kondisi menghancurkan demokrasi sehingga mampu melahirkan sebuah diktator proletar baru yang populis. Sayangnya persiapan tersebutpun teramat sangat prematur. Betapapun kuatnya struktur dan program kegiatan yang telah dibangun, semua akan mentah karena mayoritas rakyat Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda. Apakah pendidikan/pengkaderan kaum Marxist akan efektif, saya kira jauh api dari panggangan.

Masalah citra dan watak organisasi juga tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh kaum Marxist Indonesia. Masalah ide-ide perjuangan dengan teriakan lantang tentang kapitalisme global terasa seperi kerupuk melempem. Tidak riil dan tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat. Kalaupun sudah banyak gerakan Marxist yang masuk dalam arena pemberdayaan masyarakat dan advokasi serta HAM, levelnya jauh dibawah kegiatan kelompok pro demokrasi liberal ataupun yang di tengah.

Saya yakin betul bahwa proses otokritik telah mati dalam gerakan Marxist Indonesia karena memang telah ditunggangi kelompok kepentingan dan hanya mengarah pada utopia yang semakin telanjang di mata rakyat. Kaum Marxist Indonesia benar-benar sangat memalukan, dan anda yang mengaku Marxist silahkan berargumentasi dengan Blog I-I dan tentunya saya sangat berharap anda telah membaca ulang sejarah pemikiran Marxisme di dunia maupun di Indonesia.

Kaum Marxist Indonesia sangat buruk sistem organisasinya, sangat jauh di belakang organisasi profesional kelompok pro-demokrasi yang cenderung liberal. Akibatnya kaum Marxist hanya mampu melakukan masturbasi politik dengan angan-angan kosong yang bersandar pada dinamika kelompok yang kemudian dianggap penyakit kegilaan revolusi oleh masyarakat.

Apa yang saya khawatirkan adalah bahwa kaum Marxist Indonesia sekarang dikendalikan oleh kekuatan anti Indonesia Raya. Namun saya belum cukup mengumpulkan bukti-bukti otentik, sehingga sementara saya hanya beranggapan bahwa mereka bagian wajar dari dampak reformasi dan demokratisasi, dimana setiap kelompok menuntut pengakuan eksistensi dalam landasan kekhasan masing-masing.

PRD dengan berbagai underbownya, Papernas dll, berbagai gerilya kaum Marxist masuk ke dalam Partai Politik besar, semuanya sebuah upaya merealisasi ide-ide Marxisme. Namanya juga orang berjuang, ya silahkan saja. Namun perlu diperhatikan baik-baik bahwa secara politik maupun ekonomi, posisi Marxisme bersebrangan dengan Kapitalisme dan Liberalisme. Kondisi filosofis tersebut seringkali mencengkeram otak Manusia Indonesia yang melupakan hakikat makna tujuan filsafat sosial adalah kebaikan dengan hasil nyata yang bisa dirasakan sesama manusia, untuk Bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk Indonesia Raya. Bukan untuk ide-ide itu berdiri sendiri tanpa menyentuh kebutuhan rakyat.

Bagi kaum Marxist radikal, melakukan kompromi berjalan ke tengah menjadi sosialis demokrat sama saja penghianatan kepada Marxisme klasik, karena dipastikan akan terkooptasi oleh kelompok demokrat yang berat ke liberalisme. Padahal saya melihat mereka yang berjalan ke tengah telah menghentikan kebiasaan bermasturbasi dan mulai melakukan karya nyata untuk rakyat.

Pernahkan ada kaum Marxist maupun Liberalist Indonesia yang pernah berbikir keluar sebentar dari makna-makna ideologis untuk mencari formula yang tepat bagi persoalan bangsa, bagi penyelesaian masalah ekonomi nasional, tanpa harus bermusuhan, tanpa harus berkonfrontasi, menjadi sebuah gerakan sosial rakyat yang khas Indonesia. Pragmatisme RRC adalah sebuah alternatif yang baik, kapitalisme ekonomi dan komunisme politik dijalankan dalam struktur negara yang sangat akomodatif. Satu ide besar bernama The Greater China menghentikan kecurigaan politik dan krisis pembangunan ekonomi. Maaf, saya tidak bermaksud menyederhanakan persoalan karena pembahasan ini bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas dan menjadi sebuah buku.

0 komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 21 April 2011

Gerakan Kampungan Marxist Indonesia

Seperti pernah saya tulis dalam artikel Gerakan Kiri Indonesia dan Kiri oh Kiri, sejarah yang ditinggalkan oleh PKI di Indonesia terlalu hitam-pekat. Terlepas dari kebenaran sejarah yang penuh warna di Indonesia, ingatan buruk tentang komunisme tidak akan hilang dalam semalam. PKI adalah sebuah kekuatan komunis terbaik dan terkuat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia sudah kapok menanggungnya.


Apabila sekarang ada gerakan yang memperjuangkan kembalinya kekuatan PKI seperti masa Orde Lama, maka hampir-hampir tidak mungkin. Hanya keajaiban saja yang memungkinkan gerakan komunis baru mampu benar-benar eksis di bumi nusantara. Lebih jauh lagi gerakan komunis baru telah diinjeksi oleh permainan elit-elit militer sakit hati yang telah menggerakan tangan-tangannya untuk sebuah pra-kondisi menghancurkan demokrasi sehingga mampu melahirkan sebuah diktator proletar baru yang populis. Sayangnya persiapan tersebutpun teramat sangat prematur. Betapapun kuatnya struktur dan program kegiatan yang telah dibangun, semua akan mentah karena mayoritas rakyat Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda. Apakah pendidikan/pengkaderan kaum Marxist akan efektif, saya kira jauh api dari panggangan.

Masalah citra dan watak organisasi juga tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh kaum Marxist Indonesia. Masalah ide-ide perjuangan dengan teriakan lantang tentang kapitalisme global terasa seperi kerupuk melempem. Tidak riil dan tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat. Kalaupun sudah banyak gerakan Marxist yang masuk dalam arena pemberdayaan masyarakat dan advokasi serta HAM, levelnya jauh dibawah kegiatan kelompok pro demokrasi liberal ataupun yang di tengah.

Saya yakin betul bahwa proses otokritik telah mati dalam gerakan Marxist Indonesia karena memang telah ditunggangi kelompok kepentingan dan hanya mengarah pada utopia yang semakin telanjang di mata rakyat. Kaum Marxist Indonesia benar-benar sangat memalukan, dan anda yang mengaku Marxist silahkan berargumentasi dengan Blog I-I dan tentunya saya sangat berharap anda telah membaca ulang sejarah pemikiran Marxisme di dunia maupun di Indonesia.

Kaum Marxist Indonesia sangat buruk sistem organisasinya, sangat jauh di belakang organisasi profesional kelompok pro-demokrasi yang cenderung liberal. Akibatnya kaum Marxist hanya mampu melakukan masturbasi politik dengan angan-angan kosong yang bersandar pada dinamika kelompok yang kemudian dianggap penyakit kegilaan revolusi oleh masyarakat.

Apa yang saya khawatirkan adalah bahwa kaum Marxist Indonesia sekarang dikendalikan oleh kekuatan anti Indonesia Raya. Namun saya belum cukup mengumpulkan bukti-bukti otentik, sehingga sementara saya hanya beranggapan bahwa mereka bagian wajar dari dampak reformasi dan demokratisasi, dimana setiap kelompok menuntut pengakuan eksistensi dalam landasan kekhasan masing-masing.

PRD dengan berbagai underbownya, Papernas dll, berbagai gerilya kaum Marxist masuk ke dalam Partai Politik besar, semuanya sebuah upaya merealisasi ide-ide Marxisme. Namanya juga orang berjuang, ya silahkan saja. Namun perlu diperhatikan baik-baik bahwa secara politik maupun ekonomi, posisi Marxisme bersebrangan dengan Kapitalisme dan Liberalisme. Kondisi filosofis tersebut seringkali mencengkeram otak Manusia Indonesia yang melupakan hakikat makna tujuan filsafat sosial adalah kebaikan dengan hasil nyata yang bisa dirasakan sesama manusia, untuk Bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk Indonesia Raya. Bukan untuk ide-ide itu berdiri sendiri tanpa menyentuh kebutuhan rakyat.

Bagi kaum Marxist radikal, melakukan kompromi berjalan ke tengah menjadi sosialis demokrat sama saja penghianatan kepada Marxisme klasik, karena dipastikan akan terkooptasi oleh kelompok demokrat yang berat ke liberalisme. Padahal saya melihat mereka yang berjalan ke tengah telah menghentikan kebiasaan bermasturbasi dan mulai melakukan karya nyata untuk rakyat.

Pernahkan ada kaum Marxist maupun Liberalist Indonesia yang pernah berbikir keluar sebentar dari makna-makna ideologis untuk mencari formula yang tepat bagi persoalan bangsa, bagi penyelesaian masalah ekonomi nasional, tanpa harus bermusuhan, tanpa harus berkonfrontasi, menjadi sebuah gerakan sosial rakyat yang khas Indonesia. Pragmatisme RRC adalah sebuah alternatif yang baik, kapitalisme ekonomi dan komunisme politik dijalankan dalam struktur negara yang sangat akomodatif. Satu ide besar bernama The Greater China menghentikan kecurigaan politik dan krisis pembangunan ekonomi. Maaf, saya tidak bermaksud menyederhanakan persoalan karena pembahasan ini bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas dan menjadi sebuah buku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms