Rabu, 13 Juli 2011

serat centhini

Serat Centhini merupakan karya penting dalam khasanah sastra Jawa. Pada tembang pertama serat itu digambarkan proses pembuatannya. Adalah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat meminta kepada tiga pujangga, yaitu Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura, untuk menuliskan sebuah cerita. Bentuknya berupa tembang bermuatan ilmu dan ngelmu Jawa.

Penulisan cerita itu merupakan 'proyek' empirik. Tiga pujangga tadi dibekali selaksa ringgit emas untuk berkelana ke Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan hingga Mekah. Mereka menghimpun kearifan, sekaligus penyimpangannya, para petapa, peramal, empu dan pande besi, pesulap, penyamun, ulama perempuan, dalang, penafsir mimpi, sampai paria.

Penulisan dimulai pada Sabtu Pahing, 26 Muharram 1230 Hijriah, atau 1742 tahun Jawa (1809 Masehi), pada wuku Marakeh. Di bawah naungan Dewa Hyang Surenggana.

Serat Centhini atau berjudul resmi Suluk Tambangraras diawali dengan kehancuran kekuasaan Giri oleh Mataram.

Pada tembang delapan digambarkan; suatu malam hujan berat, Pangeran Surabaya sendirian datang menghadap ke serambi masjid Giri. Pangeran Pekik namanya, dan dia berujar: "Wahai Sunan Giri, dengarkan baik-baik perkataanku. Sultan Agung adalah raja Tanah Jawa. Gusti Jagad di atas jagad, beliau memerintah dengan sangat santun, bijaksana, dan sesuai dengan hukum Allah serta sakti. [...] Bila kamu benar-benar menginginkan kedamaian dan kemakmuran bagi Kerajaan Giri, bersujudlah kepada Sultan Agung..."

Dari sinilah kisah dimulai. Sunan Giri menolak, perang pecah, Giri takluk dan tiga putranya bernama Jayengresmi, Jayengsari dan Rancangkapti, memilih untuk melakukan perjalanan spiritual.

Dalam perjalanan itu, mereka memperolah pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dua puluh, Hadis Markum, hingga perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa.

Kesemua yang diperoleh itu bisa dicernai lewat 722 tembang. Tentu butuh waktu untuk mencernanya, apalagi jika masih dalam bahasa aslinya; Jawa. Ringkasannya berbahasa Indonesia sudah diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1981. Begitupun 12 jilid pernah diterbitkan oleh Yayasan Centhini, dan tiga jilid pertama diterbitkan lagi oleh Balai Pustaka pada 1991.

Belakangan seorang kontributor suratkabar Prancis, bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis, berjudul Les Chants de l'ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

Bahan dasar yang digunakan perempuan Prancis yang lebih 10 tahun bermukim di Indonesia itu adalah dari bahasa Jawa ke Indonesia yang diterjemahkan oleh Sunaryati Sutanto. Uniknya dari Prancis dikembalikan ke bahasa Indonesia dengan judul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi. Bagian awal dari buku itu diberi judul Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, yang baru diterbitkan Galang Press.

Unsur Islam

Mengangkat kisah Sunan Giri tentunya tak bisa melewatkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Coba perhatikan tembang ke-71 (yang dikutip dari Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan) berbunyi :"Amongraga (nama baru Jayengresmi) undur diri pergi ke masjid sendirian, dia melakukan salat sunat hajat dan sunat tahiyyatul masjid, dua belas rakaat berturut-turut. Hatinya menjadi tenang, usai memberi salam kepada dua malaikat yang berdiam di kiri-kanan pundaknya, dia kembali ke zaman tengah..." (hal.72)

Bahkan pada tembang ke-92 jelas-jelas memuji kebesaran Allah. "...Kepala mereka bergoyang-goyang seirama kenangan: La Ilaha Illalah, La Ilaha Illalah, La Ilaha Illalah. La bergetar di pusar, Ilaha membuka dan naik sisi kiri, ke bahu, Illa menerobos ke mata, Allah menabrak jantung dalam satu nafas panjang dan membanjiri sekujur anggota badan hingga ujung jari dan rambut. Nafas meninggalkan jantung yang seolah terurai, dan tubuh diam serupa batang pohon kelapa." (Hal 128)

Dari 113 tembang yang ada pada buku 'prasaji' ini, akan terlihat bahwa ritual shalat senantiasa diulang-ulang dalam setiap narasi. Penggubah terkesan ingin menggiring pencitraan pembaca kepada pelaku-pelaku taat agama atau meminjam kategorisasi Clifford Geertz dalam Religion of Java (1976), para pelaku itu tergolong 'santri'.

Mereka bukanlah 'abangan' karena memang bobot Islam lebih besar ketimbang kejawaan. Meski begitu, indentitas santri dan kejawaan itu bukan untuk saling mengalahkan sehingga memicu kerisauan. Keduanya justru bersanding tanpa kerisauan.

Barangkali fakta itu masuk ke dalam konsep sinkretisme. Dalam konteks ini yang mencolok dari Serat Centhini adalah Islam tidak lagi tampil sebagai wujud aslinya, tetapi sudah tercampur unsur eksternal. Telah terjadi percampuran unsur lokal Jawa dan Islam. Sinkretisme yang mewarnai Islam menjauhkan kemurnian sebagaimana dari asalnya di Timur Tengah.

Menyoal kemurnian Islam ini, mengingatkan akan dikotomi gagasan "Islam Pribumi" sebagai jawaban dari "Islam Otentik" dan "Politik Identitas Islam" yang ingin melakukan proyek Arabisasi di dalam setiap komunitas Islam di seluruh penjuru dunia. "Islam Pribumi" dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekaragaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda.

Abdurrahman Wahid disebut sebagai pengusung gagasan "Pribumisasi Islam". Dalam pandangan Gus Dur "Pribumisasi Islam" menggambarkan bagaimana Islam sebagai ajaran normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Kata Gus Dur: "Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah adalah tercabutnya dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan..." (dalam Islam Pribumi, 2003).

Serat Centhini sebenarnya sebuah khabar atas "Pribumisasi Islam" dimaksud. Merujuk kepada pemikiran antropolog Islam Akbar S. Ahmed, Islam yang bertemu dengan unsur lokal itu menyebabkan ekspresinya beragam. Islam menjadi akomodatif tanpa meremehkan kebudayaan lokal.

Uniknya, kendati ritual shalat mewarnai narasi, ritual menjelang senggama bukan persoalan tabu. Empat puluh malam Amongraga dan istrinya, Tambangraras, melewati ritual menjelang senggama, tetapi tanpa mencapai ekstasi. Empat puluh malam tanpa bersetubuh, hanya wejangan dalam ketelanjangan dan kegerahan Centhini, sebagai abdi pasangan itu.

Ritual itu tetap dijaga dalam kesakralan. Seperti dalam tembang ke-81, yang diawali dengan kalimat, "...di haluan ranjang, Tambangraras membiarkan kaki telanjangnya terbuka dan berkata...oh, apiku!, lihatlah betapa dahaga daku akan ilmu Kakanda, tubuhku bagai tanah kering merekah, terbelah. Turun hujan pertama, basah kuyup dia, mabuk air..." (hal.100).

Satunya hujan, pada tembang ke-113, ekstasi itu tercapai. "Bulan menuju malam, Amongraga meniduri Tambangraras di ranjang bidadari dan membanjiri tubuhnya dengan air mata. Mereka mulai main asmara yang langka, tanpa aturan atau tujuan, tanpa kalah atau menang. Beberapa saat menjelang subuh Tambangraras terlena dalam sanggama." (hal.173).

Sesungguhnya kesyahduan 'satunya hujan' ini akan lebih terasa jika tembang itu dilantunkan dalam aslinya. Pejamkan mata, tembang dicerna, maka imajinasi melayang-layang sampai merengkuh puncak kepuasan. "Yang terdengar dan yang terasa" akan beda dengan "yang terbaca, yang tidak selalu terasa". Atas dasar ini, menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Indonesia merupakan satu keberanian.

0 komentar:

Poskan Komentar

Rabu, 13 Juli 2011

serat centhini

Serat Centhini merupakan karya penting dalam khasanah sastra Jawa. Pada tembang pertama serat itu digambarkan proses pembuatannya. Adalah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat meminta kepada tiga pujangga, yaitu Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura, untuk menuliskan sebuah cerita. Bentuknya berupa tembang bermuatan ilmu dan ngelmu Jawa.

Penulisan cerita itu merupakan 'proyek' empirik. Tiga pujangga tadi dibekali selaksa ringgit emas untuk berkelana ke Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan hingga Mekah. Mereka menghimpun kearifan, sekaligus penyimpangannya, para petapa, peramal, empu dan pande besi, pesulap, penyamun, ulama perempuan, dalang, penafsir mimpi, sampai paria.

Penulisan dimulai pada Sabtu Pahing, 26 Muharram 1230 Hijriah, atau 1742 tahun Jawa (1809 Masehi), pada wuku Marakeh. Di bawah naungan Dewa Hyang Surenggana.

Serat Centhini atau berjudul resmi Suluk Tambangraras diawali dengan kehancuran kekuasaan Giri oleh Mataram.

Pada tembang delapan digambarkan; suatu malam hujan berat, Pangeran Surabaya sendirian datang menghadap ke serambi masjid Giri. Pangeran Pekik namanya, dan dia berujar: "Wahai Sunan Giri, dengarkan baik-baik perkataanku. Sultan Agung adalah raja Tanah Jawa. Gusti Jagad di atas jagad, beliau memerintah dengan sangat santun, bijaksana, dan sesuai dengan hukum Allah serta sakti. [...] Bila kamu benar-benar menginginkan kedamaian dan kemakmuran bagi Kerajaan Giri, bersujudlah kepada Sultan Agung..."

Dari sinilah kisah dimulai. Sunan Giri menolak, perang pecah, Giri takluk dan tiga putranya bernama Jayengresmi, Jayengsari dan Rancangkapti, memilih untuk melakukan perjalanan spiritual.

Dalam perjalanan itu, mereka memperolah pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dua puluh, Hadis Markum, hingga perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa.

Kesemua yang diperoleh itu bisa dicernai lewat 722 tembang. Tentu butuh waktu untuk mencernanya, apalagi jika masih dalam bahasa aslinya; Jawa. Ringkasannya berbahasa Indonesia sudah diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1981. Begitupun 12 jilid pernah diterbitkan oleh Yayasan Centhini, dan tiga jilid pertama diterbitkan lagi oleh Balai Pustaka pada 1991.

Belakangan seorang kontributor suratkabar Prancis, bernama Elizabeth D. Inandiak, berhasil menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis, berjudul Les Chants de l'ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

Bahan dasar yang digunakan perempuan Prancis yang lebih 10 tahun bermukim di Indonesia itu adalah dari bahasa Jawa ke Indonesia yang diterjemahkan oleh Sunaryati Sutanto. Uniknya dari Prancis dikembalikan ke bahasa Indonesia dengan judul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi. Bagian awal dari buku itu diberi judul Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, yang baru diterbitkan Galang Press.

Unsur Islam

Mengangkat kisah Sunan Giri tentunya tak bisa melewatkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Coba perhatikan tembang ke-71 (yang dikutip dari Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan) berbunyi :"Amongraga (nama baru Jayengresmi) undur diri pergi ke masjid sendirian, dia melakukan salat sunat hajat dan sunat tahiyyatul masjid, dua belas rakaat berturut-turut. Hatinya menjadi tenang, usai memberi salam kepada dua malaikat yang berdiam di kiri-kanan pundaknya, dia kembali ke zaman tengah..." (hal.72)

Bahkan pada tembang ke-92 jelas-jelas memuji kebesaran Allah. "...Kepala mereka bergoyang-goyang seirama kenangan: La Ilaha Illalah, La Ilaha Illalah, La Ilaha Illalah. La bergetar di pusar, Ilaha membuka dan naik sisi kiri, ke bahu, Illa menerobos ke mata, Allah menabrak jantung dalam satu nafas panjang dan membanjiri sekujur anggota badan hingga ujung jari dan rambut. Nafas meninggalkan jantung yang seolah terurai, dan tubuh diam serupa batang pohon kelapa." (Hal 128)

Dari 113 tembang yang ada pada buku 'prasaji' ini, akan terlihat bahwa ritual shalat senantiasa diulang-ulang dalam setiap narasi. Penggubah terkesan ingin menggiring pencitraan pembaca kepada pelaku-pelaku taat agama atau meminjam kategorisasi Clifford Geertz dalam Religion of Java (1976), para pelaku itu tergolong 'santri'.

Mereka bukanlah 'abangan' karena memang bobot Islam lebih besar ketimbang kejawaan. Meski begitu, indentitas santri dan kejawaan itu bukan untuk saling mengalahkan sehingga memicu kerisauan. Keduanya justru bersanding tanpa kerisauan.

Barangkali fakta itu masuk ke dalam konsep sinkretisme. Dalam konteks ini yang mencolok dari Serat Centhini adalah Islam tidak lagi tampil sebagai wujud aslinya, tetapi sudah tercampur unsur eksternal. Telah terjadi percampuran unsur lokal Jawa dan Islam. Sinkretisme yang mewarnai Islam menjauhkan kemurnian sebagaimana dari asalnya di Timur Tengah.

Menyoal kemurnian Islam ini, mengingatkan akan dikotomi gagasan "Islam Pribumi" sebagai jawaban dari "Islam Otentik" dan "Politik Identitas Islam" yang ingin melakukan proyek Arabisasi di dalam setiap komunitas Islam di seluruh penjuru dunia. "Islam Pribumi" dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekaragaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda.

Abdurrahman Wahid disebut sebagai pengusung gagasan "Pribumisasi Islam". Dalam pandangan Gus Dur "Pribumisasi Islam" menggambarkan bagaimana Islam sebagai ajaran normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Kata Gus Dur: "Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah adalah tercabutnya dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan..." (dalam Islam Pribumi, 2003).

Serat Centhini sebenarnya sebuah khabar atas "Pribumisasi Islam" dimaksud. Merujuk kepada pemikiran antropolog Islam Akbar S. Ahmed, Islam yang bertemu dengan unsur lokal itu menyebabkan ekspresinya beragam. Islam menjadi akomodatif tanpa meremehkan kebudayaan lokal.

Uniknya, kendati ritual shalat mewarnai narasi, ritual menjelang senggama bukan persoalan tabu. Empat puluh malam Amongraga dan istrinya, Tambangraras, melewati ritual menjelang senggama, tetapi tanpa mencapai ekstasi. Empat puluh malam tanpa bersetubuh, hanya wejangan dalam ketelanjangan dan kegerahan Centhini, sebagai abdi pasangan itu.

Ritual itu tetap dijaga dalam kesakralan. Seperti dalam tembang ke-81, yang diawali dengan kalimat, "...di haluan ranjang, Tambangraras membiarkan kaki telanjangnya terbuka dan berkata...oh, apiku!, lihatlah betapa dahaga daku akan ilmu Kakanda, tubuhku bagai tanah kering merekah, terbelah. Turun hujan pertama, basah kuyup dia, mabuk air..." (hal.100).

Satunya hujan, pada tembang ke-113, ekstasi itu tercapai. "Bulan menuju malam, Amongraga meniduri Tambangraras di ranjang bidadari dan membanjiri tubuhnya dengan air mata. Mereka mulai main asmara yang langka, tanpa aturan atau tujuan, tanpa kalah atau menang. Beberapa saat menjelang subuh Tambangraras terlena dalam sanggama." (hal.173).

Sesungguhnya kesyahduan 'satunya hujan' ini akan lebih terasa jika tembang itu dilantunkan dalam aslinya. Pejamkan mata, tembang dicerna, maka imajinasi melayang-layang sampai merengkuh puncak kepuasan. "Yang terdengar dan yang terasa" akan beda dengan "yang terbaca, yang tidak selalu terasa". Atas dasar ini, menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Indonesia merupakan satu keberanian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms