Kamis, 14 April 2011

Sosiologi Industri

PRINSIP-PRINSIP DASAR SOSIOLOGI INDUSTRI
Fokus dan Cakupan Sosiologi Industri
Sosiologi memusatkan perhatian kepada tindakan-tindakan manusia yang terbingkai dalam sejumlah aturan-aturan yang dibangun oleh sekumpulan manusia itu sendiri. Tindakan manusia juga terbingkai di dalam struktur sosial. Namun, sosiologi juga memperhatikan aspek dinamis dari tindakan. Individu mempunyai kemungkinan untuk mengelola tindakannya. Perspektif ini membuat sosiologi bersifat ganda. Meskipun begitu, di antara keduanya terdapat keterkaitan yang sangat erat.
Perkembangan sosiologi tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para tokoh sosiologi klasik yang memberi sumbangan berharga melalui pengamatan mereka terhadap perubahan-perubahan besar di masyarakat Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Agar Anda lebih memahami materi Kegiatan Belajar 1, coba Anda jelaskan kembali materi Kegiatan Belajar 1 dengan bahasa Anda sendiri. Anda juga harus menjelaskan konsepkonsep penting dalam materi 1
khususnya di Eropa. Revolusi industri dan berbagai revolusi sosial politik lainnya di negara Eropa menghasilkan beragam cara pandang di antara para sosiolog klasik mengenai perkembangan kapitalisme, rasionalisme, serta perubahan struktur sosial. Perubahan-perubahan yang terjadi baik di tingkat masyarakat maupun khususnya di dalam organisasi kerja memberi sumbangan yang berarti bagi pengembangan sosiologi industri.
Teori-teori dalam Sosiologi Industri
Sosiologi industri mempunyai cakupan teori yang sangat luas. Ada tiga penyebab luas cakupan tersebut. Pertama, cakupan substansi yang dibahas di dalam sosiologi industri cukup luas. Kedua adanya perbedaan tingkat analisis yang menghasilkan keragaman berbagai teori. Ketiga adalah karena teori-teori yang digunakan di dalam sosiologi industri memiliki keragaman berdasarkan asal pemikirannya. Luasnya cakupan seluruh teori yang digunakan di dalam analisis-analisis sosiologi industri itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori pendekatan. Pertama, pendekatan non-sosiologis. Kedua, pendekatan sosiologis. Ketiga, pendekatan hubungan industrial.
Pendekatan non-sosiologis di pelopori oleh kehadiran teori-teori yang mempunyai basis analisis psikologis. Pertama dan paling populer adalah teori manajemen ilmiah atau Taylorisme. Kedua adalah psikologi-manajerial. Sementara itu, teori-teori yang berbasis pendekatan sosiologis dapat dilihat dari teori Durkheim yang berpengaruh terhadap kategori teori hubungan antara manusia dari Elton Mayo, teori Dunlop. Selain itu, teori-teori Max Weber dan Karl marx, sedangkan teori-teori berpendekatan hubungan industrial, terbagi ke dalam kelompok pemikiran unitaris, pluralis, dan radikalis.
SISTEM PRODUKSI
Sistem Produksi Primer, Gilda, dan Putting-Out

  1. Sistem Produksi Primer
    Sistem produksi primer banyak terdapat pada masyarakat agraris, biasanya terdiri dari suatu keluarga luas yang terdiri dari generasi pertama sampai generasi berikutnya. Kedudukan mereka dalam pekerjaan ditentukan oleh pertalian darah. Pembagian kerja rendah, hanya berdasarkan jenis kelamin dan usia. Hubungan mereka lebih bersifat sosial. Pekerjaan sistem produk ini sepenuhnya tergantung kepada kebaikan alam. Seluruh hasil produksi untuk kepentingan konsumsi, persediaan paceklik dan dibarter dengan kebutuhan yang tidak dapat diproduksi sendiri. Sistem produksi ini lebih ditunjukkan bagi ketercukupan sandang, pangan dan papan. Sistem ini sebagian tergantung pada pihak lain karena tanah yang dikerjakan bukan miliknya sendiri atau pertimbangan keamanan.
  2. Sistem Produksi Gilda
    Gilda berukuran lebih kecil dari sistem produksi primer, merupakan sarana pelarian bagi petani karena berbagai sebab. Pada prinsipnya petani datang ke gilda harus diterima dan biasanya sudah berbekal keterampilan. Gilda dipimpin oleh seorang master (tua) yang memiliki keterampilan, modal, alat, dan cenderung mengembangkan Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! alat-alatnya, walaupun belum mampu mengembangkan mesin. Master mengandalkan hidup dari barang-barang sekunder sehingga master harus membuat barang yang berkualitas dan standar, yang harus dijual sendiri ke pasar, karena itu sifat dasar gilda menjadi lebih tinggi. Setiap jenis gilda membentuk asosiasi induk untuk beberapa tujuan. Suasana dalam gilda masih bersifat kekeluargaan, bahkan kadang-kadang terjadi perkawinan antara anak master dengan karyawan gilda. Dalam perjalanan waktu, gilda menjadi lemah karena beberapa faktor, yaitu terhambatnya monolitas vertikal karyawan penuh untuk menjadi master, kompetisi tidak sehat di antara gilda itu sendiri, sejumlah pemilik gilda menjadi kaya raya, beberapa gilda beralih menjadi pedagang, dan luasnya pasar di luar negeri menjadikan gilda semakin bergantung pada pedagang ekspor.
  3. Sistem Produksi Putting-out
    Jumlah saudagar kaya dan kuat menjadi semakin besar. Kekayaannya diperoleh dari perdagangan luar negeri, jarahan di negara koloni, memonopoli perdagangan, dan menghancurkan gilda yang terdapat di negara koloni. Dengan semakin besarnya pasar di luar negeri, gilda tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar sehingga pedagang memanfaatkan petani. Pada awalnya petani harus menyediakan alat dan modal sendiri, tetapi pada perkembangan berikutnya, alat, modal, dan pemasaran ditangani oleh pedagang. Sistem produksi putting-out runtuh karena sulitnya mengontrol ketepatan penyelesaian produksi, beragamnya waktu penyelesaian produksi, sukarnya mengontrol (pengawasan), serta sulitnya melakukan pembagian dan penggunaan mesin baru sehingga sulit menekan biaya produksi atau meningkatkan produksi.
Sistem Produksi Pabrik
Sistem produksi pabrik muncul seiring dengan munculnya industrialisasi. Penemuan mesin-mesin berpresisi tinggi menghasilkan mutu, memudahkan pekerjaan manusia, tidak banyak membutuhkan banyak tenaga manusia dan meningkatkan jumlah produksi. Dengan kehadiran mesin, pekerjaan dipecah menjadi banyak sehingga setiap orang tidak selalu memerlukan keterampilan khusus yang membutuhkan biaya mahal.
Ada beberapa keuntungan bila pekerjaan dibagi dalam banyak bagian, yaitu pekerjaan kecil dan sederhana dapat dikerjakan semua orang, produktivitas setiap pekerja menurut satuan pekerjaannya menjadi meningkat, dan produktivitas akhir setiap pekerja meningkat pesat.
Sistem produksi pabrik berbeda menyolok dengan sistem produksi primer, gilda, dan putting-out pada fakta bahwa seluruh modal, alat dan alat mesin hingga pemasaran sepenuhnya dikuasai oleh pedagang/ pengusaha sehingga pengusaha mempunyai posisi tawar yang sangat kuat. Oleh karena itu, dapat dimengerti bila orientasi pokok pengusaha hanya tertuju pada kapasitas paham bagaimana orang dapat terus memupuk dan meningkatkan investasinya. Hubungan antara karyawan dan pengusaha adalah formal. Untuk menekan ongkos produksi, pengusaha tidak segan-segan mempekerjakan wanita dan anak-anak.
PEKERJAAN
Hakikat Kerja
Keith Grint berusaha menjelaskan definisi kerja sebagai tindakan yang dapat menjamin keberlangsungan (survival) individu dan masyarakat. Karena itu, tindakan seperti menulis buku, bermain drama, mengajar dapat dipandang sebagai kerja meskipun tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan suatu masyarakat.
Tony J. Watson mendefinisikan kerja sebagai aktivitas-aktivitas yang dapat membantu manusia bertahan hidup (make a living) dalam suatu lingkungan masyarakat. Istilah bertahan hidup dalam definisi Watson bukan hanya menunjuk pada usaha untuk memproduksi barangbarang material, tetapi juga meliputi ketahanan fisik (physical survival) dan aspek budaya yang berhubungan dengan eksistensi manusia.
Aspek budaya dari kerja berhubungan dengan sikap atau konsepsi suatu masyarakat terhadap kerja. Sikap terhadap kerja sangat beragam antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Keragaman sikap ini merefleksikan nilai-nilai dan terkadang kepentingan suatu masyarakat yang mendukung budaya tersebut.
Pola kerja di era industrialisasi tidak bisa lagi didasarkan pada orientasi kerja melainkan pada ketentuan waktu. Waktu adalah uang, tidak bisa disia-siakan begitu saja, tetapi harus dimanfaatkan. Buruh tidak bisa lagi mengontrol pola kerja mereka, tetapi dipaksa untuk bekerja seharian di pabrik.
Kerja sangat berkaitan dengan ruang dan waktu. Definisi kerja sangat berhubungan dengan konteks masyarakat setempat. Ada kegiatan bagi sebagian masyarakat adalah kerja, tetapi bagi masyarakat lain bukan kerja. Karena itu, kerja memiliki dimensi sosial atau konstruksi sosial.
Definisi tentang kerja sering kali tidak hanya menyangkut apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga menyangkut kondisi yang melatarbelakangi kerja tersebut, serta penilaian sosial yang diberikanterhadap kerja tersebut.
Dengan mempertimbangkan kritik terhadap beberapa dikotomi kerja maka kerja dapat didefinisikan sebagai segala hal yang dikerjakan oleh seorang individu baik untuk subsistensi; untuk dipertukarkan atau diperdagangkan; untuk menjaga kelangsungan keturunan dan kelangsungan hidup keluarga atau masyarakat.
Proses Kerja dan Keterasingan
Proses kerja adalah suatu sarana di mana bahan-bahan mentah (raw materials) diolah untuk menjadi produk oleh tenaga manusia dengan bantuan alat atau mesin. Seseorang bisa mengalami ketidakpuasan dalam bekerja atau bahkan mengalami situasi keterasingan (alienation). Situasi keterasingan merupakan perwujudan dari perasaan ketidakberdayaan, hampa, terisolasi secara sosial atau keterasingan diri (self-estrangement). Dalam situasi demikian, seseorang merasa tidak memiliki alasan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran untuk pekerjaannya.
Keterasingan atau alinenasi dianalisis oleh Blauner dengan cara mengkategorikannya ke dalam empat dimensi. Pertama, ketidakberdayaan (powerlessness), yakni tidak adanya kekuatan buruh untuk mengontrol hasil kerjanya. Kedua, kehampaan makna (meaninglessness), yaitu buruh tidak menemukan makna dari aktivitas kerjanya. Ketiga, isolasi (isolation), yaitu buruh tidak terintegrasi secara sosial ke dalam aktivitas kerja. Keempat, terasing dari diri sendiri (selfestrangement), yaitu buruh tidak menjadi bagian dari proses kerja.
BURUH INDUSTRI
Pengertian dan Peran Buruh
Istilah buruh identik dengan kondisi ketidakadilan, penghisapan, kebobrokan. dan kemeralatan. Bahkan istilah buruh dilekatkan pada ideologi atau gerakan komunis dan bersifat subversif. Karena itu, terdapat kecenderungan umum untuk mengganti istilah buruh dengan istilah pekerja (worker) untuk menyebut orang-orang yang bekerja di pabrik. Di Indonesia, kadang-kadang mereka disebut sebagai karyawan.
Kondisi perburuhan pada masa revolusi industri sangatlah memprihatinkan. Pekerja pabrik pada masa itu bukan hanya terdiri dari pria usia kerja saja, tetapi juga wanita tua dari gadis sampai ibu-ibu yang sudah tua renta dan anak-anak. Tiap hari mereka bekerja dalam waktu panjang tanpa fasilitas kebersihan, keamanan dan kesehatan. Apabila buruh sakit/mendapat kecelakaan kerja, pabrik tidak mau menanggung biayanya, bahkan yang bersangkutan dipecat karena dianggap mangkir tidak mampu melaksanakan tugas. Pengusaha dan manajemennya sangat berkuasa. Pekerja dengan upah sangat minim dipaksa bekerja matimatian, lembur terus-menerus tanpa jaminan, sementara pengusaha mendapat keuntungan sangat banyak.
Kondisi pabrik atau industri yang buram, lambat laun berubah menjadi bangunan yang bersih, terang, sehat, terpelihara, serta lega dan mempunyai berbagai fasilitas dan kesejahteraan. Nasib buruh menjadi lebih baik, jam kerja dikurangi, memiliki asuransi dan perlindungan hukum dan keamanan. Kedudukan buruh juga sekarang cukup baik dan kuat karena dapat mempengaruhi aturan, bahkan memaksa pengusaha dan penguasa.
Sosiolog Karl Marx menganjurkan kepada kaum buruh yang sering disebut kaum proletar di seluruh dunia untuk bersatu dan secara aktif melawan eksploitasi kelas kapitalis yang selama ini menghisapnya. Robohnya kelas atas (kapitalis) merupakan pertanda munculnya suatu jenis masyarakat baru, yakni masyarakat sosialis atau komunis.
Dalam masyarakat komunis (di bawah kepemimpinan kaum buruh) seluruh alat produksi tanpa, kecuali dibagikan secara merata. Tidak ada lagi pemilikan pribadi. Tidak ada pembagian pekerjaan, tidak ada lagi yang menderita dan ditindas. Paling penting, seluruh manusia hidupsejahtera, tidak kekurangan suatu apa. Himbauan Marx ini cepat memperoleh sambutan luar biasa di seluruh dunia.
Kehidupan Buruh di Pabrik
Pada dasarnya pekerjaan adalah satuan-satuan kegiatan yang saling berhubungan untuk mengubah satu wujud benda ke wujud benda lain yang memiliki nilai pakai dan nilai tukar. Setiap pekerjaan pada prinsipnya terdiri dari satuan-satuan kegiatan yang berbeda, tergantung pada kondisi benda asal yang akan diubah.
Setiap benda membutuhkan alat atau peralatan, yaitu sarana fisik yang dikembangkan dan atau dipakai manusia untuk membantu memudahkan pekerjaannya.
Dominasi mesin semakin jelas bila diamati bagaimana pekerjaan diterapkan di pabrik. Pada hakikatnya ada 3 (tiga) jenis pekerjaan di pabrik, yaitu jenis pekerjaan sulit, relatif mudah, dan relatif sangat mudah.
Mesin tetap membutuhkan manusia sebab:
  1. belum ada mesin dapat beroperasi tanpa campur tangan manusia; Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Saudara mahasiswa, coba jelaskan bagaimana pekerjaan di pabrik cenderung menurunkan kadar keterampilan buruh!
  2. mesin-mesin produksi yang canggih membutuhkan biaya yang sangat mahal sehingga kurang ekonomis dalam pengoperasiannya;
  3. ada kebijakan pemerintah, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, yang membatasi beroperasinya pabrik dengan mesin secara intensif.
Pembagian kerja (division of labor) dapat dikatakan merupakan hakikat peradaban modern oleh karena itu pada pabrik yang tidak padat modal cenderung bersifat fungsional, sedangkan pada perusahaan yang membutuhkan banyak tenaga profesional, pembagian kerjanya cenderung bersifat sosial.
Mekanisme kerja yang diterapkan pabrik pada dasarnya bertumpu sepenuhnya kepada prinsip rasionalitas, yakni kesesuaian antara cara (sarana) dengan tujuan. Pabrik menempatkan mekanisme kerja sebagai cara yang menjamin tercapainya tujuan secara efektif dan efisien.
Kerja Buruh
Buruh adalah pihak paling potensial mengalami kelelahan secara fisik yang dapat terlihat dari beberapa karakteristik, yaitu umumnya buruh bekerja sambil berdiri, mereka bekerja dengan banyak menggerakkan tangan dan kaki, beberapa di antaranya juga banyak menggunakan indra mata dan penciuman.
Ada 3 hal yang membuat pekerjaan buruh cenderung memiliki potensi keletihan yang lebih tinggi karena pekerjaan berlangsung dalam rentang waktu yang lama dan intensitas yang tinggi, tidak dapat menentukan sendiri kapan dan berapa lama ia dapat istirahat, dan tidak memperoleh kesempatan untuk memperoleh kepuasan sosial yang dapat mengkompensasi keletihan selama bekerja.
Kebosanan adalah merupakan konsekuensi yang bersifat psikologis karena buruh cenderung melakukan pekerjaan mereka secara parsial, satu-satunya tugas yang dilakukannya, tidak pernah melihat produk akhir sehingga tidak ada kepuasan kerja, dan waktu kerja dan jam istirahat buruh diatur oleh pihak manajemen. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Mesin mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Buruh perlu mengembangkan disiplin serta sikap cermat dan konsentrasi tinggi bila sedang menggunakannya.
Ada 2 sumber utama yang mengancam keberlangsungan pekerjaan bahkan kehidupan mereka secara keseluruhan, yaitu kehadiran mesin baru, kehadiran buruh (calon buruh) baru, pemerintah. Kondisi tersebut di atas menimbulkan alienasi, yaitu keterasingan yang dialami buruh sewaktu dan atau sebagai akibat mereka bekerja di pabrik. Ada 4 bentuk alienasi buruh, yaitu buruh terasing dari kegiatan produktifnya, produk yang diciptakannya sendiri, potensi manusiawinya, dan hubungan sosial.
Pekerjaan memiliki banyak matra (dimensi), salah satu yang tidak dapat dianggap remeh adalah sarana untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup manusia secara wajar, namun kenyataannya buruh hanya mendapat upah sangat kecil.
STRUKTUR SOSIAL DAN KEDUDUKAN BURUH
Pengertian Struktur Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, manusia cenderung hidup dalam unit-unit sosial. Dalam unit sosial ada mekanisme sosial yang menerapkan peraturan tertentu, lengkap dengan imbalan dan sanksinya dalam peraturan formal maupun peraturan informal.
Suatu unit sosial biasanya cenderung membedakan tindakan para anggotanya menurut dua dimensi, yaitu vertikal (stratifikasi) dan horizontal (diferensiasi). Berdasarkan kekayaan yang diperoleh dari pekerjaan dapat dibagi dalam beberapa lapisan (strata).
Unit sosial biasanya memberikan peran tersendiri kepada para anggotanya. Peran baru dapat menjadi tindakan ketika orang menjalankan hak dan kewajiban yang ditetapkan secara normatif.
Dengan memahami struktur sosial maka kita dapat menganalisis suatu fenomena sosial, sehingga dapat dilihat bahwa:
  1. Buruh bertindak secara seragam, yang bersifat tipikal, khas, unik apabila dibandingkan dengan anggota lainnya;
  2. buruh menempati posisi tertentu dalam stratifikasi dan diferensiasi;
  3. ada hubungan-hubungan tertentu antara buruh dengan para anggota lainnya;
  4. munculnya masalah-masalah perburuhan harus dikaji secarakomprehensif, bukan sekadar dari buruh itu sendiri, melainkan juga dari para anggota unit sosial lainnya.
Secara tidak langsung buruh menyadari bahwa ia adalah kelompok yang terorganisasi, relatif lebih terdidik, memiliki dukungan politik, yang memadai dari masyarakat, mampu melakukan tekanan-tekanan baik terhadap perusahaan maupun pemerintah. Masyarakat, melalui negara, memang memberikan hak formal kepada buruh untuk melakukan pemogokan, bahkan sejumlah masyarakat mendorongnya.
Kedudukan Buruh di Pabrik
Dari satu segi, pabrik dapat dipandang sebagai unit sosial. Karena itu, sebagaimana keluarga atau masyarakat, ia memiliki struktur sosial. Para anggotanya dapat dibedakan secara vertikal (stratifikasi) dan secara horizontal (diferensiasi).
  1. Stratifikasi
    Secara vertikal pada dasarnya pabrik terdiri dari tiga kelompok:
    1. Industrialis atau pengusaha pada puncak stratifikasi Pengusaha dapat dibagi dalam subkelompok pemilik sekaligus pengusaha (manajemen) dan pemilik tanpa jabatan struktural dalam perusahaan
    2. Manajemen, pengendali utama kegiatan pabrik sehari-hari yang kekuasaannya bersumber pada profesional atau profesional dan kepemilikan. Manajemen dapat dibagi dalam subkelompok manajemen puncak (top management), manajemen menengah (middle management), staf pendukung (supporting staff).
    3. buruh, tidak memiliki modal, alat produksi, keterampilan otak yang memadai. Buruh dapat dikelompokkan dalam subkelompok manajemen tingkat pertama, kepala regu, buruh massal.
Manajer lebih suka mengangkat mandor dari luar dengan pertimbangan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengoperasikan dan atau mengawasi mesin dan pekerjaan pada umumnya, lebih mudah berkomunikasi dengan pihak manajer, dan lebih loyal kepada manajer.
  1. Diferensiasi
    Secara horizontal sebenarnya setiap buruh massal berada dalam kedudukan yang sama, hal yang membedakan adalah spesifikasi bidang tugas dan atau divisi asal buruh yang ada di pabrik. Ada beberapa pengecualian kecil, yaitu dalam beberapa kasus terjadi hubungan buruh yang bersifat silang. Selain pemimpin formal dalam pabrik, kadang-kadang ada pemimpin informal dan kadang-kadang ada juga peraturan nonformal yang disepakati bersama. Pelanggaran terhadap kesepakatan non-formal akan mendapat sanksi sosial dari para buruh.
Kedudukan Buruh dalam Masyarakat
Dalam beberapa hal ada kesejajaran antara struktur sosial di pabrik dengan struktur sosial di masyarakat. Stratifikasi sosial ada enam lapisan atas-atas, atas-bawah, menengah-atas, menengah-bawah, bawah-atas, dan bawah-bawah. Stratifikasi ini dapat disederhanakan menjadi tiga tetapi dapat menghilangkan informasi yang relevan. Lapisan paling atas adalah menteri. Lapisan atas-bawah adalah Gubernur, perwira tinggi, guru besar, dan pengusaha besar. lapisan menengah-atas terdiri dari diplomat, Kepala Dati II, dokter, dosen, perwira menengah hingga pengusaha skala menengah. Lapisan menengah-bawah terdiri dari akuntan, asisten manajer, pastur, guru, pramugari, pengusaha kecil hingga petani sedang dan pegawai TU.
Lapisan bawah-atas terdiri dari masinis, nelayan, montir, sopir, satpam Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari kedudukan buruh dalam masyarakat. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang topik tersebut, coba Anda buat perbandingan stratifikasi buruh di pabrik dan masyarakat. hingga tukang bangunan. Lapisan bawah-bawah terdiri dari kondektur, pesuruh, pembantu, tukang becak, pengemis dan gelandangan.
Pabrik hanya mempunyai 4 lapisan, yaitu atas-bawah, menengahatas, menengah-bawah, bawah-atas.
HUBUNGAN INDUSTRIAL
Hakikat hubungan Industrial
Hubungan industrial merupakan suatu sistem hubungan yang terbentuk di antara pelaku proses produksi barang atau jasa yang melibatkan sekelompok orang dalam suatu organisasi kerja. Tujuan darihubungan industrial adalah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja dan pengusaha. Produktivitas dan kesejahteraan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja tidak bisa dicapai apabila kesejahteraan pekerja tidak diperhatikan atau diberikan harapan tentang kesejahteraan yang lebih baik di masa depan. Demikian juga sebaliknya, kesejahteraan pekerja tidak bisa dipenuhi atau ditingkatkan apabila tidak terjadi peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Hubungan industrial dapat dijelaskan dengan pendekatan tertentu dari berbagai pendekatan yang ada. Pendekatan-pendekatan itu, antara lain unitaris (unitary), pluralis (pluralist), marxist (radikal). Sementara itu, J. Dunlop mengemukakan bahwa dalam menganalisa hubungan industrial perlu mempertimbangkan peraturan-peraturan di tempat kerja (the rules of the workplace) sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh interaksi para pelaku hubungan industrial sebagai variabel independen. Proses interaksi itu (variabel independen), meliputi 3 hal berikut.
  1. Status relatif dari pelaku (the relative status of the actor).
  2. Konteks di mana para pelaku berinteraksi (the context in which the seactors interact).
  3. Ideologi dari sistem hubungan industrial (the ideology of the industrial relation system).
Perselisihan industrial biasanya diawali dengan tuntutan pekerja, baik secara lisan maupun tulisan. Perselisihan timbul ketika usulan atau tuntutan pekerja tidak segera ditanggapi oleh pihak pengusaha, tidak segera dilakukan perundingan atau karena kesepakatan antara manajemen dan pekerja tentang jenis tuntutan atau nilai tuntutan belum tercapai. Perselisihan industrial dapat diartikan sebagai perselisihan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja menyangkut masalah hak, kepentingan, dan pemutusan kerja serta perselisihan antarserikat pekerja di satu perusahaan.
Hubungan Industrial di Indonesia
Hubungan industrial pada awal kemerdekaan di mana masih diwarnai oleh orientasi politik. Pada masa ini seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mempertahankan kemerdekaan sehingga polarisasi dalam hubungan industrial tidaklah terasa. Polarisasi dalam hubungan industrial mulai dirasakan ketika pada Tahun 1947 terbentuk serikat buruh SOBSI yang berorientasi pada komunisme.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, terjadi gerak balik perkembangan hubungan industrial, seperti pada masa kolonial di mana pemerintah terlibat jauh dalam penataan hubungan industrial di Indonesia. Dengan kata lain, kalau pada masa Orde Lama gerakan buruh menjadi riuh rendah dengan politik maka pada masa Orde Baru gerakangerakan buruh menjadi sepi secara politik. Bahkan buruh diasingkan, diabaikan dari politik, dan gerakan buruh dibatasi di bawah wadah tunggal serikat buruh atau yang dikenal dengan istilah political labor union.
Kemunculan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) dapat dikatakan merupakan bagian dari restrukturisasi gerakan buruh di Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru. Langkah restrukturisasi dimaksudkan, antara lain untuk meredam ancaman aktivitas politik buruh terhadap stabilitas sosial politik yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Orde Baru menjalankan 2 langkah sekaligus, yaitu penataan pada aspek kelembagaan dan aspek ideologi
Salah satu perubahan penting akibat kebijakan desentralisasi adalah munculnya sistem hubungan industrial yang memungkinkan para buruh bebas mendirikan serikat buruh pada tingkat perusahaan sesuai dengan UU No. 21/2000. Di samping itu, pemerintah juga telah meratifikasi beberapa konvensi ILO (International Labor Organization-PBB), termasuk Konvensi No. 87 Th. 1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi.
GERAKAN BURUH DAN SERIKAT BURUH
Gerakan Buruh
Gerakan buruh merupakan istilah yang digunakan secara luas untuk menjelaskan dinamika organisasi kolektif para pekerja atau buruh dalam rangka menuntut perbaikan nasib mereka kepada majikan (pengusaha) dan kebijakan-kebijakan perburuhan yang pro-buruh dan adil. Revolusi Industri merupakan istilah yang digunakan oleh ilmuwan sosial untuk menjelaskan perubahan besar pada alat-alat produksi di Inggris beserta konsekuensi sosialnya sejak pertengahan Abad ke-18.
Revolusi Industri yang ditandai oleh adanya penemuan mesin uap telah mengubah secara permanen hubungan buruh-majikan. Pada saat itu, bangsa Inggris mengalami sebuah transformasi berupa peralihan dari era pertanian menuju era industri. Peralihan ini tentu saja berdampak pada perubahan budaya kerja, metode kerja, upah kerja. Jika pada era pertanian yang menjadi penguasa adalah para tuan tanah, maka pada era industri yang menjadi penguasa adalah para pengusaha (pemberi kerja).
Para pengusaha (pemberi kerja) inilah yang menentukan sepenuhnya nasib para buruh.
Secara sederhana, gerakan-gerakan buruh dapat dikelompokkan ke dalam kategorisasi sebagai berikut.
  1. Gerakan buruh yang berorientasi untuk menyejahterakan para anggotanya sehingga para anggotanya mendapatkan keuntungan, seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan uang pensiun. Salah satu serikat buruh tertua yang tercatat dalam sejarah, Friendly Societies, didirikan untuk mewujudkan tujuan tersebut.
  2. Gerakan buruh yang bertujuan untuk melakukan tawar-menawar secara kolektif (bargaining collective) sehingga mereka dapat bernegosiasi dengan para pengusaha mengenai upah dan kondisi kerja yang manusiawi.
  3. Gerakan buruh yang berorientasi untuk melakukan perlawanan tindakan industri, seperti pemogokan.
  4. Gerakan buruh yang berorientasi kepada aktivitas politik. Di antara tujuan gerakan ini berupaya untuk mewujudkan legislasi yang adil buat para buruh. Gerakan ini biasanya berwujud partai politik, seperti halnya Partai Buruh di Inggris yang berawal dari gerakan buruh.
Tindakan Perburuhan
Pada hakikatnya tindakan perburuhan adalah upaya menunjukkan kekuasaan kepada pihak manajemen pabrik dengan cara memanipulasi jumlah untuk mengganggu jalannya kegiatan produksi. Dalam terminologi lain, tindakan perburuhan adalah suatu aksi yang bersifat politik, bahkan di beberapa negara Eropa Barat, buruh mendirikan partai dan mampu memegang kendali pemerintahan.
Jenis-jenis Tindakan Perburuhan ada 5 yang masing-masing mempunyai pengertian, bobot kekuasaan, dan implikasi tersendiri. Jenisjenis tindakan perburuhan tersebut adalah gerakan pengorganisasian, pelambatan kerja, boikot, sabotase, dan pemogokan.
Serikat Buruh
Serikat buruh merupakan asosiasi para buruh yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan sosial buruh. Serikat buruh merupakan representasi dari masing-masing anggotanya untuk melakukan negosiasi dengan pengusaha terkait dengan semua aspek yang terkandung dalam kontrak kerja, termasuk di dalamnya adalah Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari materi Kegiatan Belajar 3. Tugas Anda adalah menjelaskan materi Kegiatan Belajar 3 dengan bahasa Anda sendiri dan lanjutkan dengan menganalisa dinamika serikat pekerja di lingkungan kerja Anda. persoalan upah dan kondisi kerja yang diinginkan. Para buruh, umumnya, menuntut kontrak kerja yang tegas dan jelas.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah organisasi buruh di Amerika Serikat. Faktor-faktor terpenting adalah situasi ekonomi, keberadaan peraturan perundang-undangan, dan kepiawaian pemimpin serikat buruh.
Ada sekurang-kurangnya 2 bentuk serikat buruh di Amerika Serikat, yaitu serikat buruh non-industri dan serikat buruh industri. Serikat buruh non-industri mencakup para buruh yang bekerja di bidang kerajinan, tanpa melihat di mana mereka bekerja. Contohnya, serikat buruh listrik, tukang kayu, dan percetakan. Serikat buruh non-industri (kerajinan) muncul dari serikat buruh percetakan dan pembuat kayu yang memulai gerakan buruh di Amerika Serikat.
Perkembangan serikat buruh di Indonesia mengalami pasang surut. Kondisi perburuhan di Indonesia mengalami kondisi yang mengenaskan dari masa kolonial sampai rezim pemerintahan Orde Baru.

0 komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 14 April 2011

Sosiologi Industri

PRINSIP-PRINSIP DASAR SOSIOLOGI INDUSTRI
Fokus dan Cakupan Sosiologi Industri
Sosiologi memusatkan perhatian kepada tindakan-tindakan manusia yang terbingkai dalam sejumlah aturan-aturan yang dibangun oleh sekumpulan manusia itu sendiri. Tindakan manusia juga terbingkai di dalam struktur sosial. Namun, sosiologi juga memperhatikan aspek dinamis dari tindakan. Individu mempunyai kemungkinan untuk mengelola tindakannya. Perspektif ini membuat sosiologi bersifat ganda. Meskipun begitu, di antara keduanya terdapat keterkaitan yang sangat erat.
Perkembangan sosiologi tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para tokoh sosiologi klasik yang memberi sumbangan berharga melalui pengamatan mereka terhadap perubahan-perubahan besar di masyarakat Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Agar Anda lebih memahami materi Kegiatan Belajar 1, coba Anda jelaskan kembali materi Kegiatan Belajar 1 dengan bahasa Anda sendiri. Anda juga harus menjelaskan konsepkonsep penting dalam materi 1
khususnya di Eropa. Revolusi industri dan berbagai revolusi sosial politik lainnya di negara Eropa menghasilkan beragam cara pandang di antara para sosiolog klasik mengenai perkembangan kapitalisme, rasionalisme, serta perubahan struktur sosial. Perubahan-perubahan yang terjadi baik di tingkat masyarakat maupun khususnya di dalam organisasi kerja memberi sumbangan yang berarti bagi pengembangan sosiologi industri.
Teori-teori dalam Sosiologi Industri
Sosiologi industri mempunyai cakupan teori yang sangat luas. Ada tiga penyebab luas cakupan tersebut. Pertama, cakupan substansi yang dibahas di dalam sosiologi industri cukup luas. Kedua adanya perbedaan tingkat analisis yang menghasilkan keragaman berbagai teori. Ketiga adalah karena teori-teori yang digunakan di dalam sosiologi industri memiliki keragaman berdasarkan asal pemikirannya. Luasnya cakupan seluruh teori yang digunakan di dalam analisis-analisis sosiologi industri itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori pendekatan. Pertama, pendekatan non-sosiologis. Kedua, pendekatan sosiologis. Ketiga, pendekatan hubungan industrial.
Pendekatan non-sosiologis di pelopori oleh kehadiran teori-teori yang mempunyai basis analisis psikologis. Pertama dan paling populer adalah teori manajemen ilmiah atau Taylorisme. Kedua adalah psikologi-manajerial. Sementara itu, teori-teori yang berbasis pendekatan sosiologis dapat dilihat dari teori Durkheim yang berpengaruh terhadap kategori teori hubungan antara manusia dari Elton Mayo, teori Dunlop. Selain itu, teori-teori Max Weber dan Karl marx, sedangkan teori-teori berpendekatan hubungan industrial, terbagi ke dalam kelompok pemikiran unitaris, pluralis, dan radikalis.
SISTEM PRODUKSI
Sistem Produksi Primer, Gilda, dan Putting-Out
  1. Sistem Produksi Primer
    Sistem produksi primer banyak terdapat pada masyarakat agraris, biasanya terdiri dari suatu keluarga luas yang terdiri dari generasi pertama sampai generasi berikutnya. Kedudukan mereka dalam pekerjaan ditentukan oleh pertalian darah. Pembagian kerja rendah, hanya berdasarkan jenis kelamin dan usia. Hubungan mereka lebih bersifat sosial. Pekerjaan sistem produk ini sepenuhnya tergantung kepada kebaikan alam. Seluruh hasil produksi untuk kepentingan konsumsi, persediaan paceklik dan dibarter dengan kebutuhan yang tidak dapat diproduksi sendiri. Sistem produksi ini lebih ditunjukkan bagi ketercukupan sandang, pangan dan papan. Sistem ini sebagian tergantung pada pihak lain karena tanah yang dikerjakan bukan miliknya sendiri atau pertimbangan keamanan.
  2. Sistem Produksi Gilda
    Gilda berukuran lebih kecil dari sistem produksi primer, merupakan sarana pelarian bagi petani karena berbagai sebab. Pada prinsipnya petani datang ke gilda harus diterima dan biasanya sudah berbekal keterampilan. Gilda dipimpin oleh seorang master (tua) yang memiliki keterampilan, modal, alat, dan cenderung mengembangkan Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! alat-alatnya, walaupun belum mampu mengembangkan mesin. Master mengandalkan hidup dari barang-barang sekunder sehingga master harus membuat barang yang berkualitas dan standar, yang harus dijual sendiri ke pasar, karena itu sifat dasar gilda menjadi lebih tinggi. Setiap jenis gilda membentuk asosiasi induk untuk beberapa tujuan. Suasana dalam gilda masih bersifat kekeluargaan, bahkan kadang-kadang terjadi perkawinan antara anak master dengan karyawan gilda. Dalam perjalanan waktu, gilda menjadi lemah karena beberapa faktor, yaitu terhambatnya monolitas vertikal karyawan penuh untuk menjadi master, kompetisi tidak sehat di antara gilda itu sendiri, sejumlah pemilik gilda menjadi kaya raya, beberapa gilda beralih menjadi pedagang, dan luasnya pasar di luar negeri menjadikan gilda semakin bergantung pada pedagang ekspor.
  3. Sistem Produksi Putting-out
    Jumlah saudagar kaya dan kuat menjadi semakin besar. Kekayaannya diperoleh dari perdagangan luar negeri, jarahan di negara koloni, memonopoli perdagangan, dan menghancurkan gilda yang terdapat di negara koloni. Dengan semakin besarnya pasar di luar negeri, gilda tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar sehingga pedagang memanfaatkan petani. Pada awalnya petani harus menyediakan alat dan modal sendiri, tetapi pada perkembangan berikutnya, alat, modal, dan pemasaran ditangani oleh pedagang. Sistem produksi putting-out runtuh karena sulitnya mengontrol ketepatan penyelesaian produksi, beragamnya waktu penyelesaian produksi, sukarnya mengontrol (pengawasan), serta sulitnya melakukan pembagian dan penggunaan mesin baru sehingga sulit menekan biaya produksi atau meningkatkan produksi.
Sistem Produksi Pabrik
Sistem produksi pabrik muncul seiring dengan munculnya industrialisasi. Penemuan mesin-mesin berpresisi tinggi menghasilkan mutu, memudahkan pekerjaan manusia, tidak banyak membutuhkan banyak tenaga manusia dan meningkatkan jumlah produksi. Dengan kehadiran mesin, pekerjaan dipecah menjadi banyak sehingga setiap orang tidak selalu memerlukan keterampilan khusus yang membutuhkan biaya mahal.
Ada beberapa keuntungan bila pekerjaan dibagi dalam banyak bagian, yaitu pekerjaan kecil dan sederhana dapat dikerjakan semua orang, produktivitas setiap pekerja menurut satuan pekerjaannya menjadi meningkat, dan produktivitas akhir setiap pekerja meningkat pesat.
Sistem produksi pabrik berbeda menyolok dengan sistem produksi primer, gilda, dan putting-out pada fakta bahwa seluruh modal, alat dan alat mesin hingga pemasaran sepenuhnya dikuasai oleh pedagang/ pengusaha sehingga pengusaha mempunyai posisi tawar yang sangat kuat. Oleh karena itu, dapat dimengerti bila orientasi pokok pengusaha hanya tertuju pada kapasitas paham bagaimana orang dapat terus memupuk dan meningkatkan investasinya. Hubungan antara karyawan dan pengusaha adalah formal. Untuk menekan ongkos produksi, pengusaha tidak segan-segan mempekerjakan wanita dan anak-anak.
PEKERJAAN
Hakikat Kerja
Keith Grint berusaha menjelaskan definisi kerja sebagai tindakan yang dapat menjamin keberlangsungan (survival) individu dan masyarakat. Karena itu, tindakan seperti menulis buku, bermain drama, mengajar dapat dipandang sebagai kerja meskipun tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan suatu masyarakat.
Tony J. Watson mendefinisikan kerja sebagai aktivitas-aktivitas yang dapat membantu manusia bertahan hidup (make a living) dalam suatu lingkungan masyarakat. Istilah bertahan hidup dalam definisi Watson bukan hanya menunjuk pada usaha untuk memproduksi barangbarang material, tetapi juga meliputi ketahanan fisik (physical survival) dan aspek budaya yang berhubungan dengan eksistensi manusia.
Aspek budaya dari kerja berhubungan dengan sikap atau konsepsi suatu masyarakat terhadap kerja. Sikap terhadap kerja sangat beragam antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Keragaman sikap ini merefleksikan nilai-nilai dan terkadang kepentingan suatu masyarakat yang mendukung budaya tersebut.
Pola kerja di era industrialisasi tidak bisa lagi didasarkan pada orientasi kerja melainkan pada ketentuan waktu. Waktu adalah uang, tidak bisa disia-siakan begitu saja, tetapi harus dimanfaatkan. Buruh tidak bisa lagi mengontrol pola kerja mereka, tetapi dipaksa untuk bekerja seharian di pabrik.
Kerja sangat berkaitan dengan ruang dan waktu. Definisi kerja sangat berhubungan dengan konteks masyarakat setempat. Ada kegiatan bagi sebagian masyarakat adalah kerja, tetapi bagi masyarakat lain bukan kerja. Karena itu, kerja memiliki dimensi sosial atau konstruksi sosial.
Definisi tentang kerja sering kali tidak hanya menyangkut apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga menyangkut kondisi yang melatarbelakangi kerja tersebut, serta penilaian sosial yang diberikanterhadap kerja tersebut.
Dengan mempertimbangkan kritik terhadap beberapa dikotomi kerja maka kerja dapat didefinisikan sebagai segala hal yang dikerjakan oleh seorang individu baik untuk subsistensi; untuk dipertukarkan atau diperdagangkan; untuk menjaga kelangsungan keturunan dan kelangsungan hidup keluarga atau masyarakat.
Proses Kerja dan Keterasingan
Proses kerja adalah suatu sarana di mana bahan-bahan mentah (raw materials) diolah untuk menjadi produk oleh tenaga manusia dengan bantuan alat atau mesin. Seseorang bisa mengalami ketidakpuasan dalam bekerja atau bahkan mengalami situasi keterasingan (alienation). Situasi keterasingan merupakan perwujudan dari perasaan ketidakberdayaan, hampa, terisolasi secara sosial atau keterasingan diri (self-estrangement). Dalam situasi demikian, seseorang merasa tidak memiliki alasan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran untuk pekerjaannya.
Keterasingan atau alinenasi dianalisis oleh Blauner dengan cara mengkategorikannya ke dalam empat dimensi. Pertama, ketidakberdayaan (powerlessness), yakni tidak adanya kekuatan buruh untuk mengontrol hasil kerjanya. Kedua, kehampaan makna (meaninglessness), yaitu buruh tidak menemukan makna dari aktivitas kerjanya. Ketiga, isolasi (isolation), yaitu buruh tidak terintegrasi secara sosial ke dalam aktivitas kerja. Keempat, terasing dari diri sendiri (selfestrangement), yaitu buruh tidak menjadi bagian dari proses kerja.
BURUH INDUSTRI
Pengertian dan Peran Buruh
Istilah buruh identik dengan kondisi ketidakadilan, penghisapan, kebobrokan. dan kemeralatan. Bahkan istilah buruh dilekatkan pada ideologi atau gerakan komunis dan bersifat subversif. Karena itu, terdapat kecenderungan umum untuk mengganti istilah buruh dengan istilah pekerja (worker) untuk menyebut orang-orang yang bekerja di pabrik. Di Indonesia, kadang-kadang mereka disebut sebagai karyawan.
Kondisi perburuhan pada masa revolusi industri sangatlah memprihatinkan. Pekerja pabrik pada masa itu bukan hanya terdiri dari pria usia kerja saja, tetapi juga wanita tua dari gadis sampai ibu-ibu yang sudah tua renta dan anak-anak. Tiap hari mereka bekerja dalam waktu panjang tanpa fasilitas kebersihan, keamanan dan kesehatan. Apabila buruh sakit/mendapat kecelakaan kerja, pabrik tidak mau menanggung biayanya, bahkan yang bersangkutan dipecat karena dianggap mangkir tidak mampu melaksanakan tugas. Pengusaha dan manajemennya sangat berkuasa. Pekerja dengan upah sangat minim dipaksa bekerja matimatian, lembur terus-menerus tanpa jaminan, sementara pengusaha mendapat keuntungan sangat banyak.
Kondisi pabrik atau industri yang buram, lambat laun berubah menjadi bangunan yang bersih, terang, sehat, terpelihara, serta lega dan mempunyai berbagai fasilitas dan kesejahteraan. Nasib buruh menjadi lebih baik, jam kerja dikurangi, memiliki asuransi dan perlindungan hukum dan keamanan. Kedudukan buruh juga sekarang cukup baik dan kuat karena dapat mempengaruhi aturan, bahkan memaksa pengusaha dan penguasa.
Sosiolog Karl Marx menganjurkan kepada kaum buruh yang sering disebut kaum proletar di seluruh dunia untuk bersatu dan secara aktif melawan eksploitasi kelas kapitalis yang selama ini menghisapnya. Robohnya kelas atas (kapitalis) merupakan pertanda munculnya suatu jenis masyarakat baru, yakni masyarakat sosialis atau komunis.
Dalam masyarakat komunis (di bawah kepemimpinan kaum buruh) seluruh alat produksi tanpa, kecuali dibagikan secara merata. Tidak ada lagi pemilikan pribadi. Tidak ada pembagian pekerjaan, tidak ada lagi yang menderita dan ditindas. Paling penting, seluruh manusia hidupsejahtera, tidak kekurangan suatu apa. Himbauan Marx ini cepat memperoleh sambutan luar biasa di seluruh dunia.
Kehidupan Buruh di Pabrik
Pada dasarnya pekerjaan adalah satuan-satuan kegiatan yang saling berhubungan untuk mengubah satu wujud benda ke wujud benda lain yang memiliki nilai pakai dan nilai tukar. Setiap pekerjaan pada prinsipnya terdiri dari satuan-satuan kegiatan yang berbeda, tergantung pada kondisi benda asal yang akan diubah.
Setiap benda membutuhkan alat atau peralatan, yaitu sarana fisik yang dikembangkan dan atau dipakai manusia untuk membantu memudahkan pekerjaannya.
Dominasi mesin semakin jelas bila diamati bagaimana pekerjaan diterapkan di pabrik. Pada hakikatnya ada 3 (tiga) jenis pekerjaan di pabrik, yaitu jenis pekerjaan sulit, relatif mudah, dan relatif sangat mudah.
Mesin tetap membutuhkan manusia sebab:
  1. belum ada mesin dapat beroperasi tanpa campur tangan manusia; Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Saudara mahasiswa, coba jelaskan bagaimana pekerjaan di pabrik cenderung menurunkan kadar keterampilan buruh!
  2. mesin-mesin produksi yang canggih membutuhkan biaya yang sangat mahal sehingga kurang ekonomis dalam pengoperasiannya;
  3. ada kebijakan pemerintah, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, yang membatasi beroperasinya pabrik dengan mesin secara intensif.
Pembagian kerja (division of labor) dapat dikatakan merupakan hakikat peradaban modern oleh karena itu pada pabrik yang tidak padat modal cenderung bersifat fungsional, sedangkan pada perusahaan yang membutuhkan banyak tenaga profesional, pembagian kerjanya cenderung bersifat sosial.
Mekanisme kerja yang diterapkan pabrik pada dasarnya bertumpu sepenuhnya kepada prinsip rasionalitas, yakni kesesuaian antara cara (sarana) dengan tujuan. Pabrik menempatkan mekanisme kerja sebagai cara yang menjamin tercapainya tujuan secara efektif dan efisien.
Kerja Buruh
Buruh adalah pihak paling potensial mengalami kelelahan secara fisik yang dapat terlihat dari beberapa karakteristik, yaitu umumnya buruh bekerja sambil berdiri, mereka bekerja dengan banyak menggerakkan tangan dan kaki, beberapa di antaranya juga banyak menggunakan indra mata dan penciuman.
Ada 3 hal yang membuat pekerjaan buruh cenderung memiliki potensi keletihan yang lebih tinggi karena pekerjaan berlangsung dalam rentang waktu yang lama dan intensitas yang tinggi, tidak dapat menentukan sendiri kapan dan berapa lama ia dapat istirahat, dan tidak memperoleh kesempatan untuk memperoleh kepuasan sosial yang dapat mengkompensasi keletihan selama bekerja.
Kebosanan adalah merupakan konsekuensi yang bersifat psikologis karena buruh cenderung melakukan pekerjaan mereka secara parsial, satu-satunya tugas yang dilakukannya, tidak pernah melihat produk akhir sehingga tidak ada kepuasan kerja, dan waktu kerja dan jam istirahat buruh diatur oleh pihak manajemen. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Mesin mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Buruh perlu mengembangkan disiplin serta sikap cermat dan konsentrasi tinggi bila sedang menggunakannya.
Ada 2 sumber utama yang mengancam keberlangsungan pekerjaan bahkan kehidupan mereka secara keseluruhan, yaitu kehadiran mesin baru, kehadiran buruh (calon buruh) baru, pemerintah. Kondisi tersebut di atas menimbulkan alienasi, yaitu keterasingan yang dialami buruh sewaktu dan atau sebagai akibat mereka bekerja di pabrik. Ada 4 bentuk alienasi buruh, yaitu buruh terasing dari kegiatan produktifnya, produk yang diciptakannya sendiri, potensi manusiawinya, dan hubungan sosial.
Pekerjaan memiliki banyak matra (dimensi), salah satu yang tidak dapat dianggap remeh adalah sarana untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup manusia secara wajar, namun kenyataannya buruh hanya mendapat upah sangat kecil.
STRUKTUR SOSIAL DAN KEDUDUKAN BURUH
Pengertian Struktur Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, manusia cenderung hidup dalam unit-unit sosial. Dalam unit sosial ada mekanisme sosial yang menerapkan peraturan tertentu, lengkap dengan imbalan dan sanksinya dalam peraturan formal maupun peraturan informal.
Suatu unit sosial biasanya cenderung membedakan tindakan para anggotanya menurut dua dimensi, yaitu vertikal (stratifikasi) dan horizontal (diferensiasi). Berdasarkan kekayaan yang diperoleh dari pekerjaan dapat dibagi dalam beberapa lapisan (strata).
Unit sosial biasanya memberikan peran tersendiri kepada para anggotanya. Peran baru dapat menjadi tindakan ketika orang menjalankan hak dan kewajiban yang ditetapkan secara normatif.
Dengan memahami struktur sosial maka kita dapat menganalisis suatu fenomena sosial, sehingga dapat dilihat bahwa:
  1. Buruh bertindak secara seragam, yang bersifat tipikal, khas, unik apabila dibandingkan dengan anggota lainnya;
  2. buruh menempati posisi tertentu dalam stratifikasi dan diferensiasi;
  3. ada hubungan-hubungan tertentu antara buruh dengan para anggota lainnya;
  4. munculnya masalah-masalah perburuhan harus dikaji secarakomprehensif, bukan sekadar dari buruh itu sendiri, melainkan juga dari para anggota unit sosial lainnya.
Secara tidak langsung buruh menyadari bahwa ia adalah kelompok yang terorganisasi, relatif lebih terdidik, memiliki dukungan politik, yang memadai dari masyarakat, mampu melakukan tekanan-tekanan baik terhadap perusahaan maupun pemerintah. Masyarakat, melalui negara, memang memberikan hak formal kepada buruh untuk melakukan pemogokan, bahkan sejumlah masyarakat mendorongnya.
Kedudukan Buruh di Pabrik
Dari satu segi, pabrik dapat dipandang sebagai unit sosial. Karena itu, sebagaimana keluarga atau masyarakat, ia memiliki struktur sosial. Para anggotanya dapat dibedakan secara vertikal (stratifikasi) dan secara horizontal (diferensiasi).
  1. Stratifikasi
    Secara vertikal pada dasarnya pabrik terdiri dari tiga kelompok:
    1. Industrialis atau pengusaha pada puncak stratifikasi Pengusaha dapat dibagi dalam subkelompok pemilik sekaligus pengusaha (manajemen) dan pemilik tanpa jabatan struktural dalam perusahaan
    2. Manajemen, pengendali utama kegiatan pabrik sehari-hari yang kekuasaannya bersumber pada profesional atau profesional dan kepemilikan. Manajemen dapat dibagi dalam subkelompok manajemen puncak (top management), manajemen menengah (middle management), staf pendukung (supporting staff).
    3. buruh, tidak memiliki modal, alat produksi, keterampilan otak yang memadai. Buruh dapat dikelompokkan dalam subkelompok manajemen tingkat pertama, kepala regu, buruh massal.
Manajer lebih suka mengangkat mandor dari luar dengan pertimbangan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengoperasikan dan atau mengawasi mesin dan pekerjaan pada umumnya, lebih mudah berkomunikasi dengan pihak manajer, dan lebih loyal kepada manajer.
  1. Diferensiasi
    Secara horizontal sebenarnya setiap buruh massal berada dalam kedudukan yang sama, hal yang membedakan adalah spesifikasi bidang tugas dan atau divisi asal buruh yang ada di pabrik. Ada beberapa pengecualian kecil, yaitu dalam beberapa kasus terjadi hubungan buruh yang bersifat silang. Selain pemimpin formal dalam pabrik, kadang-kadang ada pemimpin informal dan kadang-kadang ada juga peraturan nonformal yang disepakati bersama. Pelanggaran terhadap kesepakatan non-formal akan mendapat sanksi sosial dari para buruh.
Kedudukan Buruh dalam Masyarakat
Dalam beberapa hal ada kesejajaran antara struktur sosial di pabrik dengan struktur sosial di masyarakat. Stratifikasi sosial ada enam lapisan atas-atas, atas-bawah, menengah-atas, menengah-bawah, bawah-atas, dan bawah-bawah. Stratifikasi ini dapat disederhanakan menjadi tiga tetapi dapat menghilangkan informasi yang relevan. Lapisan paling atas adalah menteri. Lapisan atas-bawah adalah Gubernur, perwira tinggi, guru besar, dan pengusaha besar. lapisan menengah-atas terdiri dari diplomat, Kepala Dati II, dokter, dosen, perwira menengah hingga pengusaha skala menengah. Lapisan menengah-bawah terdiri dari akuntan, asisten manajer, pastur, guru, pramugari, pengusaha kecil hingga petani sedang dan pegawai TU.
Lapisan bawah-atas terdiri dari masinis, nelayan, montir, sopir, satpam Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari kedudukan buruh dalam masyarakat. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang topik tersebut, coba Anda buat perbandingan stratifikasi buruh di pabrik dan masyarakat. hingga tukang bangunan. Lapisan bawah-bawah terdiri dari kondektur, pesuruh, pembantu, tukang becak, pengemis dan gelandangan.
Pabrik hanya mempunyai 4 lapisan, yaitu atas-bawah, menengahatas, menengah-bawah, bawah-atas.
HUBUNGAN INDUSTRIAL
Hakikat hubungan Industrial
Hubungan industrial merupakan suatu sistem hubungan yang terbentuk di antara pelaku proses produksi barang atau jasa yang melibatkan sekelompok orang dalam suatu organisasi kerja. Tujuan darihubungan industrial adalah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja dan pengusaha. Produktivitas dan kesejahteraan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja tidak bisa dicapai apabila kesejahteraan pekerja tidak diperhatikan atau diberikan harapan tentang kesejahteraan yang lebih baik di masa depan. Demikian juga sebaliknya, kesejahteraan pekerja tidak bisa dipenuhi atau ditingkatkan apabila tidak terjadi peningkatan produktivitas perusahaan dan kerja. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Hubungan industrial dapat dijelaskan dengan pendekatan tertentu dari berbagai pendekatan yang ada. Pendekatan-pendekatan itu, antara lain unitaris (unitary), pluralis (pluralist), marxist (radikal). Sementara itu, J. Dunlop mengemukakan bahwa dalam menganalisa hubungan industrial perlu mempertimbangkan peraturan-peraturan di tempat kerja (the rules of the workplace) sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh interaksi para pelaku hubungan industrial sebagai variabel independen. Proses interaksi itu (variabel independen), meliputi 3 hal berikut.
  1. Status relatif dari pelaku (the relative status of the actor).
  2. Konteks di mana para pelaku berinteraksi (the context in which the seactors interact).
  3. Ideologi dari sistem hubungan industrial (the ideology of the industrial relation system).
Perselisihan industrial biasanya diawali dengan tuntutan pekerja, baik secara lisan maupun tulisan. Perselisihan timbul ketika usulan atau tuntutan pekerja tidak segera ditanggapi oleh pihak pengusaha, tidak segera dilakukan perundingan atau karena kesepakatan antara manajemen dan pekerja tentang jenis tuntutan atau nilai tuntutan belum tercapai. Perselisihan industrial dapat diartikan sebagai perselisihan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja menyangkut masalah hak, kepentingan, dan pemutusan kerja serta perselisihan antarserikat pekerja di satu perusahaan.
Hubungan Industrial di Indonesia
Hubungan industrial pada awal kemerdekaan di mana masih diwarnai oleh orientasi politik. Pada masa ini seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mempertahankan kemerdekaan sehingga polarisasi dalam hubungan industrial tidaklah terasa. Polarisasi dalam hubungan industrial mulai dirasakan ketika pada Tahun 1947 terbentuk serikat buruh SOBSI yang berorientasi pada komunisme.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, terjadi gerak balik perkembangan hubungan industrial, seperti pada masa kolonial di mana pemerintah terlibat jauh dalam penataan hubungan industrial di Indonesia. Dengan kata lain, kalau pada masa Orde Lama gerakan buruh menjadi riuh rendah dengan politik maka pada masa Orde Baru gerakangerakan buruh menjadi sepi secara politik. Bahkan buruh diasingkan, diabaikan dari politik, dan gerakan buruh dibatasi di bawah wadah tunggal serikat buruh atau yang dikenal dengan istilah political labor union.
Kemunculan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) dapat dikatakan merupakan bagian dari restrukturisasi gerakan buruh di Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru. Langkah restrukturisasi dimaksudkan, antara lain untuk meredam ancaman aktivitas politik buruh terhadap stabilitas sosial politik yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Orde Baru menjalankan 2 langkah sekaligus, yaitu penataan pada aspek kelembagaan dan aspek ideologi
Salah satu perubahan penting akibat kebijakan desentralisasi adalah munculnya sistem hubungan industrial yang memungkinkan para buruh bebas mendirikan serikat buruh pada tingkat perusahaan sesuai dengan UU No. 21/2000. Di samping itu, pemerintah juga telah meratifikasi beberapa konvensi ILO (International Labor Organization-PBB), termasuk Konvensi No. 87 Th. 1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi.
GERAKAN BURUH DAN SERIKAT BURUH
Gerakan Buruh
Gerakan buruh merupakan istilah yang digunakan secara luas untuk menjelaskan dinamika organisasi kolektif para pekerja atau buruh dalam rangka menuntut perbaikan nasib mereka kepada majikan (pengusaha) dan kebijakan-kebijakan perburuhan yang pro-buruh dan adil. Revolusi Industri merupakan istilah yang digunakan oleh ilmuwan sosial untuk menjelaskan perubahan besar pada alat-alat produksi di Inggris beserta konsekuensi sosialnya sejak pertengahan Abad ke-18.
Revolusi Industri yang ditandai oleh adanya penemuan mesin uap telah mengubah secara permanen hubungan buruh-majikan. Pada saat itu, bangsa Inggris mengalami sebuah transformasi berupa peralihan dari era pertanian menuju era industri. Peralihan ini tentu saja berdampak pada perubahan budaya kerja, metode kerja, upah kerja. Jika pada era pertanian yang menjadi penguasa adalah para tuan tanah, maka pada era industri yang menjadi penguasa adalah para pengusaha (pemberi kerja).
Para pengusaha (pemberi kerja) inilah yang menentukan sepenuhnya nasib para buruh.
Secara sederhana, gerakan-gerakan buruh dapat dikelompokkan ke dalam kategorisasi sebagai berikut.
  1. Gerakan buruh yang berorientasi untuk menyejahterakan para anggotanya sehingga para anggotanya mendapatkan keuntungan, seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan uang pensiun. Salah satu serikat buruh tertua yang tercatat dalam sejarah, Friendly Societies, didirikan untuk mewujudkan tujuan tersebut.
  2. Gerakan buruh yang bertujuan untuk melakukan tawar-menawar secara kolektif (bargaining collective) sehingga mereka dapat bernegosiasi dengan para pengusaha mengenai upah dan kondisi kerja yang manusiawi.
  3. Gerakan buruh yang berorientasi untuk melakukan perlawanan tindakan industri, seperti pemogokan.
  4. Gerakan buruh yang berorientasi kepada aktivitas politik. Di antara tujuan gerakan ini berupaya untuk mewujudkan legislasi yang adil buat para buruh. Gerakan ini biasanya berwujud partai politik, seperti halnya Partai Buruh di Inggris yang berawal dari gerakan buruh.
Tindakan Perburuhan
Pada hakikatnya tindakan perburuhan adalah upaya menunjukkan kekuasaan kepada pihak manajemen pabrik dengan cara memanipulasi jumlah untuk mengganggu jalannya kegiatan produksi. Dalam terminologi lain, tindakan perburuhan adalah suatu aksi yang bersifat politik, bahkan di beberapa negara Eropa Barat, buruh mendirikan partai dan mampu memegang kendali pemerintahan.
Jenis-jenis Tindakan Perburuhan ada 5 yang masing-masing mempunyai pengertian, bobot kekuasaan, dan implikasi tersendiri. Jenisjenis tindakan perburuhan tersebut adalah gerakan pengorganisasian, pelambatan kerja, boikot, sabotase, dan pemogokan.
Serikat Buruh
Serikat buruh merupakan asosiasi para buruh yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan sosial buruh. Serikat buruh merupakan representasi dari masing-masing anggotanya untuk melakukan negosiasi dengan pengusaha terkait dengan semua aspek yang terkandung dalam kontrak kerja, termasuk di dalamnya adalah Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Anda telah mempelajari materi Kegiatan Belajar 3. Tugas Anda adalah menjelaskan materi Kegiatan Belajar 3 dengan bahasa Anda sendiri dan lanjutkan dengan menganalisa dinamika serikat pekerja di lingkungan kerja Anda. persoalan upah dan kondisi kerja yang diinginkan. Para buruh, umumnya, menuntut kontrak kerja yang tegas dan jelas.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah organisasi buruh di Amerika Serikat. Faktor-faktor terpenting adalah situasi ekonomi, keberadaan peraturan perundang-undangan, dan kepiawaian pemimpin serikat buruh.
Ada sekurang-kurangnya 2 bentuk serikat buruh di Amerika Serikat, yaitu serikat buruh non-industri dan serikat buruh industri. Serikat buruh non-industri mencakup para buruh yang bekerja di bidang kerajinan, tanpa melihat di mana mereka bekerja. Contohnya, serikat buruh listrik, tukang kayu, dan percetakan. Serikat buruh non-industri (kerajinan) muncul dari serikat buruh percetakan dan pembuat kayu yang memulai gerakan buruh di Amerika Serikat.
Perkembangan serikat buruh di Indonesia mengalami pasang surut. Kondisi perburuhan di Indonesia mengalami kondisi yang mengenaskan dari masa kolonial sampai rezim pemerintahan Orde Baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms